PENDEKAR TANPA TANDING

PENDEKAR TANPA TANDING
57. AKHIR SEBUAH PERANG.


__ADS_3

Kakek Sunan Dan Tetua Tang Terlempar Jauh saat Kakak tertua sekaligus Pemimpin tertinggi dari 12 Pendekar dewa mengeluarkan Kekuatan Elemen anginnya dengan tenaga dalam yg sangat besar.


"Uhuk,, Tak kusangka dia sekuat ini". Kakek Sunan memuntahkan darah.


"Aku Tak menyesal membela kebenaran dan harga diri kerajaan Nusan". Tetua Tang Seakan mulai pasrah.


"Kakak,, Kita harus mundur". Teriak Nenek Tua saat muncul di belakang Pemimpin Tertinggi.


"Adik,, Apa yg terjadi,, mana yg lainnya".


"Seorang Bocah Telah mengacaukan peperangan dan berhasil membunuh Si Burung Api". Nenek tua berbicara dengan terburu-buru.


"Kak,, Anak itu mungkin Lebih kuat Darimu, Dia Telah Membunuh Adik ke 10". Sepasang Pendekar juga muncul di dari belakang.


"Apaaa? Si Tanah liat juga mati". Pemimpin itu kaget ucapan Pendekar pria yg muncul dgn pasangannya membuat ia menelan ludah.


Kon Akhirnya sampai di tengah padang rumput.


"Guru, Apa kalian berdua baik-baik saja". Yan Sin melompat dari punggung Kon.


"Nak, mengapa kamu masih disini,, cepat Mundur biarkan kami menahan mereka". Teriak Kakek Sunan, Ia tak percaya kalau muridnya masih ada yg selamat.


"Tenanglah guru, Aku akan membuat mereka membayar semuanya". Tenaga Dalam Yan sin Kali ini di lepaskan sepenuhnya. Membuat Pemimpin Musuh Menggerutkan dahi.


"Kak,, Bocah Ini bisa mengendalikan Naga, Dia juga Mengerti Aturan Alam dan Ruang". Pendekar yg mengunakan sihir muncul dari sebuah gerbang.


"Kakak Ke 3 dan Ke 5 meninggalkan padang rumput sisanya telah di kalahkan". Penyihir itu menambahkan.


"Tenaga Dalamnya luar biasa,, Kalian juga Cepat Tinggalkan Perang ini dan Jangan terlibat dengan Aliansi Kerajaan lagi untuk sementara waktu. Aku Akan menahanya sebisa mungkin". Pemipin 12 pendekar dewa Mulai berkeringat dingin merasakan Tenaga dalam Yan Sin. Jarak yg cukup jauh membuatnya yakin dapat bertahan tapi tidak untuk menang.


"Jadi ini yg membuat dia bisa menahan Meteor itu sewaktu bayi". Gumam Tang Yuan dalam hati.

__ADS_1


"Mengapa dia bisa mengontrol kekuatan sebesar ini". Kakek Sunan Membuka suara. Ia mulai duduk bersila untuk mempercepat penyembuhannya.


"Senior,, kurasa ini menjawab semua pertanyaan kita selama ini, Dia berdiam diri untuk belajar mengendalikan Kekuatannya". Tetua Tang Berdiri kembali, Berkat Kelima Kitab yg mereka pelajari ia akhirnya berangsur membaik.


Dari Arah Depan Pemimpin Musuh berusaha Menyerang, mengunakan Berbagai Elemen dan Jurus serta Spirit. Namun Tak Membuat Yan Sin Bergeming.


Ke 4 Bawahannya telah Memasuki gerbang yg di buat salah satu dari mereka.


Yan Sin Mulai mengumpulkan Energi Alam dan memasukkannya pada pedang Hitam.


☆Jangan membunuhnya Aku perlu roh dan Tenaga dalamnya untuk Membangun Istana di dalam Duniaku☆. Kitab hitam keluar dan Mulai Menarik Pemimpin musuh.


¤Haaa,, Kamu curang,, Aku juga menginginkanya Untuk balaskan dendam Tuanku dulu¤


"Bara, Lupakan Tentang dendammu, toh dia juga tetap akan Mati, jadi lebih baik, Jika dia sedikit berguna". Yan Sin Mulai Rileks. Pemimpin musuh malah terus mengeluarkan Tenaga dalam tinggi dan menyebabkan ledakan dasyat.


☆Haha,, bermimpilah untuk menang,, Aku telah menantikan pendekar sekuat kamu, Selama Ribuan Tahun untuk memperbesar Dimensi ruang serta membangun istana kecil di dalamnya☆.


Pedang Hitam Terus menebas lapisan pelindung yg di miliki Pemimpin 12 pendekar Dewa.


Kon Melempar bulu-bulunya dengan kecepatan tinggi. Bulu itu mengeras membuatnya terlihat bagai pedang yg sangat tajam.


Mereka Bertiga berkerja sama untuk menaklukan pemimpin musuh.


"Ini pertama kalinya ada pendekar yg berhasil menyudutkanku". Tenaga pemimpin musuh itu mulai melemah.


"Nak,, Tolong beritahu aku namamu,, jadikan itu Sebagai hadiah untukku, Dan untuk gantinya, terima Gulungan ini". Pemimpin itu Melempar sebuah gulungan dan Sebuan buku kecil.


"Yan Sin".


"Yan Sin, Jangan tenggelam kedunia Hitam sepertiku". Pemimpin musuh itu akhirnya menyerah dan Tersedot masuk kedalam Kitab Hitam.

__ADS_1


"Jangan Lupa, Buat penjara yg lebih kuat lagi di dalam Dunia Kitabmu itu". Yan Sin menghela nafas. Kon Mengecil dan Pedang hitam kembali ke dalam jubah Yan Sin.


"Anak ini mengerikan". Gumam Kakek Sunan dalam hati. Ia Hanya mampu mengigit lidahnya.


"Kita Berdua bahkan tak bisa mendekati Pendekar itu, Anak ini malah mengalahkannya dengan cepat". Bisik Tetua Tang.


"Guru,,Tolong Rahasiakan semua ini dan Segera bagikan ini pada seluruh pendekar yg masih hidup, mereka telah Ku pindahkan ke Ruang pengobatan". Tetue Tang hanya mengangguk dan Kakek An Mengambil botol kecil yg di berikan Yan Sin.


"Syukurlah kukira mereka semua telah tewas akibat ledakan tadi". Tetua Tang menghembuskan nafas panjang.


"Berikan ini juga Pada Nagin, dan Jika Raja Hutan Kegelapan menyulitkan kalian Nanti Berikan Sisik ini padanya". Yan Sin Mengeluarlan sebuah Gulungan dan Sebuah kantong berwarna hitam.


"Raja Hutan,, dari mana anak ini mengetahuinya". Guma Kakek Sunan dalam hati.


"Bangunlah Perguruan besar, di Sekeliling Gua Cahaya, Buat Gerbang perguruan Di Depan Hutan Kegelapan". Yan Sin kembali memberi sebuah Gulungan berisi gambar.


"Nak, apa maksud semua ini?". Kakek Sunan menatap Yan Sin dalam-dalam.


"Aku Harus memberi pelajaran pada Keempat kerajaan,, Kemarin aku hanya bisa diam memandangi mereka merusak Negri dan tanah kita,, tapi saat ini mereka sudah bertindak berlebihan dan menganggap kita sampah yg mudah di bakar".


"Jangan Memaksakan diri,, jumlah mereka tak sedikit, Tunggulah sampai kekuatan kami pulih kembali dan kita serang bersamaan". Ucap Tetua Tang.


"Aku punya rencana lain Guru,Tolong Jagalah keluarga ini agar tetap utuh, Ajari para murid agar menjadi lebih kuat lagi dan biarkan seluruh Benua mengetahui kekuatan kita, Mari Buat Seluruh Benua Menghargai Perguruan Nusantara".


"Aku Tau Niatmu adalah menuntuk keadilan dan berpetualang menemukan penjahat yg menghancurkan tanah kita, Tapi kembalilah saat kau merindukan keluarga". Ucap Kakek An.


"Baik Guru".


"Meski kekuatanmu luar biasa, tapi Jangan pernah Lupakan ilmu dan jurus dari seluruh perguruan yg pernah di ajarkan padamu". Tetua Tang Melepaskan topi Bambu di kepala Yan Sin.


"Aku Akan mengingat kata-kata Guru".

__ADS_1


Kon Kembali Membesar, Yan sin melompat ke punggung kon dan Merekapun Terbang menjauh dari Padang Rumput.


__ADS_2