PENDEKAR TANPA TANDING

PENDEKAR TANPA TANDING
36. HANTU.


__ADS_3

Setelah Pembagian Selesai,,Semuanya bergerak mengerjakan tugas Masing-masing.


Kakek An mulai mengeluarkan Sebuah gambar Struktur bangunan sementara Tetua Sio mengunakan Kekuatannya untuk Membuat dinding dari tanah sedangkan Dua Tetua pedang Kembar mulai menyusun Formasi elemen Sihir untuk memperkuat dinding yg dibuat Tetua Sio.


Di Pojok Kanan terlihat Tetua Han Dan Tetua Hen sedang Memandu Beberapa Penduduk biasa yg selamat dari bencana penyerbuan.


Dango Dan Tetua Bio sedang Membuat kerangka Atas sedangkan Simon dan Law Asik Membantu sambil sesekali bercakap-cakap.


Randy dan beberapa Pendekar Seumurannya yg terdiri dari berbagai perguruan Larut dalam Pekerjaan Pertanian.


Lery dan Nona Mey Sibuk membuat persiapan Menu masakan.


Para Pengawas Perburuan serta anggotanya mulai keluar dari dinding Sihir.


Bima melangkah keluar dinding sihir, Ia Membawa Sebuah Kantong Ruang yg serupa dengan pemberian Kakek SunAn untuk Tugas tambahan Yan Sin.


Dua Anak yg kira-kira seumuran dengan Yan Sin 3 atau 4 tahun Asik bermain,,mereka seakan lupa Tentang keluarga yg tewas di bantai.


Seorang Penduduk Wanita Sedang Menyusui bayinya, perlahan Air mata kembali menetes di pipinya. Terkenang Almarhum Suaminya yg gugur demi menyelamatkan mereka berdua.


Tetua Tang Dan Tetua Shaman mengikuti langkah Penyihir Tua dari belakang,,Perlahan ketiganya mulai Tak terlihat lagi.


Yan Sin Masih memandangi Sekitar,,Hatinya Bercampur aduk Antara Sedih senang dan Bingung.


"Nak Kamu Tak lupa kan Sama tugas yg di berikan oleh para Kakek tadi?" Kakek An yg melihat Yan Sin Memperingatkan. Yan Sin Hanya membungkuk Lalu Berlari Menuju arah Timur untuk melaksanakan tugas.


Kon Berubah saat keluar dari dinding Sihir dan Yan Sin Melompat ke punggung Kon.


^^Bos Sebaiknya kita berpatroli dulu sebelum melakukan tugas^^.


"Lakukan sesukamu,,Tapi aku ingin mencari tempat Untuk berbaring Sambil Belajar menyempurnakan Kekuatan 3 Roh di Tubuhku".


^^Siap Bos^^.

__ADS_1


Beberapa menit Kemudian Yan Sin Melompat Turun. Sementara Kon Terus berpatroli.


Saat Matahari Persis di atas kepala Yan Sin yg Tertidur di kagetkan oleh Sebuah pertempuran.


Terlihat puluhan pendekar dengan Level yg berbeda-beda maju bergantian Menyerang Seorang pemuda Berumur 40an.


"Hitam Cepat Bangun dan Lihat pertarungan di bawah". Yan Sin Mengunakan Ucapan dalam Hati untuk membangunkan Pedang Hitam.


¤Dimana Burung Bodoh itu,,,Dia yg meminta untuk patroli malah melewatkan banyak musuh di Sini¤.


"Lupakan dia sekarang Kita harus menolong pendekar itu".


¤Hey Nak Apa kamu Lupa kekuatannya,,,Dia Adalah pemilik Kekuatan Cahaya,,,pendekar Level Legenda Ataspun akan Segan melawannya satu lawan satu,,,kalau hanya kumpulan nyamuk kecil seperti ini,,pasti bukan apa-apa baginya¤.


"Hmmm,,benar juga,,tapi ini adalah tugasku untuk menjaga Dinding sihir".


¤Benar,,, Tapi inikan Masih sangat jauh dgn dinding sihir¤.


"Sudahlah,,Kita lihat dulu,,Jika dia butuh bantuan maka kau tau kan apa yg seharusnya di perbuat".


"Matahari Beri aku Cahayamu". Bima mengucapkan beberapa kata dengan sangat pelan.


Cahaya memenuhi gelapnya hutan, Beberapa pendekar Berjubah Ungu,, masih sempat mundur sedangkan Sisanya Hangus terbakar.


¤ternyata dia menahan diri sewaktu di arena Kontes lalu¤. pikir pedang hitam.


"Cahaya beri aku kekuatanmu". Bima bergerak Cepat sambil mencabut Pedangnya,, dua Pendekar Level Master Tak kuasa menahan serangan cepat itu. Bima masih bergerak cepat,,Perpaduan tendangan dan Tebasan pedang sangat merepotkan musuh di tambah dgn kecepatan yg luar biasa.


Menyadari situasi mereka yg terpojok,,Salah Satu pendekar membunyikan sebuah Pluit yg terbuat dari Bambu kuning.


Di Balik gelapnya Hutan Samar-samar Ratusan Langkah kaki menuju ke arah pertempuran.


Menyadari itu Gerakan Bima terhenti. Sebuah Panah melesat cepat ke arahnya. Bima tak sempat mengelak. dan hanya mengunakan pedangnya untuk menangkis serangan itu. Bima terseret jauh saat menahan anak panah itu.

__ADS_1


"Hahaha,,Akhirnya Aku menemukan lawan yg menarik". Seorang Pendekar Berjubah Ungu Tua Tertawa dari atas pohon.


"Anak muda,,Aku akan membiarkanmu hidup jika engkau menunjukan persembunyian Orang-orang Kerajaan Nusan". Seorang Kakek Tua yg rambut atasnya telah habis dan seluruh rambutnya sudah memutih.


"Senior,,,Jangan berharap aku akan menjual Saudara-saudaraku hanya demi sebuah nyawa". Bima Tak gentar milihat Ratusan Musuh,,namun Hati kecilnya sejak tadi telah ragu.


"Pendekar Gila Seperti kalian,,cukup berani menginjakkan kaki di Hutan Kegelapan ini". Salah satu Pendekar Tua yg berambut hitam pendek dengan kumis tebal maju kedepan.


"Saudara seperguanku Banyak yg mati di sini". Seorang pendekar Dengan bekas luka di wajahnya terlihat memikirkan masalalu.


Bima Berfikir tak akan selamat dan dia tak mungkin kabur ke Persembuyian mereka karena akan membahayakan seluruh saudara-saudaranya.


Lima pendekar Level Legenda maju bersamaan untuk Menekan Bima. Pergerakan Bima mulai terbatas,,Ia membaca mantra Cahaya lalu bergerak cepat untuk mengimbangi kelima musuhnya sementara Ratusan Pasukan musuh asik menonton.


"Mau Bertaruh Berapa lama pemuda itu akan bertahan". Seorang Pendekar mengeluarkan Koin emas miliknya.


"Aku yakin Hanya 5 menit". Salah satu pendekar menyodorkan taruhanya. di ikuti beberapa pendekar lainnya.


Yan Sin Geram Melihat tingkah para pendekar yg bertaruh untuk nyawa orang lain.


"Api Hitam, Petir hitam, Angin Mengamuk, Gelombang Lautan, Lubang Kematian, Terbukalah". Yan Sin Melompat ketengah gerombolan musuh. Api Hitam membakar Puluhan Musuh sementara Petirnya tak henti-hentinya menyambar, Gelombang Air menekan kekuatan lawan, lalu sebuah Lubang persegi Empat yg sangat besar mulai menyedot puluhan pendekar.


Pedang Hitam Menari-nari di leher para pendekar, Semakin banyak nyawa yg di rengutnya semakin pekat pula warna hitamnya.


"Hantuuuuuu" Banyak pendekar yg berteriak ketakutan melihat Topi Bambu berwarna hitam milik Yan Sin yg seakan melayang di udara.


Beberap pendekar Master tak dapat bergerak karena ketakutan. Yan Sin Mengunakan Jurus perubah wujud dan berubah Menjadi Topi bambu berwarna hitam untuk menyembunyikan keberadaannya.


Yan Sin Memerlukan lima Menit untuk menyapu bersih Seluruh musuh. Sedangkan pedang Hitam masih bergerak cepat menghabisi sisa-sisa musuh. Lubang persegi yg terbuka terus menyedot mayat-mayat yg berserakahan, Sedangkan api hitam hanya menyisahkan tulang belulang.


"Menyeralah anak muda Kau tak akan Bisa mengalahkan Kami sem". Belum Habis kalimat yg di ucapkan oleh pendekar Yg memiliki bekas luka di wajahnya. Kepala Telah terpisah dari lehernya.


Pendekar yg berkumis dan Kakek Tua yg botak atas mundur seketika,,Mereka menyadari tanda bahaya.

__ADS_1


Pendekar Penguna panah terpukul mundur oleh tendangan kaki kanan Bima. Sementara satu pendekar lainnya masih bertukar serangan dengan bima.


"Nak Kami memiliki Ratusan Pasukan,, mustahil Kalian dapat melawan kami jadi menyerahlah". Orang Tua sepuh yg terus bertukar serangan dengan Bima Tak Menyadari Jumlah mereka yg Kini tinggal ber 4.


__ADS_2