
Hari-hari berlalu secepat angin yg berhembus. Tak terasa, kini genap dua bulan para pendekar melakukan pelatihan.
Yan Sin Telah menguasai sebagian besar isi ke lima kitab yg ada dalam fikirannya, Namun belum bisa membuka Kitab Hitamnya.
Dari kejauhan, di tengah padang Rumput, sekelompok Pasukan berkuda terlihat mengamati.
"Komandan apa kita akan masuk kehutan gelap itu atau mengutus seseorang". Seorang Pendekar Berumur 40an pertanya pada Seorang Komandan yg mengubakan Zirah Perak.
"Tuan Pendekar,,Sebaiknya kita gunakan rencana kedua untuk mengirim Surat". Komandan itu melepaskan seekor merpati. Lalu membuat kudanya berputar arah, kemudian menjauh dari hutan, di susul oleh pendekar dan para prajurit di belakangnya.
¤Mmmm, para pengecut itu, Tak berani mendekati Hutan ini¤
^^Bos,,Merpati itu hendak mengantarkan sesuatu,, akan ku mangsa dia^^.
¤Bodohhh,,jangan membuatnya takut atau mangsanya,,dia membawa sesuatu yg penting¤
Merpati itu menjatuhkan Surat di kakinya, saat menyadari keberadaan Kon.
Melihat itu Kon Terbang menangkap Surat itu lalu kembali pada Yan Sin.
¤Segel apa itu,,Aku baru kali ini melihatnya¤
"Aku tak tau,,sebaiknya kita segera kembali untuk melapor,,Lagian ini sudah Sore,,Tak Akan ada yg datang". Yan Sin Melempar Bulu Milik Kon kemudian melompat, sedangkan Elangnya terbang kebawah dan berubah menjadi besar Lalu memberikan pungungnya untuk di kendarai Yan sin.
Seluruh pendekar Terlihat Kelelahan akibat latihan yg baru selsai mereka jalani.
"Senior Sun,,Bagaimana pelatihanmu hari ini" Kakek An membuka percakapan.
"Kurasa kekuatanku saat ini setara dengan Si Tua gila itu dulu,,Bagaimana denganmu?".
"Aku mungkin masih Berada di bawah Senior,,Tapi Aku Berhasil menembus Level Dewa"
__ADS_1
"Bagus Bagus,,Dengan kekuatan barumu, Aku bisa Menyerahkan Orang itu padamu nanti".
"Siapa yg Senior maksud?"
"Dia bisa Merusak Dinding sihir yg ku buat Untuk melindungi Kerajaan"
"Jadi, Tua bangka itu juga terlibat". Kedua Kakek itu membayangkan orang sama.
"Dulu Aku meminta Saudara Tang untuk menemaniku Menyelidiki Sisa-Sisa Reruntuhan Desa Nipa-Nipa,,Tanpa ku sadari Kerajaan telah Di serang, Namun Sensor Dinding sihirku, berhasil mendeteksi Kekuatan Orang itu. Tapi yg menjadi perhatianku Adalah orang di balik Penyerangan itu, Kurasa dia memiliki kekutan di luar batas penafsiranku".Rambut-rambut di tubuhnya Kakek Sunan seakan berdiri, Saat membayangkan itu.
"Bukankah Dalang Semuanya Adalah 4 Kerajaan".
"Benar,,Tapi Empat kerajaan itu hanya menginginkan Sumber daya yg ada di kerajaan ini,,dan orang-orang yg di belakang Peristiwa itulah pelaku utamanya".
"Sekarang Aku mengerti Mengapa Senior memilih tempat menakutkan ini untuk sembunyi"
"Sebenarnya Aku ingin Membawa semuanya keluar wilayah Nusan,,tapi biar bagaimanapun juga ini tetaplah tanah kita, dan Aku lebih memilih mati di tangan Raja Monster penunggu puncak gunung Hutan Kegelapan, dari pada mati di tangan Orang yg menginjak-injak saudara setanah airku".
"Senior juga percaya cerita kuno itu?". Kakek Sunan hanya mengangguk setelah mendengar pertanyaan Kakek An.
"Kakek, Aku mendapat sebuah Surat dari seekor merpati yg di kirim oleh Sebuah pasukan". Yan sin Menyodorkan Sebuah Amplop surat yg masih tersegel.
Kakek Sunan Membuat Tongkat Sihirnya mengecil lalu mengambil Surat yg di berikan Yan Sin.
"Dugaanku benar, Segel ini menunjukan kebenaran,,Orang itu pasti ingin membangun basis militer yg kuat dan memonopoli Benua Tengah,, serta menjadi penguasa Terkuat di Benua ini" Ucap Kakek Sunan.
"Guru, Apa isi surat itu". Pendekar Vais penasaran.
"Ini sebuah peringatan,,Aliansi 4 Kerajaan ingin kita menyerahkan diri dan bekerja sama di bawah mereka untuk membangun sebuah kerajaan besar di daratan tengah ini"
"Aku tak suduh menjadi anjing pesuruh mereka". Ucap Tang San.
__ADS_1
"Aku juga tak akan menghianati Saudara setanah airku yg gugur" Sikap tenang Bima Menjadi Berubah mendengar itu.
"Mereka hanya Takut datang Ke hutan ini,,dan membuat surat ancaman buat memancing kita keluar hutan". Tangan Pendekar Vais gemetar menahan amarah. Semua orang yg melihatnya menjadi merinding.
Pendekar Vais adalah Seorang pendekar yg jarang marah dan hanya serius pada Botol araknya,,Beberapa pendekar senior hanya penah melihat dia bertarung santai sambil mabuk dan terkesan tak menghiraukan pertarungannya. Saat di arena Kontes dia hanya mencoba menyerang musuh dengan kondisi stabil. Rambut pendeknya seakan berdiri tegak karena emosinya.
"Bodoooh,,Simpan Emosimu nanti,,apa kamu ingin membunuh para penduduk dengan tekanan itu". Nona Mey Menarik Telinga Vais untuk menghentikan Tekanan mematikan yg memancar di tubuhnya akibat emosi yg meledak-ledak.
"Sayanggg,,Aku hanya bercanda kok,, cepat lepaskan telingaku,,nanti putus loh". Sikap Vais sedikit manja dan tekanannya menghilang.
Semua melihatnya dengan tatapan aneh,,Ada yg ketakutan ada juga yg heran dengan sikapnya pada Nona Mey sedangkan Para Tetua dan Pendekar senior hanya memasang wajah mengejek.
"Semuanya, Harap tenang, ini darurat,,Dalam surat ini, Di tekankan agar kita menyatakan sikap besok atau mereka akan Menyerbu kita dengan Kekuatan penuh". Ucap Kakek Sunan
"Itu artinya mereka sudah menyiapkan Armada tempur selama dua bulan ini dan telah membuat Kamp militer di dekat Hutan ini". Ucapan Tetua Hen Membuat semua orang terdiam.
"Berdasarkan Strategi militer yg biasa di pakai Tentara kerajaan maupun Pendekar,, Mereka butuh Dua hari untuk mengepung jalan Kehutan ini,,,Artinya kita Punya dua hari untuk bersiap atau menyerah". Tetua Hen suka bermain catur kembali menambahkan.
" Aku akan Melawan mereka meski nyawaku taruhanya,,Mereka membunuh Kakakku dan permaisurinya serta membuat putri Sara menderita". Pendekar Bertopeng Emas Meraih pedangnya yg masih dalam sarungnya.
"Aku akan ikut Berperang denganmu"
"Aku juga"
"Aku juga"
"Mereka Harus membayar hutang nyawa yg mereka rengut"
Satu demi satu maju menyatakan keinginannya untuk berperang
"Aku tau Kalian Semua Memendam Bara Kemarahan dalam hati,,Tapi kita Butuh Kekuatan Lebih dan persiapan yg matang".
__ADS_1
~>Aku akan membantu<~.
"Aku menghargai Niatmu,,Tapi peranmu sangat cocok untuk menjaga para penduduk" Ucap Kakek An.