
Gejolak kekuatan Memenuhi Perguruan Pedang Kembar. Terlihat Jelas antusias dan semangat seluruh pengunjung yg hadir dalam perguruan itu. Pintu-pintu ruangan yg berjejeran terasa penuh oleh banyaknya pendekar yg saling mengobrol satu sama lain.
Perguruan Pedang kembar memiliki 4 bangunan utama dan 1 bangunan Khusus Tetua.
Bangunan pertama adalah tempat Para Tamu yg hadir.
Bangunan Kedua adalah Tempat Di mana Arena Kontes Akan di selengarakan
Banguan ketiga adalah Aula Besar yg menjadi kebanggaan Perguruan Pedang Kembar.
Bangunan Keempat Masih misteri.
Bagunan Khusus tetua Sekit Lebih kecil dari bangunan utama. Namun bagunan itulah yg sangat mencolok berhubung posisinya berada di atas bukit, perlu menaiki Sepuluh tangga Kecil yg terbuat dari keramik.
Setelah memasuki Gerbang perguruan mata kita akan di suguhi dengan pemandangan yg menyerupai kerajaan khas timur tengah. Sebuah Ruangan di perkirakan memiliki puluhan kamar sehingga dapat menampung puluhan pendekar. Hal ini memang wajar berhubung Perguruan Pedang Kembar merupakan salah Satu yg terbesar Di kerajaan Nusan.
"YaaaaaaaaaaaaaĆ aaaaaaa"
Suara teriakan memecah langit-langit di bangunan Pertama. Semua mata menoleh ke asal suara.
"Simon berhenti membuat kehebohan, Bukan kah Setiap berkunjung Kesini kamu selalu berusaha mencabut pedang konyol itu" seorang wanita berumur 28 keatas mulai memarahi Simon.
"Benar-benar deh Si muka bulat itu, selalu saja bertingkah bodoh" Lawran memegang kepala seolah pusing melihat tingkah simon.
"Kak Law jangan pedulikan si bodoh itu, sebaiknya kita segera membawa undangan Kontes dan mendaftarkan adik Junior kita" Gadis berambut merah yg mirip seperti Lawran mulai menarik tangan Law.
"Lery berhenti menarik tanganku" Law mencoba melepaskan gengaman tangan gadis itu. "Kakak Bukan Anak kecil lagi tau".
Lery Hanya tersenyum pada kakaknya dan tidak mau melepaskan tangannya.
"Tunggu aku" Simon berteriak pada kedua rekannya. ia terlihat kelelahan setelah menarik Pedang hitam tadi.
__ADS_1
"Dari mana saja klian,,,,bukannya membatu malah asik bermain" Tetua Sio menatap ketiga murid perguruannya itu dengan amarah. "Kalau Tau begini Aku tak akan mengizinkan kalian ikut". Tetua Sio menambahkan.
"Guruuu,, akhirnya kalian tiba juga" Tang San tersenyum pada Tetua Sio.
" Nak bagaimana kabarmu..???" Tetua Sio membalas dgn senyum.
"saya Baik-baik saja Guru". Tang San menjawab dgn malu-malu
"Kakek,,kakek coba lihat Baju Lian,, Bagus kan,,??" Lian memamerkan Bajunya yg berwarna pink pada tetua Sio.
"Cucuku makin cantik saja" Tetua Sio memandang Lian sambil memegang jenggot hitamnya.
Lian tersimpu malu wajahnya sedikit memerah.
"Saudara Law bagaimana kabar kalian berdua" Randy memandang Law dan Simon.
"Baik" Law dan simon kompak menjawab.
"Anuu,,Bagaimana keadaan Dik Lery" Randy menjawab malu-malu terlihat jelas dia memiliki perasaan pada Lery.
"Keadaanku kurang baik, Jantungku berdebar tak karuan" Lery merayu Randy.
"Yeeeeeehhhhh, mulai lagi merayunya, selalu saja seperti ini setiap bertemu Saudara Randy" Simon memotong perbincangan Randy dan Lery.
"Tetua Bio,, Nak Dango bagaimna keadaan kalian" Tetua Sio memandang kedua teman Menantunya.
"Saya baik Tetua,,, Tetua botak ini sepertinya kurang sehat, karna dia terlihat depresi rambutnya tak tumbuh-tumbuh"..
Semua tertawa mendengar itu. sementara Tetua Bio Mulai terlihat marah. Matanya tajam memandang Dango.
"Siapa Bocah imut ini apa dia dari perguruan Elang putih" Lery mencubit Pipi Yan Sin.
__ADS_1
Tetua Sio dan rombongan yg baru bergabung memang Yan Sin dengan tatapan Penuh tanya.
"Sejak kapan bocah ini bergabung Hawa keberadaannya sangat kecil padahal dia memiliki penampilan mencolok apalagi dengan Elang di bahunya". Pikir Tetua Sio dalam hati "Mungkin karna tenaga dalamnya yang sangat tipis". Tetua Sio mncoba menebak-nebak.
"Tetua Sio dan semuanya sebaiknya kita menuju Ke Ruangan yg telah di sediakan" Seorang Jubah putih dengan Lambang Pedang Kembar di Jubahnya mengalihkan perhatian semua mata yg sejak tadi memandangi Yan Sin.
"Tetua Shaman terima kasih atas kerendahan hatimu yg bersedia datang Sendiri menemui kami" Tetua Sio tersenyum Lebar pada pria tua berambut putih dgn sedikit keriput di wajahnya.
"Tetua Sio tak perlu sungkan". Tetua Shaman mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Semuanya melangkah mengikuti Tetua Shaman dari belakang. Sementara Randy masih berjaga di dekat panitia pendaftaran. Lery berjalan sambil menoleh memandangi Randy.
'Suara Ayam mulai memecah langit-langit. Embun pagi berjatuhan Awan kemerahan terlihat indah di ufuk timur'.
Kontes Generasi Harapan akan dimulai hari ini Yan Sin yg sejak tadi terbangun Kini duduk di atas Atap Bangunan. Matanya Asik memandangi panorama Alam, sesekali ia melirik pendekar yg sedang melakukan pemanasan.
Ratusan Ribuan Kaki kini Mulai melangkah ke arah Bangunan Kedua tempat Arena Kontes Akan di adakan.
Yan Sin Merasa Takjuk Ketika melihat Arena Kontes itu. Ini Lebih mirip seperti Stadion mini. Terdapat 10 Arena di dalamnya. Seleksi pada Arena Kontes ini sederhana yang menang pertandingan 1 lawan 1 maka dialah yang berhak lanjut kebabak berikutnya.
Terdapat meja panjang yg menjadi tempat para Petinggi perguruan dan perwakilan kerajaan serta perwakilan Dewan Serikat Pendekar.
Seorang pendekar Berumur 50an Dengan Rambut pendek dengan Botol arak di pinggangnya tiba-tiba meloncat ke tengah Arena.
"Para hadirin sekalian pertama-tama Saya mewakili Dewan mengucapkan Banyak terima kasih atas partisipasi semua perguruan dan semua pendekar yg memberikan kontrisbusinya. Dewan juga mengapresiasi Perguruan Pedang Kembar Karena Bersedia mnjadi tuan Rumah Arena kontes Muda. Semoga dgn di selengarakannya acara ini dapat menjadi harapan baru bagi Dunia persilatan dan kerajaan Nusan kedepannya. Acara ini juga di harapkan dapat membangun silatuh rahmi yang baik antar pendekar dan perguran-perguruan". Perwakilan Dewan itu memberikan kata-kata pembuka.
Trinnnkkk
Seorang pendekar bertopeng Emas terbang menuju Salah satu Arena.
"Wang An dari Perguruan pedang kembar akan mewakili Tuan Rumah melawan Bore dari Perguruan Elang putih, Ini akan menjadi pertandingan pembuka di Arena kontes" Pendekar bertopeng itu memanggil kedua peserta.
__ADS_1