
"Apa yg Senior Vais Lakukan di Sini" Tang San Mengalihkan pandangan Vais pada Nagin.
"Penyihir Tua Bangka itu menyuruhku Menebang Kayu Hitam yg hanya ada di kedalaman Hutan,, Saat aku hendak pulang Sihir peringatan Dari orang Tua sialan itu malah menyala di langit-Langit". Vais masih melirik Nagin yg berada di depan Gara.
"Hoi Hoi Hoi,,,cepat lepaskan tangan kotormu dari gadis cantik itu". Vais memghiraukan Tang San dan berlari menepis Tangan Gara yg sejak tadi tak mau melepaskan Nagin.
"Aku Vais, Siapa Namamu?". Vais mengambil tangan Nagin yg baru terlepas dari Gara. "Nagin". Nagin Menjawab pelan. Ia sedikit Heran, karena menurutnya hampir semua Manusia itu jahat tapi kali ini malah terlalu ramah.
"Aduhhhh, Aku lupa menyalakan Tanda Aman, Agar Para Guru dan pendekar lain tak risiau dan tak perlu datang Ke tempat ini". Vais melepaskan tangannya dari nagin lalu memberi sebuah tanda ke Langi-langit.
"Kita Sebaiknya segera pilang agar tak membuat yg lain khawatir, Tiga Tetua mungkin juga akan Segera Sampai". Vais memandang Seluruh teman-temannya, guna memberi tanda agar segera Kembali.
Seekor Burung elang mengintai dari ketinggian lalu berubah menjadi Bulu saat Semua melangkah pulang.
Nagin Di Paksa ikut mengunakan Rayuan oleh murid-murid perempuan.
Matahari Sudah sejak tadi mengarah ke arah barat, Awan hitam yg menutupinya membuat Hutan kegelapan Semakin gelap.
"Guru itu Kak Tang dan yg lainnya mereka telah kembali". Law yg mengunakan Sayap untuk melihat dari kejauhan memberi kabar.
"Apa yg terjadi dengan Pangeran Nara". Tetua Sio Mencari tau.
"Senior tolong Maafkan aku karena melewati batas yg di tentukan,,aku meminta izin pada Guru Sun untuk mengawasi dan mengajari Pangeran Secara mandiri,,tapi malah mencelakakan Ponakanku sendiri".
"Sudahlah,,Aku tau niatmu baik,,,Cepat Baringkan dia aku Akan mencoba Mengobatinya". Komentar salah satu Tetua Pedang Kembar.
__ADS_1
"Kak Wan,,Bagaimana lukanya" Seorang Tetua yg memiliki wajah yg sama dengan Tetua sebelumnya ikut memastikan. Tetua yg di tanya hanya mengacungkan 3 jarinya. Tetua itu langsung Paham maksud dari ketiga jari itu.
"Wen murid yg lain hanya luka ringan jadi beri mereka obat luka kelas empat". Tetua itu memasukan obat kedalam mulut Nara Mulai membuka mata. Sementara yg di panggil hanya menganguk dan mendekati murid-murid yg Lain.
"Para Guru Telah datang" Simon berlari dari luar dinding sihir sambil meneriakan hal yg sama berkali-kali.
"Nenek Nenek Nenek" seorang anak kecil berlari cepat ke arah Nenek tua yg datang bersama para tetua.
"Cucukuuuu" Nenek tua itu ikut berlari menghampiri Anak kecil yg berlari ke arahnya. Wajah Nenek Tua itu terlihat sangat bahagia.
Dari Depan Pintu seorang ibu yg mengendong bayinya mulai tersenyum kearah nenek tua itu.
"SARAAAAAAAAAAA". Gara tak kuasa menahan air mata, Ia berlari Memastikan keadaan Gadis yg berada di Gendongan Tetua Tang.
Nara yg baru membuka mata berlari sangat cepat seolah terluka sedikitpun. Ia Langsung Memeluk Gadis pucat dan sangat kurus yg baru di turunkan Oleh Tetua Tang.
"Tang Apa yg terjadi pada Putri Sara?" Kakek An Meminta penjelasan.
"Gadis itu bertahan hidup di Ruang Harta Rahasia dan memakan Makan Basi untuk menyambung hidupnya,,,kurasa dia tak akan bertahan lama meski di obati Oh Para Obat Kembar sekalipun". Tetua Tang Menjelaskan.
Mendengar itu Gara dan Nara semakin terpukul.
"Sebulan yg Lalu saat Nak Gara Kembali Kekerajaan untuk memastikan jelas tak akan menemukan Putri,,Karena Ruang Harta itu hanya di ketahui olehku, Raja dan Petapa Gila". Kakek SunAn memberitahu kebenaran.
"Senior Tang Aku akan tetap Mencoba yg terbaik untuk menyembukan sang Putri". Ucap Salah Satu Tetua yg tadi memberikan Pil obat pada pangeran Nara.
__ADS_1
"Kalian Berdua cepat bawa Putri Kedalam Ruang pengobatan dan berhenti Memeluknya seerat itu,,kalian menyakinya tauuuu". Tetua satunya memarahi Gara dan Nara yg masih menangis sambil memeluk Putri Sara.
Keduanya menurut tanpa memberikan komentar.
Pendekar Owen Menghampiri para Tetua. Dia yg bertugas mencatat informasi dan peristiwa penting. Owen Mulai menceritakan seluruh kejadian yg terjadi Empat orang Tua yg duduk di dekat perapian.
Yan Sin yg sejak tadi memperhatikan dari arah pohon hanya Mengunakan Fikiran untuk berkomunikasi dengan Nagin.
"Nak Owen Tolong juga catat tentang Ceritaku yg berkaitan dengan kondisi kota kerjaan saat ini dan Cepat beritahu seluruh Orang untuk berkumpul Sepagi mungkin". Owen mengangguk Saat Kakek SunAn memberitahunya.
Malam Sudah begitu larut. Hampir Semua Pendekar telah terlelap kecuali Bima, Simon, Pendekar Dan serta Tetua Han yg asik memainkan Gambusnya dan menyanyikan Lagu-lagu jenaka untuk menghibur mereka yg sedang bertugas Jaga malam.
Yan Sin perlahan menghilang dalam sebuah lingkaran Hitam. Lalu muncul dalam Ruang Pengobatan. Ia Menatap gadis Kurus dan pucat yg Berambut hitam panjang. Ia membuka gadis mulut Gadis itu Lalu memasukkan setetes darah. Tubuh gadis itu perlahan mulai membaik.
^^Bos bagikan juga sedikit padaku^^
¤Rakus amat Nih burung Bego,,bukan kah baru tadi siang dia di beri makan¤
"Sudalah,,jangan memulai pertengkaran,, Kita sebaiknya segera keluar". Yan Sin Memberikan telunjuknya pada kon,, Burung itu menjilat sedikit sisa darah di ujung jari Yan Sin.
Saat Matahari Sudah terbit di ufuk timur Yan Sin dan Kon Masih tertidur.
"Apa semuanya sudah Hadir". Tanya Owen pada Semua orang yg berkumpul di depannya.
"SARAAAAAAAAA".
__ADS_1
Nara yg baru terbangun sangat kaget melihat tempat Adiknya terbaring kini telah Kosong. Lau ia mengingat sosok berpakaian serba hitam dan mengenakan topi bambu berwarna hitam yg Memasukkan sesuatu di mulut adiknya semalam. Ia Berfikir semalam hanya mimpi tapi kini ia panik bukan main. Ia segera Berlari keluar Ruang Pengobatan.