
Keheningan mengisi suasana Malam yg Begitu dingin, Bintang memenuhi langit.
Suara Para Tetua masih terdengar pelan, Seolah tak ada hari esok untuk untuk bercerita.
Yan Sin duduk Di Atas pohon,,Ketingian adalah tempat favoritnya, Ia Masih Memandangi Gelapnya Hutan. Dia sesekali melirik Rumah yg belum sepenuhnya selsai, Kemudian kembali menatap gelapnya hutan yg searah dengan Gua Cahaya.
^^Bos Apa kamu menyesal bergabung dengan mereka^^. Kon mencari pembahasan.
"Aku Hanya belum siap untuk melindungi mereka semua,,Hati kecilku masih Enggan untuk berbagi Rasa Suka dan duka".
^^Bos Jangan terlalu mempersulit diri,,Kurasa mereka adalah Pelengkap serpihan Kecil di hatimu^^. Kon Memandang Langit yg penuh bintang. ^^Aku Hanya sekali melihatmu terlihat sangat bahagia dan kurasa meraka adalah orang yg sama,, yg Mungkin bisa memberi tawa dalam keseharian Bos^^.
"Haha Ini cerita yg menarik,, Seekor Burung Pemangsa yg tak punya hati berbicara tentang Kasih sayang dan mengunakan kata-kata bijak".
¤Burung Cerewet ini memang sok tau¤
^^Diam Kau pedang Bodoh^^.
"Sudahlah kurasa semuanya sudah tidur,,,Mari kita mengunjungi Nagin".
Fajar mulai naik embun Masih Bertenger pada dedaunan,,Suara burung kecil saling bersahutan.
UUAAAAAAAA.
Bima yg tertidur di atas Sebatang Pohon yg di letakkan dekat perapian mulai Membuka mata dan memutar Pinggang serta meregangkan otot-ototnya. Law yg berada di sebelah perapian juga ikut membuka mata.
"Banguuuuuuuuuuuuuun". Law berteriak di telinga Simon yg sejak tadi terbaring di tanah,, Bekas air liur masih jelas di pipi Simon,, Sementara pipi satunya menyentuh tanah.
Simon yg kaget langsung duduk tetapi matanya masih tertutup rapat.
__ADS_1
"Dasar Pemalas Cepat Bangun" Law Menariknya untuk berdiri tetapi Simon Masih bermalas-malasan.
"Tetua Tang Maaf tidak menyambutmu". Ucap Law. Simon Langsung kaget dan langsung Bangkit.
"Hahaha Tertipu". Law memegang pinggangnya sambil Tertawa.
Simon hanya diam dan jelas melihat Wajah Tetua Tang Sedang memerhatikan mereka dari Depan Pintu Bangunan yg baru jadi.
"Dimana Anak Baru itu" Tetua Tang Mencari keberadaan Yan Sin.
"Kakek,,,Yan Sin di atas sana". Lian Menunjuk Sebuah pohon Besar yg ada di Depan Rumah yg belum Jadi.
Tetua Tang Mengambil batu kecil lalu melempar Yan Sin.
Saat Batu Itu hampir mencapai Yan Sin,,Kon terbangun dan langsung terbang Sementara Yan Sin terjatuh ketanah.
Semua mata tak tertuju pada Yan Sin yg tiba-tiba menghilang Lalu Muncul kembali untuk meraih Topi bambunya yg ikut terjatuh.
"Baiklah Semuanya lengkap,,,Dan para senior silahkan melanjutkan pekerjaan dan Para Murid junior Silahkan Ambil gulungan ini, tapi sebelum itu Aku ingin Seorang yg bisa menyampaikan pesan Secepat Mungkin dan Bisa menjaga di luar Dinding Sihirku". Penyihir SunAn mengeluarkan Beberapa gulungan Mengunakan sebuah Sihir.
"Guru,,,Biarkan Aku yg melakukan Tugas Menjaga dan Mengirim Pesan". Yan Sin memberi tanda Pada Kon untuk segera hinggap di bahunya.
"Tetua Tang,,,Gimana menurutmu". Penyihir SunAn Memandang Tetua Tang.
"Anak ini mungkin Bisa mengirim pesan dengan bantuan elangnya tapi aku tak yakin Dia bisa menahan musuh yg datang atau tidak". Tetua Tang Berfikir sejenak lalu melirik Tetua Sio dan Tetua Shaman. Keduanya mengangguk lalu tersenyum.
"Nak Apapun yg terjadi cobalah bertahan sampai bantuan datang" Tetua Tang Sedikit cemas.
"Untuk Murid Junior lain Kalian Harus memburu Monster di Dalam Hutan Kegelapan dan akan di bagi menjadi kelompok serta penentuannya yaitu berdasarkan warna Gulungan yg kalian pilih,,,Masing-masing Kelompok akan di awasi Oleh Seorang Pendekar".
__ADS_1
Seluruh Murid Mengambil gulungan masing-masing.
"Ingat Tujuan pelatihan ini Bukan untuk membunuh moster tapi untuk berlatih dalam keadaan hidup dan mati,,,Aku yakin kalian faham maksud pelatihan ini". Tetua Tang menghela nafas.
"Tapi jangan ada yg berusaha masuk terlalu jauh,,Karena Menurut Cerita Zaman dahulu, Ada sebuah Gua yg mengeluarkan Cahaya,,Namun Banyak monster Level Tinggi yg menjada Gua itu,,terlebih lagi ada Seekor ular Besar beracun mematikan yg mendiami Gua tersebut". Kakek An ikut memberikan arahan dan peringatan.
Mendengar itu Yan Sin tersenyum lebar.
"Dan Kamu Nak jangan terlalu senang,,Karena Selain Menjaga dan mengantar pesan peringatan,,cobalah Untuk menangkap Rusa atau Kerbau Liar di sekitar Dinding Sihir,,Karena Kita membutuhkan Daging Untuk sebentar malam". Penyihir SunAn memberi sebuah Kantong Ruang yg Sederhana untuk Menyimpan Hasil tangkapan Yan Sin.
"Warna Hijau Akan di awasi oleh Bunga Bercadar,,,,Murid yang mengambil gulungan hijau silahkan mengikutinya"
Susy, Ben, Ley,QiQi, Rian, Erik dan Xin melangkah ke arah Wanita yg mengunakan cadar serta baju hijau dan Rambut panjangnya yg di ikat.
"Warna Merah Silahkan ikuti Tang San"
Lian, Lily, Toni, Mat, Jony, Predy dan Coi melangkah ke sisi Tang San.
"Warna Kuning Dia awasi Oleh Pendekar Bai".
Jaka, Suman, Mimin, Gen, Sinta, Halim dan Soil langsung Mengikuti Pendekar Bai.
"Warna Biru Di awasi oleh Pendekar Jing".
Wang An, Maro, Wati, Dale, Ali, Ulid dan ion. Mengikuti Pendekar Jing.
"Terakhir Warna Hitam Di awasi oleh Pendekar Dan".
Man, Dian, Zion, Tan Er, Qobil,, Han Bei, dan Zan. Melangkah Ke sisi seorang Pendekar yg Asik memainkan Pisaunya.
__ADS_1
"Mengapa kami berdua tidak di Suruh mengawasi Para murid". Tetua Bio Sedikit protes, Namun nyalinya kembali ciut ketika melihat tatapan Tetua Ling.
"Bocah Tugas Di Luar kami serahkan padamu dan cepat Kirim pesan Pada Kedua orang itu". Tetua Tang Memberitahu Yan Sin sambil menunjuk Pendekar Dango dan Tetua Bio.