PENDEKAR TANPA TANDING

PENDEKAR TANPA TANDING
21. KEPUTUSAN.


__ADS_3

"Nona Mey,,,orang Barbar seperti mereka tak akan berhenti jika hanya mengunakan Mulut" Tetua Sio memberi tangapan. "Tetua Aku memng Bukan Dari pedang kilat dan kekuatanku tidak seberapa...Tapi Aku bersedia mati Bersama jika kalah dari Para Maniak ini"..Randy merapat kearah Tetua Sio di temani Lery.


"Sebaiknya Seluruh Senior maupun junior berpikir baik-baik,,, Aku masih tingkat Awal dari Tahap Legenda dan belum tentu dapat menang melawan 10 dari kalian.. Tapi Aku mewakili Dewan Serikat Pendekar tak akan hanya diam melihat tingkah lucu kalian ini" Pendekar Vais meneguk Arak dari botol yg sejak lama tersimpan rapi di pinggangnya. Itu merupakan pertanda bahwa pendekar Pemabuk itu Tak Akan sungkan lagi.


"Jangan lupakan Kami" Tetua Bio dan Dango meluncur bersamaan...dua rival itu seakan mulai menjadi satu.


"Aku ingin Melihat sampai dimana keberanian Para pendekar bodoh itu" Pendekar Jing yg berada di barisan penonton hanya tersenyum.


"Dasar lalat tak tau diri" ucap Seorang pendekar wanita yg berbaju hijau dan mengunakan cadar terlihat marah.


"Itu Sinta Sion Si bunga Bercadar,,,Auranya mengerikan" ucap seorang penonton di dakat pendekar Jing.


"Sinta Sion???? Mengapa Orang seterkenal Bunga Bercadar memiliki Nama yg sama dganku" ucap sinta dari arah Peserta"


"Hahahaha Guru Sio Aku memang bukan lagi bagian dari Pedang Kilat tapi Aku tak tak suka sikap pengecut semua pendekar ini yg mengunakan jumlah untuk menekan orang" Beberapa bayangan bermunculan dari Kaki beberapa pendekar.


"Tetua Ning,,Mari kita Bersihkan Semua pendekar munafik yg hadir di perguruan ini" Seorang Tetua Dari Raja Kelelawar Meyakinkan Tetua Ning.

__ADS_1


"Jika ingin Mati,,,Maka majulah sendiri,,, Jgn mengajakku... atau mari ku bantu memutuskan lehermu....dari pada para aliran putih ini yg akan membunuhmu". Tetua Ning mencoba mengukur kekuatan dan potensi menang mereka.


"Sem bagaimana denganmu" Tetua dari Raja kelelawar itu kini bertanya pada Seorang pendekar kekar yg memegang dua golok. "A A Aku mengikiti kemauan Tetua saja". Sem dilema untuk menentukan pilihan namun ia lebih memilih tunduk pada Tetuanya meski Hatinya merasakan ketakutan...


Anak bodohhhh,,,apa kw ingin menghancurkan perguruan dengan memancing kemarahan Dewan Seekor Kelelawar berbisik di telinga Tetua itu. "Ma Maaf Ra Raja" Tetua itu gemetar ketakutan mendengar setiap kata dari kelelawar itu.


"Hahahahaha...Aku Tak tau siapa anak Kecil itu" Tapi berdasarkan Apa yg kurasakan Sepertinya Dia ada hubungan dengan Petepa gila,,,,,siapa di antara kalian yg ingin berani membuat masalah dengan orang tak berperasaan seperti Dia". Kakek An Bangkit dari tempat duduknya. "Terlebih lagi anak itu memiliki aura naga dalam tubuhnya". Kakek An menambahkan.


"Senior...jangan mengucapkan hal yg tidak Masuk di akal". Pendekar Owen melirik ke arah Kakek An yg berada di Meja juri. Melihat ekspresi Senoirnya Owen hanya bisa menelan ludah,, Ia dapat merasakan Kegelisahan Kakek An.


"Aku Hanya pernah sekali melihat Senior memohon pada pendekar lain dan itu hanya pada Petapa Gila". Owen ikut tertekan melihat Seniornya.


"Hmmm,, Aku tak tau apa Kata-kata senior benar atau tidak,,,,,,Namun Karena Senior yg meminta maka Aku memutuskan untuk Membiarkan masalah ini". Tetua Ning Memberi hormat pada Kakek An.


"Entah Apa yg Membuat Anda dan Pendekar Owen kembali terlibat dalam kembali terlibat dalam dunia persilatan,,,Namun mengingat reputasi kalian di dunia persilatan,,,kali ini aku akan mundur"...Ucap Seorang tetua Dari Perguruan Laba-laba Merah.


"Guruuu Apa kita Akan membiarkan Pedang Dewa itu jatuh ke tangan orang lain" Seorang pendekar dari Lembah Setan Menatap orang tua Bertubuh gempal dengan jenggot dan rambut mulai memutih.

__ADS_1


"Diamlah Atau aku akan memotong lidahmu"... Kakek gempal itu memasang muka yg sangat menyeramkan."Aku tak akan melepaskan orang yg berani menyakiti Saudara Kecilku dan Membuat Murid perguruanku hampir kehilangan nyawa". Bisik Kakek itu pada Pendekar yg memanggilnya guru.


"Bawa Mereka berdua ke penginapan dan beri pertolongan secepatnya...kita akan membuat Perguruan pedang Kilat dan pedang Kembar membayar ini di Babak Pertarungan selanjutnya" Ucap kakek gempal itu pelan.


Perlahan Arena pertarungan mulai kosong dan Tempat duduk penontonpun mulai sepi.


"Baiklah,, Kurasa Kesepakatan untuk Melanjutkan Kontes Generasi harapan tahun ini sudah bulat Dan Akan di lanjutkan Besok berhubung matahari Mulai terbenam maka Semua Pendekar di persilahkan kembali ke Penginapan yg telah di siapkan oleh perguruan Pedang Kembar" Pendekar Vais memaparkan beberapa kalimat untuk menutup Babak Pertama.


"Pendekar Tang Di mana kamu mendapatkan Anak kecil yg Sehebat itu" Pendekar Owen membuka percakapan dengan Tang San.


"Bukan Aku yg menemukannya tapi anakku" Tang San Melirik Lian dan memberikan senyum kasih pada anaknya itu. "awal-awal Aku hanya ingin membawanya untuk menonton tapi Lian memintaku untuk mendaftarkannya,,,Pertama berat bagiku,,, karena Anak itu terlihat sangat lemah..Tapi Lian merengek dan terpaksa kupenuhi keinginannya". Tang San tertunduk sejenak. "Aku tak tau anak itu semenarik ini,,,,Aku tak menyesal mendaftarkannya...Meski harus membayar pentunjukan menarik ini Dengan Jutaan Koin emaspun,, aku tetap tak menyesal,,,Aku memutuskan untuk menjadikannya saudara angkat Lian". Tang San meneteskan sedikit air mata kebahagian.


"Jangan Memutuskan Seenaknya,,Anak itu harus menggatikan Petapa gila untuk Menemaniku Bermain catur" Tetua Hen menimpali cerita Tang San.


"Kurasa Dia bukan Anak sesederhana itu yg bisa kalian Temui seenaknya" Tetua Sio mengingatkan.


"Aku Penasaran kemana bayi kecil pergi,,,aku ingin menjadikannya anakku karena aku ingin memeluk dan mencium wajah imutnya setiap saat" Nona Mey tersenyum,,di matanya seolah banyak bunga beterbangan. Hal itu membuat Seluruh Pendekar yg masih di Arena melotot melihat tingkahnya.

__ADS_1


__ADS_2