
"Pendekar Tang, siapa Bocah yg bersama dengan anakmu itu" Dango menunjuk ke sudut ruangan itu.
"Bocah..???. aku hanya berdua dengan Lily saat memasuki Desa ini" Mata Tang San tajam kearah yg di tunjuk Oleh Dango.
Mata ketiga Pendekat itu tertuju pada Bocah berambut hitam panjang dengan kulit Putih dan wajah seperti Bayi yang baru berusia beberapa bulan seakan tak ada ekspresi di wajah itu.
"Tak ada yg menarik dari bocah itu jika di lihat dari sudut pandang pendekar,,,, tak ada tenaga dalam yg memancar darinya, struktur tubuhnya biasa, satu-satunya yg menarik bagiku adalah wajahnya terlihat cukup tampan namun dengan bentuk dagu sedikit lancip, alis panjang, hidung mancung, mulut agak kecil. Kurasa dia malah terlihat seperti wanita yg sangat cantik". Tetua Bio mendeskripsikan Yan sin.. Ketiganya tertawa cukup keras.
"Lily coba kemari, ajak juga temanmu itu" Tang San memanggil dengan suara Sedikit di keraskan.
"Yan Sin kurasa Ayahku memanggil kita" Lily menarik Yan Sin untuk ikut bersamanya.
"Ayah kenalkan ini Temanku, namanya Yan Sin" Lily mengenalkan Yan sin lalu tersenyum kepada ketiga Pendekar.
Yan Sin memberi hormat kepada ketiga pendekar dengan cara membungkukan badan.
"Nak apakah kamu penduduk desa ini" Tang San bertanya dengan lembut.
"Bukan, Paman" Yan sin menjawab singkat.
"Lalu dimana orang tuamu" Dango ikut menanyai Yan sin.
"Mereka telah meninggal" jawab Yan Sin Singkat. Hal ini membuat suasana sedikit canggung.
"Bos,,,,,bos capat minta mereka menga" Kon berhenti berbicara ketika semua mata melototinya. Tidak terkecuali Yan Sin karena dia sudah pernah mengingatkan Kon agar tidak berbicara di hadapan manusia. Kon tau apa kesalahannya. Karna dia seharusnya mengunakan fikiran untuk berkomunikasi bukan berbicara langsung.
"Ayah aku suka dengan burung ini, ternyata dia dapat berbicara" ucapan Lily memecah kebuntuan.
Sejak Awal tak ada yg menyadari keberadaan burung itu kecuali Lily namun setelah mendengar Kon Berbicara Ketiga pendekar itu seolah berhenti bernafas serta mata mereka menatap tajam burung itu.
"ehem ehem kurasa memang hal yang langka menyaksikan seekor burung elang berbicara namun burung tetaplah burung" Dango berusaha mencairkan suasana.
__ADS_1
"hei Nak benarkah apa yg dikatakan burung ini, Apa kau tidak tau Bahwa banyak pendekar berbahaya di sana" Tang san Mengingatkan Yan Sin dan Kon.
"terima kasih paman atas peringatannya, tetapi sejak dulu aku selelu bermimpi untuk menonton Kontes itu" Yan Sin memberi alasan yg menurutnya masuk akal.
"baiklah bocah kalau Pendekar Tang tidak bersedia membawamu maka ikutlah denganku nanti" Dango memberi harapan pada Yan Sin sambil mengedipkan mata.
"Ok sepakat bocah ini bisa ikut di rombongan kita" ucap Tetua Bio bersemangat.
"Siapa yg mau jalan bersamamu Tetua Botak" Dango mulai mengejek kembali Tetua Bio
"Adaaaaa pertarungaaan" terdengar suara dari luar warung makan itu.
Semua orang Bergegas keluar untuk menonton Tidak terkecuali Yan Sin dan ketiga pendekar di depannya.
"Pendekar Botak itu sama kuatnya dengan Pemuda bercadar biru yang menjadi lawannya" komentar seorang penonton yg berada di barisan paling depan.
Kedua pemuda yg sedang bertarung itu hanya mengunakan Tenaga dalam serta tinju mereka untuk saling menyerang. Keduanya memang jelas terlihat imbang.
"Toni cepat kalahkan bocah bercadar itu secepatnya atau kamu akan mendapat pelajaran tambahan nantinya" Tetua Bio memperingatkan dengan tatapan marah.
"Jadi Mereka berdua adalah murid kalian masing-masing" Tang San mencoba memperjelas.
Tetua Bio dan Pendekar Dango saling menatap satu sama lain.
"bhahaha Bukan kah ini sama persis dengan Masa muda kita dulu" Tang san tertawa kencang sebelum memberikab argumen.
Kedua pendekar tua itu mulai mengeluarkan Tenaga dalam.
"Lihat siapa yg tetap kekanak-kanakan" Tang san menengahi mereka berdua.
Kedua pendekar tua itu mulai bernafas teratur lalu saling merangkul.
__ADS_1
"Kita memang Rival namu tak ada dendam dia antara kita" Dango tersenyum lebar.
Tetua Bio Hanya membalas dengan senyuman.
"Ley hentiakan pertarungan kalaian" Dango menatap muridnya.
"Toni Dengarkan kata-kata Rivalku ini dan cepat kalian berdamai" ucap Tetua Bio lalu kembali tersenyum pada Pendekar Dango.
Melihat tingkah kedua Guru mereka keduanya lalu bersalaman, Ley Memegang mengaruk kepala belakangnya sedangkan Toni hanya membalas dengan senyum.
"Baiklah sebaiknya Kita bergegas atau kita akan terlambat untuk mendaftarkan murid-murid kita" ucap Tang San.
Lalu semuanya berjalan bersamaan Kedua pemuda yang tadinya saling menyerang kini malah berjalan bersamaan dan saling merangkul. Tongkat Toni kini di letakan di bahunya. sementara kedua Guru mereka asik mengobrol sepanjang perjalanan. Pendekar Tang Membirikan arahan kepada anaknya sambil berjalan.
Lily yang menjilati gulalinya hanya berjalan santai dan sesekali menganguk pada ayahnya.
Yan Sin Hanya memandangi mereka dari belakang.
Setalah matahati mulai condong ke arah barat mereka akhirnya tiba Di sebuah gerbang yang memiliki Gambar Dua pedang yg membentuk tanda silang Dengan motif kemerahan.
Diatas kedua pedang itu Terlihat Tulisan Khas Kerajaan Nusan ☆Perguruan Pedang Kembar☆.
"Ternyata Perguruan ini sangatlah luas" Fikiran kon dalam hati.
Yan Sin hanya tersenyum karena Berdasarkan ingatan Petapa Tua Perguruan ini tetaplah sama, Hanya banyaknya pengunjung yang membuatnya sedikit berbeda.
"Guru coba lihat, bukan kah itu pedang yang di ceritakan oleh banyak Pendekar" Ley Menunjuk Sebuah Pedang Hitam yang tertancap Di atas batu Berwarna Merah darah.
"Sudah, lupakan pedang itu, Kalian harus mendaftar dulu karena sebentar Lagi pendaftaran akan di tutup".
"Baik Guru" Ley Menjawab singkat.
__ADS_1
"Tetua Bio Cepat panggil Pendekar Tang agar secepatnya kalian mendaftarkan Murid kalian juga" Pendekar Dango membesarkan sedikt suaranya mengingat tempat ini Begitu Ramai.