PENDEKAR TANPA TANDING

PENDEKAR TANPA TANDING
30. BERTAHAN


__ADS_3

"Kalian Bukanlah pendekar,,melainkan penakut yg tidak tau malu". Pendekar Vais kembali menyerang. Kali ini ia mengayunkan sebuah pedang. Perang itu Berbau arak namun tekanan udara seolah terhisap oleh aroma arak itu.


Kumpulan musuh terpencar dan memilih mundur. Sedangkan Pendekar Bertopeng emas, Bima dan pendekar Owen menghilang lalu muncul bersamaan dengan mode menyerang dan tekanan tenaga dalam yg sangat kuat dua Musuh yg mencoba menangkis masing-masing serangan itu langsung terpental mundur dan harus di bantu oleh rekan mereka agar dapat berdiri dengan stabil.


Bersamaan dengan itu 3 Orang berjubah di tambah dengan Tetua Xeng Langsung menyerang balik.


4 vs 2.... Semuanya bergerak sangat cepat hampir tak dapat di lihat oleh mata.


"Sungguh Jurus Meringankan tubub yg luar bias". ucap Law dalam Hati,,ia tetap melancarkan panahnya... kali ini ia mulai tak ragu-ragu. karena pihak Sekutu yg di barisan penonton sudah banyak yg gugur.


Tetua Hen Mengeluarkan sebuah jurus yg misterius..


Seluruh pihak Sekutu Yg memilih bertempur dari pada menyerah,,terasa di beri 50% tambahan kekuatan.


"Dia memilih Menjadi Penyembuh dari pada bertarung langsung,,,Sungguh Perhitungan Yg Bagus". Ucap Tetua Sio Dalam hati.


Tetua Sio mengerakkan Puing-puing bangunan bekas pertarungan dengan tenaga dalamnya. Tetua Sio Mengarahkannya pada Sekumpulan Musuh yg tak jauh dari Pendekar Vais.


Nona Mey bertarung satu lawan satu dengan Nenek tua yg mengunakan racun. Keduanya juga bergerak sangat cepat namun Nona Masih memasang Senyum manis. Berbeda denganya Nenek tua yg menjadi lawannya malah terlihat kuwalahan. Kemudian Nenek tua itu memilih mundur.


Tetua Ning Mencoba menyerang Nona Mey dari belakang. Namun hanya mengenai udara.


"Pengecut,,itu bukanlah tindakan seorarang pendekar". ucap Nona Mey yg bergerak cepat melepaskan Sebuah pukulan di Dada Tetua Ning Membuatnya terlempar cukup jauh.


UHUK UHUUK.


Mulut Tetua Ning Mengeluarkan darah.


"Kekuatan kita mungkin setara tapi berkat bantuan Tetua Hen,,aku merasa Berada di level Legend menengah yg maksimal". Nona Mey tersenyum ke arah Tetua Hen.

__ADS_1


Di Bagian Penonton hanya menyisahkan beberapa pendekar Level master dan legend.


Mayat berserakahan Baik dari pihak Musuh maupun sekutu.


"Apa yg kalian lakukan,,,mengapa belum membereskan ikan teri yg ada di atas situ". Barong memarahi Angota mereka yg berhadapan dengan kawanan Dango.


"Perhatiakan nada bicaramu atau aku juga akan menghajarmu,,,,,Selama Bocah tengik yg di atas sana tak di bereskan kami akan sulit menghabis para sialan ini". Seseorang balas memarahi sambil menunjuk Law yg sejak tadi terbang di atas mereka.


"Tetua Hoga,,Apa kita langsung menyerang Sekarang". Barong bertanya pada pimpinan mereka yg memakai Jubah merah yg bermotif.


"Kamu ingin merusak rencana awal kita dan membuat kita terbunuh,,,,Kita harus menunggu bantuan". Pemimpin lawan Mulai Menatap seluruh pendekar yg masih bertahan.


"Selama Si Otak catur itu aman,,maka mereka akan terus bertahan,,,jadi menurutku kita harus menyingkirkannya terlebih dahulu".


"Bodohhh,,jangan Lupakan Perdekar Kapak dan Si penggali kuburan itu,,sejak tadi mereka hanya fokus menjaganya". Orang yg memgorek hidungnya menunjuk Tang San dan Tetua Sio.


Tetua Hoga dan kawanannya mulai terpecah lagi. Salah satu dari mereka terkena Serangan dari Bima sementara Tetua Hoga menangkis serangan dari Vais.


"Sialan,,,,Apa yg di lakukan para biadab busuk itu, di luar sana,,,seharusnya mereka sudah berhasil menyapu bersih perguruan ini Dan segera membantu kita disini". Ucap Barong.


"Barong Dimana monster yg bersamamu". Tetua Hoga Memandangi seisi ruangan.


"Benar Juga,,kita melupakan monster itu" Ucap bima di sela-sela pertarungannya.


"Tetap Fokus pada pertarunganmu" Ucap Tetua Hen."Si bayangan Sudah mengurusnya". Tetua Hen menambahkan.


Suara Besi yg saling Beradu seakan memenuhi arena. Pertarungan masih terjadi di seluruh Arena Kontes.


"Tetua, Apa yg harus bisa aku bantu" Simon Menarik pedangnya.

__ADS_1


"Cepat bantu Randy untuk menutup ruangan bawah tanah itu". Ucap Tetua Shaman.


"Nak Ku percayakan para Generasi harapan ini di bawah pengawasan kalian berdua". Randy dan Lery menganguk,,,"Simon bantu dia menutup jalan itu dari atas". Kakek An Mulai mengalirkan tenaga dalam pada Sebuah Pedang.


Dua Tetua Pedang Kembar mendekati Tetua Shaman dan Kakek An.


"Kak Shaman Maaf atas keterlambatan kami". Kedua Tetua itu membungkuk.


"Tak Apa,,,dimana Tetua Han?".


"Sepertinya Saudara Han Masih Mengambil Gambusnya". Ucap salah satu tetua.


"Si maniak Musik itu sama saja dengan saudaranya yg berOtak catur,,,selalu bertingkah bodoh". Tetua Shaman Menghela nafas panjang lalu menghembuskannya pelan.


Sebuah Pedang terbang kearah Tetua Shaman, Refleks Kakek An menangkis dgn cepat dan langsung meluncurkan serangan balasan.


"Tak perlu bersembunyi seperti pengecut,,Aku tau kalian sudah tak sabar untuk menemui ajal" Ucap Kakek An..


Perlahan ruangan itu mulai di penuhi oleh pendekar berjubah merah.


"Jangan Terlalu sombong Kakek tua,,,kalian tak memiliki kesempatan untuk menang". Salah satu dari pendekar itu membuka suara.


"Apa perdekar tua sepertimu tak bisa merasakan ribuan nyawa yg terbuang percuma di arena sana". Seorang Pendekar yg berdiri paling depan mencoba menjelaskan situasi di luar..


"hahaha Percuma menjelaskan pada orang yg sebentar lagi akan menemui Kematiannya".


Jika di lihat dari jumlah, Simon dan Para tetua serta Kakek An memang tak ada kesempatan menang. Belum Lagi Pihak lawan Memiliki Kekuatan yg setara dengan Para tetua dan Hanya Kakek An yg Memiliki kekuatan Level Legenda Tingkat Atas.


"Simon Jagalah Pintu itu dengan nyawamu,,,Kami akan mencoba Menahan Para bajingan ini". Tetua Shaman Mengeluarkan api di tangan kanannya dan Listrik di tangan kirinya. "Kita harus memberi waktu agar para anak muda bergerak cukup jauh dari perhiruan ini" Tetua Shaman menambahkan.

__ADS_1


__ADS_2