
Antusias penonton Masih bergelora di Arena Kontes ini. Semoa orang masih menantikan pertandingan-Pertandingan menarik lainnya.
Sesi demi sesi berlalu Tanpa menyuguhkah pertandingan yg mendebarkan, Yan Sin melihat seorang pendekar mulai menguap. Terlihat jelas ekspresi bosan di wajah para penonton.
Tak terasa Sesi 22pun usai...
"Rasanya tahun ini hanya Kuantitasnya saja berbeda tapi kualitas dari para peserta sama saja seperti beberapa tahun terakhir" Pendekar yg membuka Kontes sebelumnya mulai terlihat malas-malasan
"Haha Pendekar Vais jangan terlalu cepat mnyimpulkan" Tetua Shaman mencoba melirik Pendekar di sampingnya.
"Dasar maniak arak,,semua orang tau bahwa engkau ingin cepat mencicipi arakmu sehingga tak bersemangat melihat pertandingan ini" Wanita cantik dengan gaun putih yg berada di antara tetua Sio dan Tetua Shaman. Memasang muka marah..
"Nona Mey jgn marah hanya karena masalah sepele" Pendekar pemabuk itu menatap Wanita cantik yg terlihat berumur 30an dgn mata berbunga-bunga, Wajahnya bagaikan besi yg memerah akibat di bakar cukup lama."sudalah aku tak ingin melihat wajah bodohmu itu" Nona Mey membuang muka seolah kesal.
"Ley Murid Pendekar Dango vs Pian dari perguruan Pedang Kembar"
"Toni dari semeru vs Zan Dari Perguruan Pedang Kilat"
"Mul dari Gunung Siguntang vs Ham dari Pedang Api"
Panitia arena lain memanggil pesertanya masing- masing. Kemudian seluruh peserta yg di panggil mulai menaiki arena. "Akhirnya Arena kontes akan menampilkan pertandingan seru" Pendekar bertopeng Emas di sebelah Vais yg tadi acuh pada argumen beberapa orang, kini membuka suara.
Memasuki Menit ketiga,, Tujuh arena telah menemukan pemenangnya sementara Tiga arena lainnya sejak tadi menjadi pusat perhatian. Ke enam peserta saling berbalas serangan.
"jurus pedang kilat" Zan mengeluarkan jurus Khas perguruannya, membuat Toni terhempas ke sisi arena.
"Hey Botak mau sampai kapan kau akan menyembunyikan kekuatan aslimu" ucap Ley dari arena sebelah, pedangnya masih meladeni permainan dua pedang yg di lancarkan Pian, ia sangat tau kekuatan Toni karena kemarin keduanya sempat beradu tenaga dalam.
"Urus urusanmu sendiri dasar Banci" Tino meludah kearah Ley.
__ADS_1
"Botak sialan,,beraninya memanggilku banci,,,Aku akan membuat perhitungan dgnmu setelah ini" Ley ikut kesal.
"Bocah sepertinya kmu meremehkanku". Pian mempercepat ayunan pedangnya.
"Hm" Toni tak mnghiraukan ocehan Ley. ia hanya mengatur pernafasannya. Matanya memancarkan aura tajam, kemudian melepaskan Bajunya. Otot perutnya menandakan betapa giat ia melakukan pelatihan.
Zan Menyadari Perubahan Sikap Toni lalu melangkah mundur.
"Sepertinya aku harus menyerang duluan jika ingin menang". ucap Zan dalam hati. "jurus Langkah malaikat dan Jurus pedang Kilat". Zan melancarkan serangan
"Ternyata ada juga bocah kilat yg menguasai Langkah kematian, sungguh perpaduan jurus yg bagus" Pendekar Vais menatap Zan kagum.
"jurus Badai" Toni memutar tongkatnya. Lalu angin mulai bertiup kearahnya. kemudian Menghentakkan ujung tongkatnya ketanah membuat sedikit retakan pada Arena.
Ketika Zan mendekat dengan gabungan jurusnya. Toni Menendang ujung tongkatnya ke arah Zan Lalu memutar tongkat itu dengan cepat.
Zan yg sejak tadi hanya menangkis permainan tongkat yg seperti badai tak kunjung berhenti kini terpukul mundur dan pukulan telak yg di lancarkan Toni membuat pedangnya retak sebelum tongkat itu menghantam lantai.
"Aku menyerah" Zan memberi hormat pada Toni, Hatinya bercampur aduk seolah tak percaya dgn kekalahannya.
"Toni dari Semeru menang" Panitia Arena dua menyatakan Toni Sebagai pemenang.
"Tetua Muda dari Semeru memiliki murid yg sangat berbakat" Tetua Shaman melirik Tetua Bio yg berada di deretan penonton.
"Kepala Botak yah,,,mereka memang mirip,,,apa dia Anaknya...???" Pendekar Vais ikut memandang Tetua Bio penasaran.
"Mimpi Pendekar Arak tak mungkin kenyataan,, Karena seingatku Tetua Bio tak pernah dekat dengan wanita atau menikah apalagi punya anak". Tetua Sio Mengingat beberapa cerita Tang San yg berkaitan dengan Tetua Bio berhubung mereka adalah sahabat dekat.
"Sudahlah mari saksikan Dua arena lainnya, Mungkin Sebentar lagi akan diketahui siapa yg lebih unggul". Wajah Cantik Nona Mey mengarah ke arena matanya fokus pada dua pertarungan itu. Di susul oleh Juri Lainnya.
__ADS_1
"Si botak itu menang yah sebaiknya aku harus Serius agar dapat mengahiri ini" ucap Ley dalam hati.
Ley melompat mundur ke sisi arena. "Hey mau menyerah yah?" Pian meremehkan. "Bermimpilah Beruang bodoh" Ley mengejek...."jurus Pedang Ilusi tambah Sayatan Pisau Angin". Ley melancarkan dua jurus berurutan. membuat semua mata tertuju padanya. Pian mencoba membalas serangan itu dengan jurus tarian pedang kembar Khas perguruan mereka.
"Kalah,,,,,,,,bukan kah Tadi Pemuda bercadar itu terlihat hebat". ucap Panitia pengawas Arena 1, dia berniat menyatakan Pian pemenangnya.
z z z z z.
Seorang Juri yg sejak tadi hanya tertidur tiba-tiba bangun dan melempar batu kecil pada panitia Pengawas Arena satu.
"Apa yg terjadi,,,sicadar itu kan kalah, kenapa tiba-tiba menjadi pemenag" panitia itu terlihat bingung. ia memegang kepalanya sebelum menyatakan Ley menang.
"Terima kasih Tuan An telah bersedia membantu" pendekar Vais memberi hormat.
"Bocah ini sama berbahayanya dengan Si Dango itu" Tetua Sio Menggelengkan kepala lalu menatap Dango yg duduk di antara Tang san dan Tetua Bio.
"Jurus ilusi memang ciri khas pendekar Dango,, tak kusangka ia akan mengajari bocah itu" Nona Mey memberi komentar.
"Luar biasa,,,aku yakin banyak yg tak menyadari bahwa kemenangan Anak muda dari perguruanku itu hanyalah sebuah ilusi" Tetua Shaman merasa sedikit malu atas kekalahan perguruannya namun ia tetap harus adil sebagai juri.
Pandangan kembali tertuju Pada pertandingan yg tersisa.
Semua orang dapat melihat bahwa kedua pemuda di dalam arena twrlihat imbang baik dari tenaga dalam maupun teknik dan jurus. keduanya sama-sama terluka. Lalu Pada serangan pamungkas kedua pemuda itu terkapar di atas arena...
Setelah hampir semenit akhirnya Mul dari Gunung siguntang Berhasil bangkit, Dengan demikian Ham dari Pedang Api dinyatakan kalah. karena tak dapat bangkit lagi....
Mul melangkah menuju ke arah Ham dan membopongnya ke arah tangga untuk di serahkan pada panitia yg sejak tadi berlarian menuju ke arah arena untuk memberikan pertolongan pertama...
Semua penonton Memberikan tepuk tangan yg gemuruh pada sikap solidaritas Mul.
__ADS_1