PENDEKAR TANPA TANDING

PENDEKAR TANPA TANDING
32. KEKUATAN TERSEMBUNYI.


__ADS_3

Sebuah Cahaya Menghantam Arena membuat pandangan seluruh Pendekar menjadi silau.


TRENNNG TENDENGGGGGGG NDERERENG


Seorang Tetua Muncul dari Belakang Simon sambil memainkan Gambusnya. Perlahan Gravitasi di sekitar para Kerumunan musuh yg ada di depan Tetua Shaman mulai terasa berat.


Dari belakang musuh muncul Tiga pendekar Dengan kecepatan Tinggi dan menebas serta memukul Beberapa pendekar Level Legenda tingkat dasar. Ketiganya berhenti pas di depat tetua Shaman.


"Maaf Senior Kami sedikit Terlambat" Pendekar Bai Membungkuk.


"Bagaimana Keadaan di luar?". Tetua Shaman Mencoba mencari tahu.


"Entahlah,,,Senior Ling sedang Melihat suasana di luar,, dia memilih Ke Arena Kontes,,sementara kami langsung Kesini" Ucap Pendekar Bai. Bunga Bercadar dan Pendekar Jing Hanya mengangguk.


"Pagoda Iblis" Seorang pendekar langsung mengeluarkan jurus di susul Beberapa Pendekar yg mengeluarkan Spirit Sejati mereka berupa Monster dan senjata Level Atas.


Kakek An Menghilang langkahnya tak dapat di lihat oleh pendekar Level Legenda Dasar dan pendekar level master.


Tiga orang Pendekar level menengah langsung maju menghadapi Kakek An. Sementara Tetua Han Kembali Memainkan Gambusnya Sedangkan Tetua Shaman Melayangkan dua pedangnya yg sudah di aliri Listrik bertegangan tinggi 2 pendekar Legenda Memblok serangan itu kemudian melayangkan serangan balasan.


Dua Tetua yg sebelumnya hanya diam Kini bergerak dgn pola jurus yang sama.


"Jadi ini Pola Tariang Bintang,,,Sungguh Luar biasa,,Nafas mereka seolah satu...tak ada celah dalam serangan mereka".


Seluruh kemuatan musuh langsung di kerahkan. Semuanya sibuk dengan lawan masing-masing.


Simon Langsung Menarik Pedang Besarnya. Dua Orang Pendekar yg Mencoba Menerobos masuk kini terhenti saat pedang Simon di ayunkan Kedepan.


"Sialll,,Bisa-bisanya Bocah itu mengayunkan pedang sebesar itu dgn kecepatan yg luar biasa". Salah Satu dari pendekar yg mencoba menerobos. hampir Terkena tebasan Simon.


Tetua Han Terus Melancarkan Serangan mengunakan Angin yg keluar dari Petikan Gambusnya. Tekanan Gravitasi Membuat lawan sulit berkonsentrasi.

__ADS_1


SAT SAT SAT


Pedang Hitam melayang cepat tanpa di sadari Siapapun. 3 orang dari Pihak Musuh meregang nyawa tanpa menyadari penyebabnya.


Yan Sin yg duduk santai di atas Atap tak Menghiraukan Tingkah Pedang hitam yg ikut campur dalam pertarungan.


Satu demi satu pihak musuh tumbang oleh pedang Hitam.


Kakek An berhasil Melukai Salah satu lawannya membuat dua lainnya menjadi waspada dan tersadar bahwa jumlah mereka mulai berkurang.


Cahaya dari mana itu


Barong Menutup pandangan dgn tangan kanannya untuk menghalagi Efek silau di tengah arena.


Bima Melesat secepat cahaya memberikan Tendangan Telak pada Tetua Hoga kemudian dgn sangat cepat berada di depat Barong lalu melepaskan Tinju yg sangat kuat. Tetua Hoga dan Barong terpukul mundur Sementara yg Lainnya memilih menjauh dari tengah arena.


"Kekuatan Siapa itu". Tetua Bio Mencoba membuka mata. Dango mengunakan ilusi untuk memanipulasi Pengaruh cahaya itu.


"Dia Menyembunyikan kekuatan sebesar ini dan memilih Bekerja di Dewan Serikat". Tang San Memandang Bima yg masih sedikit terbungkus cahaya.


"Untung dia lemah terhadap wanita,,Jika tidak aku mungkin tak bisa duduk di Kursi juri meski hanya sekali". Ucap Nona Mey dalam hati.


Kekuatan Tetua Hoga yg tadi seakan meledak kini telah sirna di telan cahaya.


"tenyata Ada orang merepotkan Seperti ini di Dewan Serikat Pendekar Nusan". Tetua Hoga membersihkan debu bekas tendangan Pendekar Bima.


Beberapa Pendekar yg tadi melawan Pendekar owen dan Topeng emas kini maju menyerang Bima.


"Apa yg di Harapkan Dari kerajaan ini, Rajanya telah mati para pendekar yg membatu kerajaan langsung tewas dan yg lainnya terluka parah,,Perguruan-Perguruan yg ada di kerajaan tengah ini telah di ratakan denga tanah dan seluruh murid dan pendekar Level master berhasil di basmi,,,Ku Sarankan kalian segera menyerah sekarang". Barong yg berdiri kembali menjelaskan panjang lebar.


"Hahahaha Menyerah katamu,,,,Cepat Tarik kata-katamu atau kau akan menyusul mereka" Ucap Pendekar Bai sambil melemparkan kepala salah satu pendekar Level Legenda.

__ADS_1


Tetua Shaman, Kakek An dan yg lainnya mengikuti langkah Pendekar Bai.


"Kusarankan Kalian untuk segera angkat kaki atw kalian harus menaruh kepala masing-masing" Kakek An Terlihat sangat Marah.


Tetua Ning dan Tetua Xeng serta selurub penghianat langsung Memilih kabur sementara Para Jubah Merah masih Engan untuk pergi.


"Cahaya berilah aku kekuatanmu" Bima bergumam pelan lalu kembali meluruskan pedangnya. Ia bergerak sangat cepat lalu menebas dua orang musuhnya.


Tetua Hoga Mulai Ragu, Namun masih melirik beberapa bawahannya yg mulai di lumpuhkan oleh sebuah pedang.


"iiini Aura Si Petapa Gilaa". Tetua Hoga samar-samar menyadari keberadaan Yan Sin.


"Beritahu seluruh Kerajaan yg terlibat kekacauan ini agar bersiap untuk pembalasan atas saudara-saudara kami yg kalian binasakan". ucap Pendekar Bertopeng.


Bima dan pedang hitam ibarat cahaya dan kegelapan yg terus membabat habis seluruh musuh.


"Tetua Cepat Masuk" Barong membuat arena di sekita Tetua Hoga menjadi lumpur. Tetua Hoga dan Empat Tetua Lainnya melompat kedalam lumpur itu.


Tang San melempar kapaknya Lalu menghatam dada Barong,,Membuatnya menjadi hitam seolah habis terkena tegangan listrik yg sangat tinggi.


Tetua Sio dan sebagian pendekar yg masih sanggup bertarung,,mulai membersihkan Sisa-sisa musuh yg berusaha kabur. Sedangkan Sisanya berusaha untuk menolong teman mereka yg masih bernafas.


Pedang Hitam Segera menghilang saat pendekar berjubah merah mulai berkurang. Yan Sin Mengunakan Teleportasi Ganda untuk menjauh dari Arena Kontes.


"Tetua Sio pasti engkau menyadari Aura Petapa gila dan Pedang hitam Tadi,,,iya kan?". Kakek An berbisik pelan pada Tetua Sio. Lalu kembali berbisik Pada Owen. Pendekar Owen dan Tetua Sio hanya mengangguk.


"Kak Tan Ini balasan pesan kutulis tadi" Law memberikan Surat yg baru ia terima.


"Dampak Kekacauan ini sungguh luar biasa". Ucap Tang San dalam hati.


"Guru,,,Menurut Surat ini Pemimpin dewan Dan Ayahku berhasil bertahan dari serangan mendadak, Tetapi mayat dan orang terluka parah berserakahan. Demi Menyelamatkan beberapa orang sisa pendekar dari kerajaan Nusan. Mereka memilih Bersembunyi Di Hutan Kegelapan".

__ADS_1


Semua Orang Yg masih selamat sangat berduka atas kabar dari surat yg Di baca Tang San.


__ADS_2