
Sore hari,,saat ketiga penjaga dinding yg masih asik bertukar pikiran, sambil berkeliling,,Kok kok kotek,,Mereka di kagetkan oleh Suara Ayam berkotek, dari luar hutan kegelapan.
"Aduh,,ini sudah sore dan kita belum melaksanakan tugas tambahan". Law mengalihkan percakapan mereka. Ketiganya saling melirik kemudian melangkah cepat keluar Hutan kegelapan. Di depan Hutan kegelapan terdapat sebuah padang rumput yg sangat luas. "Adik jaka cobalah tangkap ayam hutan,,Law usahakan Rusa, atau hewan lainnya yg bisa di ternak,,aku akan mencoba menangkap Sapi liar atau atau kerbau untuk menambah stok ternak kita". Ketiganya menghilang secepat kilat, saat Bima selesai memberi arahan.
Matahari mulai tengelam di ufuk barat, Satu per satu bintang dilangit mulai bermunculan.
Perguruan Nusantara di penuhi gelak tawa. Para pendekar dan Penduduk masih menikmati Santap malam, Sambil sesekali tertawa melihat tingkah Kon yg mempermainkan kedua anak yg berusaha menyuapinya.
"Baiklah,,makan malam telah usai kuharap semuanya bersyukur atas nikmat dan karunia yg kita miliki saat ini...Mulai besok semuanya tak ada yg bisa bersantai lagi, Karena kuyakin Aliansi Empat kerajaan mulai menyadari Tempat kita dan melakukan persiapan". Kakek Sun menutup mata lalu melanjutkan."Dengarkan Baik-baik, Besok semuanya Harus mulai berlatih keras,,Para penduduk Pria Akan Menjaga lahan pertanian Sambil Belajar Bela diri Bersama Para pendekar. Penduduk Wanita yg mau Berlajar menjahit dan Bela diri akan dibimbing oleh Nenek Kio. Murid yg tertarik pada Seni, silahkan bergebung dengan Guru Han bersaudara,,Mereka akan mempelajari Kitab Gema yg berfokus pada Seni Suara. Bagi Murid yg Memahami unsur Elemen dan ingin Berlatih ilmu Abadi silahkan ikut Arahan Guru Sio dan Pendekar Bima, Mereka berdua akan Mempelajari Kitab Ilmu abadi". Kakek Sun Mengatur pernafasan.
"Untuk Murid yg Telah mencapai Level ahli Tingkat merah Keatas, Boleh Minta bimbingan Guru An untuk Belajar Dasar-dasar Ilmu Tubuh Baja..,,dan Murid yg ingin Memperkuat Tekanan Roh Silahkan Ikut Arahan Guru Tang Yuan da Guru Shaman untuk Berlatih kultivasi Spiritual.,,Sisahnya,, Bisa ikut denganku dan Nagin untuk Berkultivasi Energi Alam Semesta, Di pedalaman Hutan ini". Kakek SunAn Memandang wajah setiap Orang seolah sedang mencari seseorang.
"Ku harap Semuanya memiliki kemajuan yg pesat beberapa hari kedepannya,,,,Ingatttt kita sedang berhadapan dengan ancaman besar,,kuharap semuanya melakukan persiapan dan bersungguh dalam pelatihan". Kakek SunAn Memperkuat tekanan suaranya.
"Di mana anak itu" Ucap Kakek Sun dalam hati.
Perlahan-lahan, Ruang Makan yg baru di pakai itu, kini mulai sepi,,menyisahkan beberapa Pendekar yg masih berbincang. Kakek SunAn dan Kakek An melangkah bersama ke pintu ruangan.
__ADS_1
"Monyet Kecil itu, sangat Suka ketinggian,,Bahkan ia tak hadir di ruang makan". Kakek Sunan memandangi atas pohon di mana Yan Sin biasa tidur.
"Perlahan aku mulai suka anak itu,,Dia Sangat pendiam dan Hanya berbicara saat di paksa serta Rasa hormatnya pada orang yg lebih tua,,membuatku sangat terkesan. Itulah yg membuatku yakin bahwa dia Buka si Petapa Gila yg Banyak bicara dan Suka mengolok orang lain". Kakek An menangapi ucapan Kakek Sunan.
"Nak, Kemari sebentar". Ucapan Kakek Sunan membuat Pandangan Yan Sin kelangit teralihkan. Ia melompat dan menghampiri Kedua Kakek Tua itu.
"Aku telah menyetujui permintaanmu. Mulai besok pagi, pergilah keHutan perbatasan Padang Rumput, untuk Tugas menjagamu dan kau bebas melakukan apa saja sesukamu, Tapiii,,saat ada hal mencurigakan cepat kirim burungmu untuk memberi kabar dan perintahkanlah pedangmu untuk menarik perhatian mereka sampai kami tiba". Ucap Kakek Sunan
"Terima Kasih Kek" Yan Sin Memberi hormat.
"Apaaaaa,,Bukannya Dia harus berlatih Dasar-dasar beladiri" Kakek An tak percaya keputusan Seniornya.
Suara Burung kecil mulai memecah kesunyian. Perlahan Warna dedaunan mulai jelas terlihat, Embun berjatuhan dari ujung daun-daun, Kabut Masih menyelimuti gelapnya hutan.
Perguruan Tak seramai biasanya,,banyak pendekar yg keluar dinding saat matahari pecah di ufuk barat.
Yan Sin Di beri sebuah Kertas dan Sebuah bulu ayam untuk menulis.
__ADS_1
Beberapa berpencar pendekar Mulai berpencar saat keluar dinding sihir.
Kon Membawa Yan Sin terbang ke arah timur.
"Saudara Sun,,apakah tindakan tepat, Membiarkan Anak sekecil itu, untuk berjaga sendiri". Kakek An membuka pembicaraan Saat keduanya keluar dinding Sihir.
"An Ma bukan kah kamu yg pertama mendengar tentang Monyet Hitam itu, mengusir para musuh yg mendekati dinding dan melihat dia melukai Pendekar Xing di arena Kontes,,Aku yakin Dialah yg paling tepat untuk mengawasi Hutan Depan. Terlebih Lagi usianya,, Masih usia anak-anak jadi biarkanlah dia bermain sesukanya,,Pedang itu bukan sesuatu yg dapat di remehkan,,di bawah penjagaannya Monyet kecil itu pasti baik-baik saja". Kakek Sunan Meyakinkan Kakek An.
~>Jangan Terlalu khawatir Padanya,,Tuan Muda Yan, Bisa bertahan di dalam hutan Kegelapan, hanya dengan Bantuan Elangnya saja,,Dengan tambahan Pedang itu Kurasa dia Bisa menjaga diri, dari Ribuan pasukan sekalipun<~. Nagin Berusaha memperyakin tindakan Kakek Sunan, yg ada di depannya,,merupakan tindakan tepat.
Yan Sin Tiba di Pohon yg menjadi pembatas antara Padang rumput dan Hutan kegelapan.
¤Nak, Apa kita tak menyiayiakan kesempatan bagus untuk belajar kelima Kitab itu¤
"Haha,,Aku lebih tertarik Pada kitab ini" Yan Sin Mengeluarkan Kitab Hitam dari cincin penyimpanannya.
"Kelima Kitab lainnya Sudah ada dalam Otakku" Yan Sin Menambahkan, jari telunjuk kirinya di arahkan ke kepala.
__ADS_1
¤Dasar Bocah Serakah¤
^^Serakah??,,kurasa bukan,,ini hanya sebuah keberuntungan Bos Kecil^^. Kon ikut masuk perbincangan dalam fikiran Yan Sin.