PENDEKAR TANPA TANDING

PENDEKAR TANPA TANDING
4. PENDEKAR BERAMBUT EMAS


__ADS_3

Semua pendekar tak percaya dapat melihat seorang pendekar yang melegenda, mulut sebagian pendekar muda terbuka cukup lama.


"Sungguh aku tak habis fikir seorang yang tlah lama pensiun dari dunia persilatan menunjukan diri di keramaian seperti ini" Tetua Sio mncoba tersenyum pada pria yg mnjadi pusat perhatian.


"Senior apa yg membuatmu mencabut janji pensiunmu" Tetua Ling memandang pria tua itu dengan ramah


"hahaha trnyata kedua bocah yg dulu trlihat gagah kini telah mnjadi tua sepertiku". pria tua itu seakan meledek kedua tetua yg menyapanya.


"Suatu kehormatan bisa melihatmu senior" Pria bertopeng itu memberi salam hormat dengan menundukkan badan.


"hahaha siapa yg tidak tertarik melihat ornag sepertimu, namun tujuanku sebenarnya bukan untuk ikut terlibat langsung dalam dunia persilatan namun aku ingin cucuku dapat melihat senior-seniornya yg hadir di sini" pria tua itu tersenyum lebar.


"apaaaaa???? Pendekar berambut emas memiliki cucu!!! ini sungguh berita yang luar biasa" tetua Sio menelan ludah


semua mata tertuju pada Seorang gadis cantik seumur 10 atau 11 tahun yang juga memiliki rambut kuning keemasan.


"cantiknyaaaaa, rambut mereka sama benar dia pasti cucunya" simon berdecak kagum akan kecantikan gadis kecil itu.


"lalu bagaimana dengan anak gadismu dan menantumu, mereka pasti pendekar yg sudah sangat trkenal saat ini" ucap Tetua Ling


"hahaha sungguh sangat disayangkan anakku memilih mnjadi pebisnis daripada pendekar". jawab pria tua berambut emas itu dengan penuh sesal.


"hmm legenda tinggalah legenda itu hanya pencapaian masa lalu" ucap Tetua Xing meremehkan.


seketika itu juga Tetua Xing memuntahkan darah yg cukup banyak.

__ADS_1


"Bocah kemarin sore sepertimu bukanlah apa-apa dihadapanku, bahkan melawan cucuku saja belum tentu kamu akan menang dengan mudah" ucap pria berambut emas sembati menenurunkan kembali pedangnya yang tidak diketahui kapan pedang itu keluar dari sarungnya.


"Kakek An jangan terlalu melebih-lebihkanku" ucap gadis di sampingnya.


"uhuk uhuk" Tetua Xing kini terjatuh di tanah setelah memuntahkan cukup banyak darah.


"para senior perkenalkan Namaku Lily, kedepannya aku mohon bimbingan dari para senior" ucap Lily dengan senyum manisnya.


semua pendekar menatapnya dengan senyum pertanda mereka menerimanya di dunia persilatan, namun berbeda dengan tetua Xing. Kini ia menaru dendam Lily karena menurutnya lily pantas di jadikan target balas dendam karena perbuatan kakeknya.


"Saya rasa dengan janji pendekar yg telah kita sepakati maka tujuanku kesini telah selsai dan saya mohon undur diri" ucap pria bertopeng itu.


semua pendekar menganguk pelan.


"Aku rasa tujuanku juga telah selsai. tetapi aku rasa wajib memberitahu kalian bahwa kemarin adik juniorku Si mata Elang yg juga telah pensiun, melihat kejadian aneh, ia melihat seorang bayi yg baru lahir sedang menguburkan seluruh mayat yg ada di desa ini, awalnya aku tak percaya dgn apa yang di katakan saudara juniorku namun aku tau persis dia tak akan prnah berbohong tentang hal seserius ini apalagi mnyangkut batu meteor". Kakek An menjelaskan panjang lebar


"bagaimana mungkin ada bayi seperti itu, aku yakin itu jelmaan iblis" ucap Tetua Ning


"mana ada iblis yang mau menguburkan mayat, di tambah lagi mayatnya sebanyak ini" ucap Tetua Ling sambil menunjuk ratusan kubur di dekat mereka.


"Aku yakin bayi ini bukan bayi biasa dan aku bisa merasakan aura naga dan dan sisa tenaga dalam yg luar biasa dari seseorang. Menurutku tenaga dalam ini lebih kuat dariku, mungkin ini menjelaskan bahwa batu meteor itu telah menjadi milik naga atau pemilik tenaga dalam ini" Kakek An kembali menjelaskan panjang lebar


"Kalau seperti itu, untuk apalagi kita masih disini" ucap Tetua Xing sambil melirik tiga orang pemuda dari perguruannya.


semenit kemudian mereka tak terlihat lagi.

__ADS_1


Tetua Sio, Tetua Ling dan kakek An masih bertukar kata satu sama lain.


Simon dan Lawran dan 3 orang dari perguruan semeru serta Randy dan 3 orang lainnya dari perguruan pedang kembar yang ada di dekat Lily juga mencoba saling menyapa satu sama lain.


sedangkan perguruan lain seperti Perguruan Dewi Surga, perguruan Raja Kelelawar, perguruan elang putih, perguruan gunung siguntang, perguruan laba-laba merah, perguruan tapak Langit, perguruan pedang Api, perguruan Bunga Es, dan perguruan Air Abadi serta perwakilan dari 2 perwakilan perguruan kecil kini mulai pelang ke perguruan masing-masing.


Sekarang Hanya menyisahkan 17 orang di desa itu 4 orang yang belum meninggalkan desa itu merupakan pendekar pengelana.


"Saudara Jing lama tidak berjumpa bukan kah terakhir kali kita bertemu pada saat kontes arena sepuluh tahun lalu di perguruan pedang kilat" ucap Tetua Sio sambil memberi sapaan pada seorang pendekar muda agak pendek.


"Benar, tetapi rasanya pertemuan kita baru kemarin" ucap pendekar Jing sambil tertawa kecil.


"sungguh pemandangan yang langkah bisa melihat para senior di tempat ini" ucap wanita cantik berbaju hijau yg memakai cadar.


"Seperti biasa Adik sinta yg di juluki bunga bercadar memang sungguh anggun". Tetua Ling mencoba memuji, trlihat jelas di wajahnya yg memerah.


"Tetua Ling jangan mncoba merayu gadis yg bebeda jauh dari umurmu" seorang pemuda gagah dengan setelan bangsawan mencoba menimpali dengan nada bercanda.


"waow Pendekar Bai gon yang terkenal cerewet, bagaimana bisa engkau tak bersuara saat ketegangan tadi" ucap Jing


"hahaha pria sejati harus tau kapan harus membuka mulut" ucap Bai gon dengan tawa kecil.


"Dan go Sampai Kapan kmu akan bersembunyi di bayangan bocah Bai" perkataan Kakek An membuat kaget Mereka semua.


" Legenda memng luar biasa, dapat mendeteksiku meski aku telah mengunakan 100% tenaga dalamq untuk bersembunyi" ucap Dan go sedikit malu.

__ADS_1


"wah adik Dan peningkatan jurus bayanganmu sungguh luar biasa". tetua Sio merasa kagum akan prncapaian bekas juniornya.


Mereka semua mengobrol cukup banyak sampai akhirnya di akhiri dengan kesepakatan untuk menampilkan sesuatu yang luar biasa 5 tahun kedepan. kemudian meningalkan desa itu bersamaan.


__ADS_2