
Peperangan Semakin sengit, Padang rumput telah menjadi lautan darah. Mayat berserakahan.
Dua orang pendekar senior dari pihak Perguruan Nusantara terlihat sedang sibuk mengimbangi kecepatan serta kekuatan Seorang pemuda yg berkulit hitam serta berpakaian Mencolok layaknya pendekar bangsawan.
Kedua pendekar itu, bahkan tak dapat memaksa pendekar itu, untuk turun dari kudanya. Di karenakan jumlah prajurit yg terus mendesak dan memberikan tekanan pada kedua pendekar itu.
"Pendekar selemah kalian, ingin memberontak dan Menolak untuk tunduk Pada Aliansi 4 kerajaan, Kalian terlalu percaya diri dengan kekuatan Sekecil itu". Ucap pendekar Muda berkulit hitam yg terus mengayunkan pedangnya dari atas kuda.
"Sialan, anak ini meremehkan kita".
"Jangan dengarkan ocehannya, Fokus untuk bertahan sampai yg lain datang membantu".
"Percuma saja mengharapkan para tetua, merekapun akan segera di lenyapkan". ucap Pemuda itu.
"Tuan Muda, panah dan pedang kami tak dapat melukai mereka". Ucap Salah satu prajurit.
"Bodoh, jangan berhenti menyerang,, pasti ada celah dalam pertahanan mereka".
Beberapa menit berlalu, Kedua pendekar itu, terlihat mulai kelelahan,
"Ilmu Serat Jiwa". Pemuda berkulit hitam itu, melompat dan bergerak dengan cepat kearah dua pendekar itu dan meraih kedua tangan mereka. Keduanya seakan terkena tegangan listrik tinggi. Tenaga dalam mereka terkuras dengan sangat cepat. Beberapa prajurit melepaskan anak panah dari belakang.
Saat anak panah menembus jantung kedua pendekar itu. Darah membasahi jubah mereka yg berlambang Bunga Es dan Tapak Langit.
"Tarian Pedang Kembar". Wang An melancarkan serangan Cepat dengan tenaga dalam tingkat tinggi Serta Jurus meringankan tubuh yg baru di kuasainya setelah menyempurnakan ilmu Langkah malaikat.
Aaaaaaaaaaaaaa
Serangan cepat Wang An berhasil memotong tangan Pemuda berkulit hitam itu.
__ADS_1
Mimin dan Ali menghabisi para Prajurit yg melepaskan Anak panah.
"Pengecut, beraninya menyerang dari belakang". Sebuah tendangan keras melayang kearah Wang An, Pria Bermata satu yg melepaskan tendangan dan menarik Pemuda berkuda yg masih meringis kesakitan di tanah lalu memacu kudanya dengan kecepatan penuh. Wang An menahan tendangan itu dengan pedangnya, namun tetap terhempas mundur.
"Bukannya Mereka yg pengecut". Ucap Wang An dalam hati.
"Kak, bertahanlah". Air mata Mimin tak terbendung lagi ketika melihat Kakak seperguruannya dari Perguruan bunga es yg kini memuntahkan banyak darah.
"Min,,jangan menangis lagi, kakak tak akan bertahan lama, Aku mengunakan tenaga dalam terakhirku, Namun jantungku tak dapat sudah mencapai batasnya. Ku titipkan QiQi padaaaaaaaamu". Melihat pemuda di depannya yg mengucapkan kata-kata terakhirnya, Mimin Menangis sangat kencang.
"Senior maaf atas keterlambatan kami". Ucap Ali
"Nak,,Aku juga tak bisa bertahan lama, Maaf karena tak bisa menjaga amanah terakhir dari pemimpin perguruan Tapak Langit, Sekarang Gulungan ini ku serahkan padamu, Bawahlah Nama perguruan kita di puncak dunia persilatan, Ikuti arahan Para Guru dan anggaplah semua orang di perguruan Nusantara sebagai saudaramu,,ingat lah pesan leluhur kita, Pendekar sejati adalah pendekar yg tak mengabaikan saudaranya, Camkan itu baik-baik di dalam hatimu". Pendekar itu menutup mata lalu menghembuskan nafasnya pelan.
"Senior,,, senior,, senior". Ali mengoyangkan tubuh itu, berharap, pemuda di yg terbaring kaku masih bisa bertahan.
Wang An, Sibuk melindungi kedua kawannya dari Puluhan musih yg mencoba menyerang mereka.
"Diaaaaammm, Apa jabatanmu, sehingga berani menyalahkanku, Aduuuhh saakiiit".
"Dasar anak tak tau terima kasih,,Aku menyesal menolongnya". Ucap pria buta itu dalam hati.
"Apa yg terjadi dengan tuan muda". Salah satu pendekar mulai terlihat panik.
"Ketua, Apa yg harus kita lakukan, Guru dan Ayahnya pasti akan menyalahkan kita, karena tak becus menjaganya". Bisik Seorang Pendekar.
"Cepat Bantu sembuhkan lukaku atau aku akan membunuh kalian semua".
SHAAAT.
__ADS_1
Leher Tuan Muda itu putus, hampir bersamaan dengan kata-kata terakhir dari mulutnya.
"Ketua,,, apa yg kau lakukan, Guru dan Ayahnya bisa membunuh kita semua". Ucap Pendekar mata satu yg membawa tubuh tuan muda.
"Hey Ketua, kalau mau mencari mati, maka lakukan sendiri jangan melibatkan kami, Lagian, aku sejak tadi meminta untuk ikut berperang, tapi kau terus melarangku, lihatlah akibat dari perbuatanmu ini". Ucap Seorang Pendekar.
"Kalian Semua diamlah dan tutup mulut rapat,, aku memiliki rencana dengan kematian anak sialan ini". Ucap sang ketua.
"Baiklah,,aku juga tak suka tingkah bocah ini, yg sok berkuasa". ucap Pendekar bermata satu
"Apa rencanamu" Ucap Seorang pendekar.
"Kirim Surat untuk para pemimpin di Base,,katakan bahwa Tuan Muda Terbunuh oleh musuh,, biarkan Ayah dan Guru itu melampiaskan dendam pada para sampah itu". Ucap ketua mereka.
"Hahaha,,,Tenyata Ketua ingin Mengadu Ayam, dan mengambil keuntunagan dari semua kejadian ini,,dasar licik". Ucap Seorang pendekar.
HAHAHAHA
Semuanya pendekar yg ada di situ, tertawa bersamaan.
"Penakut turun sini kalau berani". Ucap seorang pendekar Level master.
Bukannya Turun, Lawran Malah kembali melepaskan anak panah.
"Mereka berpikir, aku sama bodohnya dengan Simon,,mana ada orang bodoh yg akan menuruti keinginan mereka, terlebih lagi ini adalah peperangan, sedikit kesilafan, maka nyawa taruhannya". Ucap Law dalam hati, Panahnya kian bertambah banyak.
"Kapak Maut membelah Bumi" Tang San mengeluarkan sebuah Spirit berbentuk Kapak yg menghilang secepat angin. Puluhan musuh terbelah dan yg lainnya mundur sejauh yg mereka bisa.
Tetua Bio membuka baju, Otot-ototnya tak kalah dengan muridnya. Tongkatnya terus dimainkan dengan sangat lincah.
__ADS_1
Simon Sibuk memutar pedang besarnya.
Bima terus mengeluarkan cahaya menyilaukan, sedangkan Jaka dan gara terus membunuh musuh yg berusaha menutup mata.