PENDEKAR TANPA TANDING

PENDEKAR TANPA TANDING
52. DINDING KEDUA


__ADS_3

Pergerakan Musuh kian menjadi-jadi, Telah banyak korban yg berjatuhan dari pihak musuh, namun Entah mengapa jumlah mereka malah semakin bertambah banyak.


"Sepertinya mereka benar-benar menginginkan kita semau binasa" Ucap Tang San.


"Sulit menggambarkan Perang yg tak berujung ini,, Kurasa mereka ingin membuat kita semakin kelelahan". Tetua Bio Menanggapi ucapan Tang San.


"Saudara Bio, Sebaiknya Kita Bergabung untuk menjaga dinding sihir".


"Maaf Saudara Tang, Kurasa aku perlu bergabung di depan Sana,,Aku tak sabar Ingin Menunjukan Jeripayahku beberapa tahun ini".


Tetua Bio, merupakan salah satu tetua termuda di kerajaan Nusan, Ia Di jadikan tetua oleh perguruan Semeru, karena prestasinya Cukup membantu perkembangan perguruan Semeru.


"Hey Dango,, mari kita bersaing Seperti dulu lagi" Ucap Tetua Bio.


"Bukan Kah aku telah Menjadi pemenangnya sejak tadi". Dango Kembali membangkitkan Mayat-mayat yg baru di bunuhnya.


"Hahaha, jangan cepat puas dulu, ini baru pemanasan".


"Baiklah,,,,sebaiknya kita bergabung dengan Senior Pemabuk itu,, dan biarkan Si Kapak yg menjaga anak-anak". Dango mulai maju ke arah Pendekar Vais.


"Kurasa ini waktunya beraksi". Tubuh Tetua Bio Mulai terlihat Aneh ketika ucapan terakhir dari mulutnya.


"Apa yg terjadi dengan si botak itu" Guman Pendekar Dango dalam hati.


Tubuh Tetua Bio, Perlahan Mulai membesar.


"Botak, Apa yg terjadi padamu tubuhmu,,,Kamu alergi di sentuh wanita lagi yah". Dango menahan diri agar tak tertawa.


"Diam, dan lihatlah otot-otot ini". ucap Tetua Bio.


Setelah Beberapa detik, Ukuran Tububnya sudah di luar batas kata normal, bahkan jika di ukur, tubuh Tetua Bio lebih Besar Dari Kon yg merupakan Elang Tipa Moster Hewan Siluman.

__ADS_1


Pendekar Vais, Gara dan Dango, Menelan ludah melihat ukuran tubuh Tetua Bio. Begitu Juga Para pendekar lain yg ada di luar dinding sihir, Tidak Terkecuali para Pendekar dari pihak musuh.


"Ketua, Dinding sihir itu telah dibuat,,Apa aku sudah bisa beraksi sekarang?". Ucap Seorang Perdekar Tua.


"Weren, Kau boleh beraksi, Tapi bila berada dalam keadaan yg tak menguntungkan, capatlah Kembali karena Kekuatanmu Sangat di perlukan".


"Ketua Tenang Saja, Hanya Penyihir itu yg mampu mengimbangiku, akan kubuat yg lainnya lenyap seketika".


"Jangan meremehkan musuh, Pemimpin Tertinggi saja, menaruh perhatian besar pada musuh, Karena peperangan ini di anggapnya sebanding, meski kita menang jumlah".


"Sebisa mungkin, Aku menghancurkan mereka dengan cepat sehingga tak perlu memaksa pemimpin tertinggi untuk turun tangan".


"Sudah Ku bilang jangan meremehkan musuh". Teriak Ketua itu, Namun tak lagi di hiraukan.


Pendekar itu mengunakan Jurus meringankan tubuh untuk mempercepat langkahnya menuju dinding sihir milik Kakek Sunan.


"An Ma, Kurasa dia Mulai mendekat, Tekanan Pedang pusakannya, merupakan musuh bebuyutan Dari Sihir pelindung". Kakek Sunan Menutup mata seakan sedang merasakan sesuatu.


"Senior Sun,,,Aku Ingin Mencoba sesuatu yg baru ku pelajari,,semoga ini dapat membantu". Ucap Tetua Sio.


"An Ma, Kuserahkan Urusan di Luar dinding Padamu". Bisik Kakek Sunan, ke arah Kakek An.


"Senior Kami Bersaudara akan ikut membantu". Tetua Han dan Tetua Hen Mengikuti Langkah Kakek An.


"Senior Tang, Kami serahkan anak-anak dan yg lainnya, Kembar tolong sembuhkan yg terluka secepat mungkin". Ujar Tetua Sio sambil memberi hormat pada Tetua Tang dan Dua Tetua Kembar.


"Tak perlu sungkan,,kita Adalah besan,,Aku Tak Akan Membiarkan mereka menyentuh Lian".


Ke Empat tetua itu akhirnya keluar dari dinding sihir.


"Senior Shaman,,Maaf Menyerahkan urusan di luar dinding padamu terlalu lama". Ucap Tetua Hen.

__ADS_1


"Anak-Anak,,Masuklah dalam dinding sihir dan Serahkan sisanya Pada Para Guru dan pendekar Senior". Kakek An membesarkan suaranya agar bisa di dengar oleh para murid Junior.


"Guru Aku Masih ingin bertarung, Tolong Biarkan aku tetap di luar". Jaka sedikit memohon pada kakek An.


"Nak,,Aku menghargai keberanian dan kekuatanmu serta tenaga dalammu yg diatas murid lainnya, Tapi tenaga dalammu telah banyak terkuras,,,Aku ingin Kau melakukan sebuah tugas pribadi untukku".


"Baik Guru" Jaka langsung setuju bahkan belum mengetahui tugas yg di berikan Kakek An.


"Lindungilah Lily dengan Nyawamu, Dia Adalah Satu satunya Harta Berharga bagiku". Ucapan Kakek An Membuat Wajah Jaka memerah.


"Lily, Cepat Kemari,,dan yang Lainnya Cepat Masuk Ke dalam dinding sihir".


Toni, Ley, Wang An, Dale dan Beberapa murid Lainnya mengikuti arahan kakek An. Simon, Tang San dan pendekar Senior lainnya Mengambil Alih pertarungan para junior.


"Cucuku, Apapun Yg terjadi Jangan Tinggalkan dinding sihir. Dinding itu akan Membawa kalian Memasuki Hutan Kegelapan untuk sementara waktu,,,Ikuti Nak Jaka,,Dia Lebih berpengalaman darimu".


"Baik Kek".


"Jaka Tolong, Jaga Lily".


"Baik Guru".


Beberapa Menit Setelah para murid masuk, keadaan sedikit berubah karena bantuan Para Tetua. Terutama Petikan Gambus Milik Tetua Han yg dapat menekan Lawan mengunakan Suara Daya tarik bumi atau Gravitasi.


"Sepertinya, Junior Han Meningkat Pesat setelah Mempelajari Ilmu Kitab Gema". Ucap Kakek An.


"Hahahaha,,,Kalian Melupakan Kedatanganku,,,Semoga Saja Kalian sudah bersiap Mati" Ucap Pendekar Tua yg baru datang.


"Sayang Sekali Pedang Pusaka Sebagus itu, Jatuh Ke Tangan Pendekar Aliran Hitam sepertimu". Ucap Kakek An.


"Tak Usah Basa Basi,,,Bersembunyi di balik dinding sihir bukan Tindakan yg baik". Pendekar Tua Itu Menyerbu dan Berusaha merusak dinding sihir.

__ADS_1


"Dinding Batu Terbentuklaaaaah". Tetua Sio Menguarkan tenaga dalam yg sangat kuat, Dengan cepat Lapisan Tanah Langsung Menyelimuti dinding Sihir yg memiliki Luas Hampir sama dengan Sebuah Rumah berukuran 20x20 Meter persegi. Tanah yg melapisi dinding sihir, Perlahan mengeras menjadi batu.


"Jadi Nak Sio ini, telah Paham dengan Kitab Kultivasi Energi Alam semesta Rupanya,, tapi Mengubah tanah menjadi Batu memerlukan Tenaga dalam yg tidak sedikit" Gumam Kakek An dalam Hati.


__ADS_2