
Babak kedua segera akan di mulai beberapa menit kedepan. Tempat duduk penonton kembali terisi penuh. 262 peserta yg berhasil lolos ditambah dua lainnya yg dinyatakan lolos oleh panitia, mereka adalah Suman wakil dari kerajaan dan Ulid dari Elang Putih.
"Seperti Babak sebelumnya Pertarungan adalah pertarungan persahabatan jadi tak boleh membunuh,,,Dan untuk keamanan maka Panitia penyelengara, kali ini menyediakan wasit Non perguruan dan merupakan bagian Dari Dewan Serikat,,,untuk lebih lanjutnya saya serahkan pada Nona mey untuk menjelaskan beberapa Ketentuan". Pendekar Vais menatap Nona Mey di akhir kata-katanya.
"Ehem ehem..Peraturannya tetap seperti babak pertama yg menang berhak lolos ke Babak berikutnya,,, namun semua peserta diharapkan dapat menunjukan Performa terbaiknya,, karena para juri Akan merekomendasikan setiap peserta yg mereka anggap layak,,, untuk Langsung menuju Posisi 8 besar". Nona mey melirik Arena kemudian melanjutkan.
"Panitia menyadari Satu hal pada pertandingan sebelumnya,,Banyak pertarungan Seru yg Terlewatkan Karena di lakukan bersamaan,,,oleh karena itu babak kedua hanya akan ada satu arena". Nona Mey menghembuskan nafas panjang setelah berbicara panjang lebar.
"Apa sebenarnya yg di inginkan Para Panitia ini" Simon bertanya pada Law dan Tang San.
"Jangan bertanya padaku atau kakak,,,kami bukan Panitia". Law menjawab dgn nada malas.
"Kurasa panitia ingin melihat Potensi generasi tahun ini yg sebenarnya dan hanya dengan cara ini Semua peserta akan mengeluarkan kemampuan sebenarnya meski hanya melawan Semut kecil sekalian". Tang San mengutarakan apa yg ia fikirkan.
"Aku masih berharap Bocah yg berwajah bayi itu lolos ke babak ini" ucap Pendekar Dango penuh harap.
"Aku yakin dia pasti mau jadi muridku" Tetua Bio membayangkan dirinya dan Yan Sin berlatih bersama.
"heee gundul jgn seyakin itu dulu, Dia kan lebih dekat denganku dari pada kamu" Dango memegang kepala Tetua Bio. "Mari kita melangkah keBabak kedua".
Dango dan tetua Bio sedikit kaget mendengarnya.
__ADS_1
"Kurasa tahun ini Adalah tahun Terbaik untukku karena di percaya menjadi bagian Dari Kontes Generasi Harapan". Seorang Pemuda dengan Lecana Dewan Serikat berjalan ketengah arena.
"Woy woy apa yg terjadi dengan Arena sebelumnya?,,,Apa apaan Arena luas itu" Simon menarik-narik lengan Law.
"Bodoh,, jangan tarik lenganku atau kamu ingin ku tendang ke dalam arena itu?". Law mendorong wajah Simon.
"Sepertinya Aku kenal dengan Wasit itu" Tang San mencoba mengingat wajah Pria yg berada di tengah arena. "Aku ingat sekarang,,,,tapiiiiii sejak kapan dia bergabung dengan dewan Serikat".
"BiiiiMaaaaa". Dango dan Tetua Bio yg tak jauh dari Tang San kompak memanggil nama yg sama.
"Saudara Tang bukan kah dia Rivalmu". Dango bersemangat saat bertanya pada Tang San. "Rival yahhh,,,,rasanya sudah Sangat lama,,,,saat ini Dia sangat jauh di depanku,,,Kurasa dia sudah masuk tahap Legenda". Tang San membalas komentar Dango.
"Kakak Tang sepertinya berlebihan,,,coba lihat penampilannya,,,dia juga selalu tersenyum trus dari tadi,,, seperti orang bodoh saja". Simon menilai Wasit yg ada di arena.
"Simon,,Aku tau kau hebat tapi jangan pernah menilai orang dari penampilannya saja". Tang san memberi teguran.
"Hey Pendekar Bulat,,,Dia itu hanya pernah kalah sekali dalam pertarungan". Dango melihat Simon lalu melirik wasit itu.
"Oh yaaaa,,,pasti di kalah dari kakak Tang".
"Hahaha Aku bahkan tak pernah menang dalam 27 pertarungan,, meski hanya sekali". Tang San tertawa dan sedikit malu-malu mengakui kehebatan Wasit itu.
__ADS_1
"Jadi siapa yg lebih hebat dari kak Tang dan wasit itu di generasi para senior pada tahun itu??" Law ikut bertanya lantaran penasaran.
"Dia Adalah Wanita yg duduk di kursi juri itu" Tetua Bio Memandang Nona Mey.
"Haaaaaaaa" Law dan Simon kaget.
"Sebenarnya Dia bukan kalah tapi mengalah,,,karena sejak awal dia memang tak mau melawan wanita,, namun Nona Mey Memaksanya".
"Final tahun itu memang sangat terkenal,,,karena banyak pendekar Muda berbakat yg ikut namun BIMAlah yg paling mencolok, Sayangnya di final dia memilih mengalah". Tang San menjelaskan kondisi sebenarnya.
"Pendekar Bima di sebut sebagai pria Sejati karena wibawa dan kebiasaannya yg suka merendah serta memilih mengalah dari pada harus melukai wanita". Dango membayangkan waktu pertama mengenal Bima.
"Awalnya aku iri padanya karena dia sangat populer di kalangan gadis-gadis, namun dia malah selalu membalas perbuatan usilku dengan senyuman". Tetua Bio juga ikut mengenang masa mudanya.
Pertarungan sudah berjalan cukup lama namun hanya pertandingan pertama dan kedua yg menarik,,
Pertarungan Pertama berlangsung cepat namun memberi tontonan menarik. Panitia memilih Suman perwakilan kerajaan untuk bertanding pertama karena panitia belum melihat kemampuannya karena kehebohan yg di sebabkan Yan Sin.
"Jurus Elang Terbang, jurus Tapak langit,". Suman mengeluarkan dua jurus bersamaan namun jurus Tapaknya lah yg sangat luat biasa karena membuat arena bergetar. Suman dinyatakan menang setelah lawannya tak sadarkan diri menerima dua jurus bersamaan.
Pertandingan kedua juga tak kalah seru karena Ulid mengeluarkan Spirit Elang putih. Selama kontes berlangsung Spirit Elangnya lah yg paling dasyat karena sanggup membentuk Wujud Elang putih Sempurna dan dapat menyerang lawan. Di tambah dengan Serangan cepat yg ia lancarkan membuat lawanya tak berkutik bahwak tak sempat mengeluarkan jurus kedua.
__ADS_1
Dua belas pertandingan selanjutnya tak ada yg begitu menarik sehingga Bima yg sedikit bosan memilih mengeluarkan Keranjang berisi buah apel mengunakan sebuah trik sebelum memanggil peserta selanjutnya,,,Hal itu membuat heboh penonton.