PENDEKAR TANPA TANDING

PENDEKAR TANPA TANDING
14. ARENA KONTES II


__ADS_3

"Aturan pertarungan ini Sederhana, Pertama Tak boleh membunuh lawan Kedua Seorang dapat di katakan menang apabila lawannya menyerah atau tak sadarkan diri, Panitia Memiliki hak penuh untuk menghentikan pertandingan dan menentukan pemenang, Terakhir tak boleh melecehkan kaum Hawa, Tambahan tak boleh pacaran dia atas arena". Di akhir penjelasan Pria bertopeng emas itu cengengesan menahan tawa.


Semua yg hadir ikut tertawa.


Belum cukup semenit pendekar yang memiliki sedikt jerawat di wajahnya telah terkapar Tak sadarkan diri.


"Apa yg terjadi tadi" seorang pendekar bertanya pada teman di sampingnya.


seluruh arena di penuhi suara, hampir Sebagian besar pendekar tak mnyadari apa yang terjadi. Yan Sin dapat melihat jelas Jurus Tarian Pedang Kembar yang di lancarkan oleh Wang An, Jurus itu merupakan jurus andalan Perguruan Pedang Kembar. Yan Sin menyadari bahwa pencapaian pemuda berambut kemerahan dan berwajah cukup tampan sunguh luar biasa.


"Pencapaian pemuda itu mendekati Tahap Master Tingkat Pertama". gumam Yan Sin dalam hati.


"Pemenangnya Adalah Wang An dari pedang Kembar". Pendekar Bertopeng mengangkat tangan Wang An.


Setelah Pertandingan pembuka itu, 10 orang berseragam sama mulai memasuki Arena, jelas Seragam mereka merupakan Ciri Khas Dewan Serikat Pendekar.


Satu demi satu peserta dari beberapa perguruan besar maupun kecil di panggil ke atas arena.


Sesi pertama Tak ada yang terlalu mencolok begitu juga sesi kedua.


"Dian dari perguruan Dewi Surga akan melawan QiQi dari Perguruan Bunga Es" Salah satu panitia memanggil kedua peserta.


Satu demi satu panitia mulai memanggil peserta lain.


Lima menit kemudian 9 arena Telah menemukan pemenangnya.


Dian vs QiQi menjadi pusat perhatian pada sesi ini, keduanya memiliki paras yang cantik dengan khas masing-masing, QiQi dengan wajah sedikit pucat khas perguruan Bunga Es dan Dian dengan Tubuh seksinya yg menjadi ciri khas Perguruan Dewi Surga..... Serangan demi serangan di lancarkan oleh keduanya.


"Jurus pedang Angin" Dian melancarkan serangan pamungkasnya. "Jurus Pedang Es" QiQi menyambut serangan itu. Meski kedua jurus itu Sebanding Namun tenaga dalam Dian terlihat lebih Mapan dari pada lawannya sehingga menyebabkan QiQi terlempar cukup jauh ke sisi Arena.


"Aku Menyerah" menyadari perbedaan tenaga dalam yg melebihinya QiQi memilih mengalah. "Terima kasih atas perlawanan Nona QiQi". Dian tersenyum pada QiQi. Nona cantik dari Bunga Es itu membalasnya dengan senyum iklas."Kurasa kekuatanya sebanding dengan kak Mimin". QiQi berbicara dalam hati.

__ADS_1


Sesi ke empat berlangsung singkat tak ada kesan hebat.


Sesi kelima dimulai.


Beberapa panitia memanggil peserta untuk memasuki arena. Seketika 9 arena telah terisi.


"Dale dari perguruan Laba-laba Merah vs Bary dari Perguruan Gunung Siguntang" panitia terakhir memanggil peserta berikutnya.


Saat kedua peserta Memasuki arena, beberapa pendekar mulai heboh."Itukan Si jenius dari Perguruan Laba-laba merah" Seorang pendekar memuji Dale.


Sama halnya dengan pertandingan Sesi ketiga, kali ini pertarungan arena 10 menyita banyak perhatian.


"Langkah Malaikat" Bary melesat cepat. "Jaring Laba-laba" Dale membuat jaring dari tali. "Jurus tombak siguntang" Bary Mencoba merobek jaring yg di pasang Dale. "Tendangan Laba-laba" Dale berputar Cepat dan melancarkan tendangan menyamping Lalu mengeluarkan Cairan merah dari mulutnya. Bary yang tidak siap akan dua serangan langsung itu langsung mundur setelah menerima tendangan dari Dale, setelah berdiri tegak ia memandang lawannya itu lalu mengangkat tangan tanda menyerah.


"Saudara Bary tak perlu takut akan Racun itu karena hanya melemahkan otot-otot selama sejam dan setelah itu tenaga dalammu akan kembali seperti semula" Terlihat jelas senyum di balik topeng laba-laba Dale.


Bary memberi hormat antar pendekar dgn memegang tinju kirinya lalu membungkuk.


Sesi Ke enam tak terlalu menghibur.


Sesi Ketujuhpun dimulai.


Dua panitia memanggil peserta bersamaan.


"Maro"


"Lilian"


Maro dan lian saling menatap lalu keduanya maju ke arena yg berbeda.


"Maro murid pendekar Jing vs Tata dari perguruan Raja kelelawar"

__ADS_1


"Lilian dari pedang kilat vs NaNa dari Lembah Setan".


Sesi ketujuh Berlangsung cukup lama karna pertandingan cukup sengit Namun akhirnya Maro dan Lian keluar sebagai pemenang.


"Awas kamu Gadis jalang, lain kali aku akan membunuhmu" ucap Gadis cantik bertubuh pendek itu, wajahnya penuh amarah, ia mengunakan tangan kirinya untuk menyapu sedikit darah di bibirnya.


Lian hanya membalas dengan senyum sinis


"NaNa cepat Turun biar Aku yg membalasnya nanti" Seorang Gadis Pirang menatap Nana lalu menoleh pada Lian.


"Hei Apa maksudnya ini, aku masih bisa bertarung" Tata marah tak terima kekalahannya ia merasa pertarungannya tak adil karena panitia menghentikan pertarungan mereka, namun Ia menyadari bahwa ia tak akan bisa menerima serangan berikutnya yang di lancarkan Maro. Ia hanya malu mengakui kekalahannya.


Sesi Kedelapan sedikit mengundang perhatian berhubung 3 peserta menang tanpa perlawanan sedikitpun.


"Ali dari tapak Langit Menang"


"Sinta dari Perguruan Air Abadi menang"


"Halim dari Pedang Api menang"


Sesaat setelah pengumuman menang, Pendekar yg hadir kembali memberikan tepuk tangan meriah.


Sesi Kesembilan berlangsung singkat tanpa kesan menarik.


Sesi Kesepuluh merupakan salah satu pertandingan Favorit, karena menampilkan banyak jenius dari berbagai perguruan. Di antaranya Mimin dari Bunga Es yg menang dengan gampang, Nining dari Lembah Setan, Gino dari Raja kelelawar, Yuni dari Dewi Surga, Ben dari Semeru dan yg paling menyita perhatian adalah Aksi dari murid Pendekar Dan yg bernama Man.


Bukan Perkara gampang memenangkan pertandingan namun Murid Pendekar Dan hanya memerlukan wakyu sedetik untuk menang. Para Tetua yg Fokus pada Aksinya berdecak kagum melihat Jurus Bayangan milik pemuda itu.


"Murid Pendekar Dan ini hampir sehebat gurunya" Tetua Sio melirik Pendekar Dan yg ada di antara penonton.


Menyadari Lirikan Tetua Sio dan beberapa Tetua lain berada di meja juri, Pendekar Dan Hanya tersenyum seadanya.

__ADS_1


__ADS_2