PENDEKAR TANPA TANDING

PENDEKAR TANPA TANDING
38. KUNCI.


__ADS_3

Perjalanan 3 Tetua Perguruan Nusantara.


Sepanjang Perjalanan Ketiga Tetua Sempat Menaburkan Bunga Pada Kuburan yg tanahnya belum Terlalu kering. Setiap yg mereka lewati selalu menaburkan bunga sebagai tanda duka untuk penduduk yg gugur karena serangan sebulan lalu.


Desa demi desa yg mereka lalui hanya menyisahkan reruntuhan dan Terdapat Kain Putih di gerbang desa yg bertuliskan Kematian Tak Akan Mengurangi Cinta Kita Pada Tanah Air Nusan.


"Tang Yuan Ituuuu" Kakek SunAn Menunjuk Kain Putih yg berkibar laksana bendera.


"Jadi Dia masih hidup rupanya". Tetua Tang Mengingat Sosok seseorang.


"Dia sangat Kuat,,ku yakin Jahitan di kain itu adalah ulahnya". Tetua Shaman menatap Kain Putih itu.


Ketiganya kembali menaiki kendaraan Masing-masing lalu melanjutkan perjalanan. Mereka bertemu banyak pendekar dan tentara dari berbagai Kerajaan. Rasa Sedih di hati mereka menjadi Cambuk tersendiri. Mereka tak menyisahkan satupun Lawan yg mereka temui.


Kendaraan Kakek SunAn Adalah Tongkat, Sementara Tetua Shaman Dan Tetua Tang Menggunakan Spirit Pedang sebagai kendaraan. Ketiganya Bergerak Sangat Cepat bahkan Melebihi kecepatan Angin, mereka Hanya berhenti saat menaburkan bunga.


"Kak SunAn,,Apakah tak salah mengambil Kitab-kitab itu sekarang,,kerajaan Pasti telah di jaga ketat". Ucap Tetua Tang.


"Tenanglah,Jika perhitunganku tepat, Para biadab itu memerlukan persiapan untuk mendiami kerajaan,,dan perlu beberapa bulan untuk Menjadikan Kota kerajaan sebagai markas perkumpulan 4 Kerajaan".


"Tapi Kitab Itu belum tentu Masih disana". ucap Tetua Shaman.


Ketiganya Berbicara sambil melaju cepat.


"Hahaha,,Aku Sendiri yg membuat Formasi sihir Untuk Menyegel Kitab-Kitab itu,,Mereka harus mengumpulkan ratusan Penyirir untuk Membuka formasi itu dan untuk mengunakan kitab-kitab itu,,aku sendiri Belum bisa membaca Satu kalimat dalam kitab itu".


"Haaaaa terus apa gunanya kita mengambil kitab itu kalau tak bisa di baca,,,atau Kak SunAn Buta huruf". Tetua Shaman sedikit meledek.


"Enak saja mengatai aku Buta Huruf,,,Kitab itu menyembunyikan tulisannya".

__ADS_1


"Terussss,,,,apa rencana Kak SunAn?". Tang bertanya sambil mempercepat spirit pedangnya ke arah Penyihir itu.


"Petapa Gila Pernah Kalah bertaruh sekali denganku,,Sebagai imbalannya aku meminta dia membocorkan Kunci Kitab-kitab Itu".


Tetua Tang dan Tetua Shaman semakin mendekat pada Penyihir tua itu. Rasa penasaran memenuhi Hati mereka.


"Ja Jaadii Apa kuncinya?".


Penyihir tua itu memandang kedua Kawannya. "Darah" ucapnya.


"Daaraaahh,,,Darah apa?" Tetua Tang Semakin penasaran.


"Entahlah,,Katanya Darah dari Pencipta Kitab itu atau darah Keturunannya".


"Haaa dari mana kita bisa mendapatkan Darah itu,,bukan kah Kitab itu di buat Ribuan Tahun lalu". Tetua Shaman Mulai putus asa.


"Apa arti Goresan-goresan itu". Tetua Shaman Penasaran.


"Dasar Buta Huruf,,bukan kah tadi kmu mengataiku buta huruf,,sekarang terbukti kamulah yg buta huruf".


"Simbol Angka yahh,,ini berarti meteor, Ini Desa, Kehancuran, Nusan dan ini Anak Kecil" Tang Yuan Menebak arti simbol-Simbol di dalam kertas itu.


"Tang Yuan,,Kecerdasanmu memang luar biasa,,,Aku saja memerlukan waktu bertahun-tahun untuk Memahaminya". Kakek SunAn merasa malu.


"Jadi Apa maksud Simbol ini". Tetua Shaman masih dengan ekpresi Penasaran.


"Entahlah, Tapi menurutku Kunci itu sudah dekat maka kita bisa mengambil Kitab-Kitab Itu sekarang".


"Kak Sun,,Aku Tau Jawaban Dari Simbol-simbol ini" ucap Tetua Tang.

__ADS_1


"Be Benarkah" Kini malah Penyihir itu yg jadi penasaran. "Cepat katakan apa kuncinya". Penyihir itu semakin penasaran begitu juga Tetua Shaman.


"Kedua Anak Kecil yg perguruan Adalah Kuncinya, Mereka sudah tak memiliki Orang tua,,ku yakin salah satu dari mereka adalah kuncinya".


Penyihir dan Tetua Shaman Langsung berpelukan,,Mereka hampir nenabrak sebuah pohon sebelum akhirnya saling mendorong. Rasa Bahagia tergambar jelas di wajah mereka.


"Kak Itu Si Penjahit, dia sedang bertarung di depan Gerbang kerajaan". Tetua Tang Menunjuk Seorang Nenek yg sedang menghadapi Ratusan Pendekar dan prajurit.


"Kalian Harus mati untuk menebus dosa atas saudara, anak dan cucu-cucuku". Nenek Tua itu Melemparkan Sebuah jarum, Air matanya terua menetes. "Aku Tak akan mengampuni perbuatan Kejam kalian semua". Nenek Tua itu menangis sangat keras sambil menyerang. Benang dan jarumnya membunuh banyak pendekar. Benangnya sangat tajam sementara jarumnya melesat tajam ke Titik akuputur Musuh,,membuat setiap Prajurit dan pendekar yg Terkana jarum itu mnjadi lumpuh dan benang tajam langsung memotong leher.


Sebuah Panah mengarah pada Nenek tua itu,,Panah itu mengandung tenaga dalam sehingga melesat sangat cepat.


"Kak Kio Yun,,,Jangan bertindak gegabah". Ucap Tetua Tang saat spirit pedangnya berhasil memotong anak panah itu.


""Aku akan mati dengan damai setelah membersihkan sampah seperti mereka". Nenek Tua itu menyeka air matanya yg membasahi pipinya. "Mareka membunuh seluruh penduduk desa yg sudah ku anggap keluargaku sendiri,,,Penduduk yg berbagi makanan saat aku berkunjung, Penduduk memberiku segelas air, penduduk yg tersenyum ramah padaku,,mereka semua tak tau apa-apa tentang kerajaan dan dunia persilatan,,namun tetap di bunuh dengan sangat kejam". Nenek Tua Itu kembali meneteskan air mata.


"Tenanglah Adik Kio Tak perlu mati kalau hanya berhadapan dengan para Jahanam ini" Tetua Shaman mengeluarkan 2 Spirit pedangnya lalu Mengunakan Jurus meringankan tubuh.


Kakek SunAn Menggunakan Sihir pemanggil lalu Puluhan Monster Level 7 muncul dari Sebuah lubang Sihir yg Di buatnya.


Hanya memerlukan Berapa menit bagi Dua Orang tua itu untuk menghabisi seluruh musuh.


"Terima kasih Adik Tang, Kak Shaman, Senior Sun,. Aku Akan Mengingat jasa kalian".


"Kak Kio di tempat kami masih ada beberapa Penduduk desa yg selamat, Mungkin Mereka Adalah kenalanmu. ukutlah dengan kami". Tetua Tang Memberi sebuah Sapu tangan pada Nenek Tua itu.


Nenek Tua itu hanya diam, Selama ini ia memang tak punya keluarga namun Penduduk desa sangat baik padanya, Ia mengangap beberapa desa sebagai Rumahnya.


Merasakan Tatapan ketiga Orang di dekatnya Membuatnya sadar Bahwa Ketiganya Menaruh dendam yg sama dengannya.

__ADS_1


__ADS_2