
"Tenanglah smuanya,,,, setelah membayar utangku pada perguruan Pedang Kembar,,Aku akan mendonasikan sebagian sisa uang ini untuk Perguruan dan sisanya akan kutabungan Buat masa depan Lian...Dan akan mentraktir semua yg hadir pada arena ke Kontes ini selama sebulan". Mendengar ucapan Tang San. Semuanya melompat kegirangan..Mereka Berjoget sambil bernyanyi bersama....
*♡♡♡Pedang adalah nafasku,,,,Kilatlah gambaran jiwaku,,,,,,,Pedang Kilat Rumahku,,,,Saudara adalah harta terbaik bagiku**♡♡♡***
Mereka mengulangi 4 kalimat itu beberapa kali lalu semuanya berpelukan.
Melihat itu Dada Yan Sin terasa hangat,, ia merasa ada ikatan hangat yg terjalin di antara mereka semua. Mata Yan Sin mulai berkaca-kaca.
"Beruntungnya aku dapat melihat kebahagian mereka" ucap Yan Sin dalam hati
"Bos kecil sebaiknya kita segera pergi atau akan ada yg Sadar dgn keberadaanmu". ucap Kon mengunakan nalarnya.
"Baiklah,,,aku juga ingin tidur Sambil mengolah Qi Murni yg kudapatkan dari Batu yg menyegel Pedang hitam"...
Langit begitu tenang malam ini.. cahaya bulan yg memberi nuansa indah pada pohon-pohon bunga yg terdapat di depan Masing-masing ruang penginapan setiap perguruan maupun ruangan pada pendekar yg datang menonton.
Yan Sin masih bisa mendengar banyak cerita yg berkaitan dengan Aksinya tadi sore,,,baik yg memuji maupun yg sedang merancang siasat untuk mencari dan merebut pedangnya.
"Dik Bagaimana kondisimu" Tetua perguruan Lembah setan Skaligus kakak Tetua Xing bertanya pelan. "Sebentar lagi aku akan kembali pulih kak" jawab Tetua Xing. keduanya berbicara banyak hal malam itu.
"Kak Xeng,,,apa kamu sudah menemukan jejak bocah sialan itu?". Tetua Xing bertanya dgn suara sedikit keras.
"Belum tapi Ku yakin Dia masih di sini berhubung Kontes ini tetap di lanjutkan..jadi ku yakin dia masih disini"
"Kenapa kakak tidak mengirim mata-mata ke penginapan Padang Kilat". Tetua Xing memberi masukan.
"Jangan meremehkan Tetua Sio dalam hal mendeteksi musuh" Tetua Xeng mengingatkan.
Banyak pendekar yg Masih menikmati pemandangan malam di depan Penginapan mereka.
Yan Sin Memilih kebelakang Penginapan.
__ADS_1
Para Tetua Pedang kembar Sibuk menemani tamu mereka bercengkrama dan bertukar pikiran tentang banyak hal, Bukan hanya Tetua Sio yg ada di ruangan besar itu beberapa Tetua dari berbagai perguruan, Pendekar bertopeng emas dan beberapa tambahan dari Dewan Serikat pendekar ikut di undang dalam ruangan itu.
Ada meja besar berbentuk bundar di tengah mereka.
Banyak pembahasan yg telah selsai di bahas.
"Pendekar Owen Dimana perginya Senior An saat ini???". Tetua Ling dari semeru menayakan keberadaan Kakek An
"Kurasa dia sedang mengajari cucunya,,,tapi maaf lokasi tepatnya tak dapat kupastikan" jawab Owen sambil sedikit membungkuk kearah Tetua Ling."Kukira dia Akan mengejar anak Tadi" Tetua Ling Sedikit kurang puas.
Di Bawah bulan purnama Kakek An menunjukan berbagai macam Jurus pada Cucunya kemudian menyuruhnya untuk mengulanginya kembali.
"Lily coba sedikit lenturkan tanganmu dan pusatkan fikiran pada ujung pedangmu Lalu alirkan tenaga dalam perlahan". Kakek anak memberi arahan." Baik kek". Jawab Lily singkat. kemudian mengikuti stiap gerakan dan mencoba menerapkan arahan kakeknya...
"Anak itu sangat hebat,,,aku belum pernah Melihat teleportasi Sesempurna itu" ucap Kakek An,,,matanya melihat Lily tapi fikirannya melambung jauh pada kejadian tadi sore.
"Seandainya Dia tidak memberiku arahan mungkin aku tak dapat mncapai tahap ini untuk selamanya" Fikiran Kakek An kembali melambung ia mengingat Seorang Petapa saat memberinya masukkan dalam ilmu pedang dan Teleportasi.
"Siapa tengah malam begini datang ke bawah pohon ini" ucap Yan Sin dalam hati.
"Bukakah dia Wanita dari Pedang kilat dan laki-laki itu dari pedang kembar" kembali Yan Sin berucap dalam hati.
"Le sebenarnya Aku iri pada Sang Bulan"
"Mengapa begitu Kak".
"karena Cahayanya dapat langsung menyetuh wajah indahmu"
"Ahh Kak bisa aja gombalnya"..
Mereka saling memandang satu sama lain
__ADS_1
"Aku berharap Setiap malamku seindah ini" ucap Lery
"Bukan kah itu akan terasa membosan"
"Aku tak akan pernah bosan jika itu bersamamu kak"
"Aku tak bisa menjanjikan Setiap Malam harus memiliki bulan seindah ini,, Namun aku berjanji akan selalu bersamamu"
"Baiklah aku akan mengingat janjimu kak"
"Kurasa Bunga yg berguguran ini tak memiliki arti keindahan lagi sama sekali" Randy memegang sebuah kelopak bunga yg jatuh di rambut Lery.
"Kok Bisa kak" Lery bertanya pelan. kepalanya mulai di sandarkan pada bahu Randy.
"Karena keindahan sejati bagiku adalah dirimu,,,Ku berharap untuk selalu memilikimu karena dengan memilikimu aku tak perlu takut pada kegelapan,,Dalam hatiku kamu adalah cahayaku".
"Kak,,,apakah kamu pernah melihat pelangi yg tak berwarna?"
"Jangankan melihatnya mendengarnya pun baru dari bibirmu"
"Benarkahh,,,,,Sekarang coba tersenyum" Lery mengunakan kedua tangannya untuk membuat Randy tersenyum. "Itulah Pelangi bagiku,, meski tak memiliki warna tapi keindahanya tetap sama di mataku". Mendengar itu Wajah Randy memerah bah strawbery yg menunggu di panen.
Tangan keduanya saling menggengam.
Keduanya kini mulai berhadapan..
Perlahan-lahan wajah mereka semakin dekat.
"Mereka berciuman di bawah pohon ini di saksikan bulan yg begitu indah dan kelopak bunga yg berguguran". Ucap Yan Sin dalam hati. Lalu dia menutup mata. "Seharusnya aku tak disini". Yan Sin yg berbaring di Dahan yg besar merasa tak enak mengangu orang yg memadu kasih.
"Le sebaiknya kita kembali, ku yakin Saudara Law dan Simon akan mulai mencarimu"
__ADS_1
"Baiklah kak" merekapun berjalan bergandengan tangan. cahaya kebahagian di Wajah mereka seolah mengalahkan Cahaya sang purnama.