
Dua hari setelah peristiwa Na'as itu
Beberapa pendekar hebat berkumpul di tempat jatuhnya meteor, namun anehnya tak ada meteor di tempat itu melainkn hanya kondisi desa yang hanya tingal puing-puing.
"Lawran coba gunakan jurus sayap merahmu untuk melihat sekitar dari kejauhan, apakah meteor itu menggelinding atau terhempas ke tempat lain atau gimana". Seorang pendekar dengan wajah bulat dan pedang besar di punggungnya mencoba menyuruh rekannya.
"Simon otakmu memang yg paling bodoh di dunia ini, mana ada meteor yang menggelinding atau terhempas setelah mendarat. dasaaaaaar o'on". pendekar tampan dengan panah di punggungnya mencoba mngolok
Tiba-tiba Pria yg lebih tua memukul pelan kepala kedua anak muda yg sedang berselisih trsebut "Cukup" pria yg lebih tua itu memasang muka marah.
"Maaf tetua Sio kami bersalah" kedua pemuda itu kompak meminta maaf dgn sedikit ketakutan..
setelah beberapa saat Tetua Sio tersadar bahwa bukan hanya mereka yang ada di daerah ini. Tetua itu mngeluarkan energi pada kakinya dan menyadari bahwa ada sekitar 67 orng yg brada di daerah itu..
seketika semuanya brkumpul di area yg seharusnya mnjadi titik jatuhnya meteor itu..
"hihihihi ternyata begitu banyak pendekar yang hadir disini" seorang Nenek tua yg memegang tongkat memulai percakapan
"Tetua Ning aku tak percaya orang nomor 3 di perguruan Dewi Surga sepertimu brsusah payah hadir di tempat busuk seperti ini" seorang pendekar berjubah hitam memberi tangapan
"hahaha Tetua xing dari lembah Setan sungguh memiliki aura setan". seorang pendekar muda dengan tubuh besar membuat suasana terasa panas.
"saudara pendekar sekalian baik dari golongan putih maupun hitam mohon tidak membuat kata-kata yang bisa membuat pendekar lain tersinggung" Tetua Sio menengahi.
Semuanya terdiam mengingat Tetua Sio adalah pendekar terkuat yg hadir di desa ini. Semua yg hadir jelas sangat mengetahui kekuatan Tetua Sio. menurut kabar yang beredar Tetua Sio saat ini masuk dalam jejeran 100 orang terkuat di dunia persilatan saat ini Ia di kenal dengan julukan sang pengali kuburan karena tak ada yg bisa mengunggulinya dalam hal mngendalikan tanah dan selalu mnyediakn kuburan terlebih dahulu sebelum memulai aksinya.
Diantara 67 orng yg hadir, 43 di antaranya adalah perwakilan dari beberapa perguruan besar 10 lainya merupakan perwakilan beberapa perguruan kecil dan menengah dan sisanya merupakan pendekar pengelana atau pendekar mandiri namun kekuatan mereka tidak boleh diremehkan.
"Law menurutmu selain tetua kita dari perguruan Pedang Kilat siapa yang paling kuat di antara mereka?"..simon mencoba mengukur kekuatan para pendekar yg hadir.
Lawran menghela nafas dan mulai melirik simon dengan tatapan kesal..namun tetap memberi komentar
__ADS_1
"semuanya memiliki kekuatan yg besar, untuk para pemuda yg segenerasi dengan kita, sudah dapat di pastikan bahwa kekuatan mereka masih di bawahmu sedikit sedangkan 15 tetua yg hadir belum kita ketahui seberapa kuat mereka.
"Gu guuuuuru disana ada banyak makam yg tanahnya belum kering" seorang pendekar berteriak dgn trbata-bata pada Tetua Ning.
"berarti ada yg telah mendahului kita dan berhasil mengekstrak batu meteor yg jatuh kedesa ini".
Tetua Ning menjelaskan dengan sedikit rasa bingung. Bagaimana tidak, ia tau bahwa jika ingin mengolah batu meteor mnjadi energi Qi maka itu perlu proses yang lama, belum lagi tak ada bekas meteor tertanam di daerah ini.
"Siapa yang begitu kuat di dunia persilatan ini, yg mampu mengolah batu meteor sebesar sebuah desa mnjadi Qi dalam 2 hari".
Tetua Sio mulai berfikir sambil memegang jenggot hitamnya.
" kurasa Kakak Seperguruanmu pun tak akn mampu melakukan hal demikian". jawab seorang pria tua berambut putih.
"Tetua Ling dari perguruan Semeru memeng sangat cerdas, aku jga berfikir sama sepertimu"
Tetua Sio mencoba menanggapi.
"hahaha aku tak menyangka Ketua perguruan pedang Kilat yg tersojor dan di kenal orang terkuat kedua di dunia persilatanpun tak bisa melakukan hail ini" Tetua xing yg ikut memberikan komentar mencoba mncairkan suasana.
Tetua Ning mencoba membayangkan sosok Pria tua yg menurutnya adalah orang terkuat di dunia persilatan.
"hmm maksudmu Si Petapa Gila bernama Mao sun"
Tetua Ning menjawab dengan nada kesal.
"iya menurutku hanya dia yg memiliki ilmu silat dan tenaga dalam melebuhi kakak seperguruanku"
Tetua Sio berbicara dengan nada datar.
"Tetua kami berdua menemukan jejak yg hampir di tutupi oleh debu"
__ADS_1
Simon yg biasa berbicara banyak langsung memandang tetua Sio.
"Simon, bukan kah sudah kukatakan jangan memberitahu Tetua terkait hal yg kita temukan di depan semua orang"
Lawran melotot ke arah Simon.
"maaf aku tak sabar memberitahu tetua"
Simon memasang wajah takut melihat ekspresi Lawran.
"Cepat katakan apa yg kalian temukan, jangan mencoba mengambil keuntungan untuk perguruan kalian sendiri" Tetua xing mengeluarkan aura membunuhnya yg kuat.
"apakah perguruan aliran hitam ingin memulai perang dunia persilatan hanya karena batu meteor yg tak jelas keberadaannya ini?"
Tetua Sio menghentakkan kakinya ketanah membuat getaran yg cukup kuat.
Seketika aura membunuh Tetua xing menghilang di akibatkan rasa kagetnya yg teramat sangat.
"Law coba jelaskan apa yg kalian temukan tak perlu di rahasiakn agar tak menyulut api peperangan dan membuat permusuhan antara kita dan aliran hitam brtambah parah"
Tetua Sio mencoba menenangkan keadaan.
"Tetua kami menemukan jejak yg mirip seperti langkah seorang anak yg sedang merangk"
"bagaimana mungkin ada mahluk yang selamat dari peristiwa ini, apalagi itu seorang anak kecil yang masih merangkak, bodoh sekali"
Belum selsai Lawren menjelaskan Tetua Ning langsung memotong.
"Para tetua sekalian, mata kami tak mungkin salah mengganalisi hal ini".
Lawran mulai trlihat kurang senang akibat penjelasannya di anggap hal bodoh.
__ADS_1
"Sudah-sudah mari kita sama-sama memeriksanya". Tetua Sio menengahi. Lalu semuanya bergerak dengan cepat mengunakan ilmu meringankan tubuh.
Setelah sampai semua mata trbuka lebar kecuali simon dan law.