
"Nona Mey Bocah itu mungkin lebih kuat dariKu,,bagaimana mungkin Kamu ingin memperlakukan dia seperti bayi yg baru lahir" Pendekar Vais menegur.
"Aku tak butuh pendapat Pemabuk sepertimu" Nona mey memasang wajah manyun, Pipinya di kembung-kembungkan dan bibir di buat maju.
"Haha Kurasa anak itu memang sangat menarik,,selain kekuatan!!! wajah imutnya juga bisa menghipnotis banyak mata yg memandangnya". Tetua Shaman Menghampiri para pendekar yg masih di arena.
Tang san, simon, Law, Tetua Sio, Vais, Nona Mey, Owen dan Tetua Hen menganguk bersamaan.
"Jangankan guru dan Senior hebat seperti seperti kalian,,Sepasang sejoli yg berpapasan denganku juga ingin memiliki Anak semenarik Dia,,,,dua orang sebelum mereka juga mendebatkan anak itu". belum selsai Tetua Shaman berbicara,,,semua mata telah mengarah pada Randy dan Lery serta Tetua Sio dan Dango yg mulai menuruni Arena.
"Berarti mereka telah resmi menjalin Cinta". Simon berkomentar tanpa berpikir panjang. Law menatapnya penuh makna.
"Apa yg di inginkan dua Rival gila itu dari Anak angkatku" Tang San masih memandang Kedua temannya yg sudah hampir sampai di tangga utama.
"Sebaiknya kita Ke Gedung Para Tetua untuk bertukar pikiran dan untuk Nak Tang jangan terlalu memikirkan Ucapanku terkait ganti rugi sebelumnya" Tetua Shaman tersenyum pada Tang San.
"Terima Kasih Tetua,,aku tetap akan mengati kerugian itu nantinya jika aku sudah memiliki uang yg cukup". Tang San membalas senyuman Tetua Shaman.
Semua pendekar melangkah ke arah utara tempat Bagunan para tetua sementara Tang san menuju arah Baguan Pertama tempat para tamu berada. Guru,,para pendekar dan Tetua skalian,,,Aku hendak menyusul Putriku yg telah kembali ke penginapan kami". Tang San meminta izin pada semua orang. "Simon,,,Law Kalian juga ikut denganku ke penginapan pedang Kilat untuk menjaga pada junior dan peserta yg berhasil Lolos ke babak selanjutnya". Tang San memanggil kedua Adik seperguruannya. "Baik Kak" keduanya kompak menjawab bersamaan.
"Kak Apakah Anak itu Akan menjadi murid di perguruan kita" Law bertanya saat mereka sedang berjalan menuju penginapan.
"Aku yakin Dia tak cocok menjadi murid,,karena dia lebih kuat dariku". Tang San mengeleng. "Terlebih lagi keberadaanya tak dapat di ketahun bahkan Oleh Kakek An sekalipun" Tang San menambahkan.
"Kak Kurasa dia Sedang Makan Kambose" Simon berpendapat sesukanya.
__ADS_1
"Dasar Otak udang,,,isi kepalamu hanya makanan saja,,,Coba lihat mukamu yg bulat itu,,rasanya memang mirip Biji Jagung yg sangat besar". Law Menarik pipi simon yg berlemak.
Tang San Dan Law tak kuasa menahan tawa. mereka terus melangkah sambil bersenda gurau.
"Kak apa menurutmu dia Cucu si petapa Gila" Tetua Hen bertanya saat para tetua dan pendekar berjalan menuju Gedung tetua.
"Mengapa kamu selalu terobsesi oleh Orang tua itu,,,apa kalian Homo" Jawab Tetua Shaman. Semua orang menahan tawa takut tetua Hen tersinggung.
"Dia adalah satu-satunya orang yg bisa bermain imbang denganku dalam adu strategi permainan Catur". Tetua Hen kembali mengingat Kenangannya bersama Petapa Gila..
"Dasar Tua bangka otakmu tak bisa Jauh dari Catur,,,Lain kali aku akan menyuruh murid-murid untuk menyediakan Pion catur dalam piringmu" Tetua Shaman bertambah kesal. "Tetua Shaman jgn terlalu menekan Tetua Hen". Tetua Sio menengahi. "Maaf atas ketidaknyamanan Tetua Sio,,Aku Hanya mulai lelah menghadapi tingkah Adik bodohku ini". Tetua Shaman Meminta Maaf dengan sedikit rasa malu.
"Senior,,, apa menurutmu Si Rambut Emas tau sesuatu tentang Bocah Ajaib itu???" Pendekar Owen Bertanya pada Tetua Sio." Entahlah,,,,,Ku kira kamulah yg paling mengenal Senior An". Tetua Sio terlihat bingung.
Setelah Beberapa Menit berlalu semua pendekar Sampai Di Gedung para tetua.
" Tetua Sio,, Kuyakin anda Sebelumnya pernah ke Sini tapi Belum semegah ini bukan" Pendekar Vais memandang seisi ruangan.
Perwakilan Dewan memang bermalam di Gedung ini jadi Sudah cukup mengetahui perubahan Gedung Para tetua itu.
"Sebaiknya kita langsung ke ruang makan,,baru setelah itu kita Bisa Berdiskusi kembali". Tetua Shaman Mengajak semua tamunya.
"Ayah coba lihat ini Ada sebuah karung dan Ada Surat juga cepatlah baca" Lian langsung berlari memberikan Surat di tangannya ketika melihat Tang San dan dua lainnya memasuki penginapan.
"Coba Mari ayah lihat apa isi surat itu" Tang san mengambil surat itu dan membacanya.
__ADS_1
*Paman Tang mohon maaf karena merusak reputasimu dan memberikan Anda banyak masalah....Semoga suatu saat aku dapat membalas kebaikan Paman.
Aku tak tahu apakah Yg di dalam karung itu bisa membantu meringankan beban paman atau tidak?...
Jika bisa membantu Maka Aku akan memberikan Beberapa karung lagi Nantinya.
Aku Sudah berusaha sekuat Tenaga untuk menekan kekuatan ini,,Tapi masih Kurang terkontrol...
Tolong Sampaikan salamku pada Paman Dango dan Tetua Bio
Yan Sin*
Tang San sedikit meneteskan Air mata. "Anak bodoh,,,Paman malah akan semakin Di kenal di dunia persilatan karena ulahmu dan Membuat Paman bangga Atas Prestasimu yg bisa membuat Keok seorang tetua yg berada Di level master" Ucap Tang San penuh haru.
"Kak Tang coba lihat isi karung ini banyak sekali" Simon Membuat situasi haru menjadi hilang seketika.
"Dasaar O'on,,,Mengapa orang bodoh sepertimu selalu membuat ulah". Law mencoba menarik Telinga Simon namun berhenti saat melihat isi karung itu....
"Kak Tang ini biji Emas semua" Mata Lery seolah bercahaya melihat isi karung itu.
Tang San, Lian dan semua penghuni Penginapan itu berjalan cepat ke Arah karung itu. Semua terpana melihat isi karung itu
"Kak menurutku ini lebih dari seratus kilogram,,,,,bukan hanya membayar utangmu tapi ini juga bisa membeli Sebuah Rumah di Kota kerajaan" Ucap Lawren.
"Sepertinya biji emas itu sama berharganya dengan koin Emas" Ucap Yan Sin dalam hati.
__ADS_1
Yan Sin duduk di jendela sambil memperhatikan mereka. Bukan hanya hawa keberadaannya,,,Tubuhnya pun Tak dapat Dilihat meski pendekar Legenda Skalian.