PENGAWAL RASA TUAN MUDA

PENGAWAL RASA TUAN MUDA
TEMPO DULU


__ADS_3

Hari bertemu dengan Elliot Foster pun tiba, Lea memakai anting kupu-kupu itu, dipadu padankan dengan gaun selutut berwarna putih. Sederhana tapi indah di pandang mata. Ketika sarapan bersama, Lea mendapatkan banyak wejangan lagi dari Nenek Atkinson, “Perlakukan orang dengan sopan santun, kesopanan, dan kebaikan maka mereka akan sungkan kepadamu.”


"Memulai perlu keberanian, membesarkan perlu ilmu. Itulah kuncinya dalam berbisnis, jadi semangatlah memulai jangan pernah takut, aku akan selalu mendukungmu," janji Nenek Atkinson sambil menepuk-nepuk pungung telapak tangan Lea.


“Semakin sulit perjalanan hidup, maka kau akan semakin kuat,” ujar Nenek Atkinson menutup nasihat paginya.


Lea menyesap jus jeruknya, lalu bangkit berdiri dan mencium pipi Nenek yang sangat disayangi itu, “Doakan keberuntungan selalu menyertaiku,” ujar Lea sembari mengecup-kecup pipi Nenek Atkinson lagi, “Aku pergi,” ujar Lea lagi.


Nenek Atkinson tersenyum dan mengucapkan harapannya dalam hati, “Semoga keberuntungan selalu menyertaimu, Nak.”


Ingatan Nenek Atkinson melayang kepada kejadian dulu sekali. Ketika masa kanak-kanak Lea. Pada saat itu sedang ada perjamuan yang diselenggarakan oleh Keluarga Baker. Dia pergi membawa Claudia dan juga Lea. Waktu itu ada anak kecil cacat yang sedang duduk di kursi roda, lalu datanglah Eddie dan Claudia, mengolok-olok anak itu.


Claudia mentertawainya lalu meminta Eddia agar mendorong kursi roda itu, karena dia bilang dia tidak percaya jika anak itu tidak bisa berjalan. Pada saat itu, Lea berlari dengan kencang, kejadian itu terjadi di area yang sedikit jauh dari tempat perjamuan yang berkonsep pesta kebun.


Nenek Atkinson kebetulan berada tidak jauh dari sana juga dan menyaksikan kejadian itu. Melihat Lea langsung saja terjun ke danau buatan itu. Claudia dan Eddie lari pergi dari sana. Lea berhasil menarik anak itu keluar dari dalam danau.


Anak itu pingsan, ketika Lea dengan susah payah membawa tubuh anak itu ke sisi taman, orang-orang pun datang dan langsung menghardik Lea. “Apa yang kau lakukan!” hardik Nyonya Baker.


“A-aku … tidak,” ujar Lea sedikit terbata karena merasa ketakutan dalam kepungan orang dewasa.


“Dia, dia yang melakukannya, dia mendorong anak itu,” ujar Claudia menunjuk kepada Lea.


“Plak!” satu tamparan keras medarat di wajah Lea.

__ADS_1


Lea hanya bisa memegangi pipinya yang kebas, Sebagai anak dari istri simpanan Lea sadar diri dan selalu menjaga sikap agar tidak membuat malu keluarga Atkinson. Melihat dan memaham hal ini maka Nenek Atkinson maju lalu membelanya, “Tuan Eddie Baker!” panggil Nenek Atkinson dengan nada yang sedikit mengintimidasi.


Merasa namanya di sebut oleh Nenek Atkinson, maka Eddie pun maju melangkah, Nenek Atkinson bersimpuh di depan, “Apa ada yang ingin kau katakan?” ujar Nenek Atkinson.


Eddie terdiam, dia menggigit bibir bawahnya, menahan gemuruh di hatinya berharap tidak sampai terdengar keluar. Nenek Atkinson mengusap puncak kepala Eddie sambil membisikan sesuatu. Kedua mata Eddie terbelalak mendengar ancaman Nenek Atkinson.


Eddie pun berkata, “Aku yang melakukannya, maafkan aku jika candaanku membahayakan.”


Mendengar pengakuannya, maka Nyonya Baker pun terdiam sambil memandang dengan perasaan tidak enak kepada Lea, ‘Panggilkan dokter!” ujar Nyonya Baker sambil memandang anak yang sedang pingsan itu.


Nyonya Atkinson berdiri, lalu berkata, “Kelak aku akan menagih hutang satu tamparan itu!”


Benar saja ketika Lea dan Eddie bertumbuh dewasa, Nenek Atkinson meminta agar Eddie Baker bertunangan dengan Lea, berharap nama besar Atkinson bisa mengontorl Eddie. Tapi malah salah sasaran, Claudia tetap saja menjadi orang yang bisa mengendalikan Eddie Baker. Karena kejadian tempo dulu itu, di tambah dengan apa yang terjadi di saat ini, maka Nenek Atkinsin semakin menyayangi Lea.


Nenek Atkinson masih terkenang masa lalu sementara, Lea sudah pergi ke Foster Grup bersama dengan Will. Di dalam mobil Lea merasa gugup, Tidak pernah terbayangkan sama sekali, jika hari ini dia akan bertemu dengan Eliito Foster si raja bisnis, Will mengeluarkan suaranya,


“Aku takut jika nanti aku malah memberikan kesan yang salah,” ujar Lea.


“Tidak tenang saja, Tuan Foster bukan orang yang suka mencari-cari kesalahan orang,” jawab Will lagi.


“Ah begitu ya,” ujar pelan Lea.


Sepersekian detik setelah berkata seperti itu, Lea pun menoleh kepada Will yang sedang fokus menyetit mobil mereka, “Darimana kau tahu dia orang yang seperti apa?” tanya Lea menyelidik dengan mengerutkan dua alisnya.

__ADS_1


Raut wajah Will menegang, lalu dia berkata, “Jika dia suka mengurusi urusan orang lain, maka pasti saat ini wajahnya akan selalu terpampang di mana-mana. Jadi aku menilai Tuan Foster ini adalah orang yang tertutup, tidak sembarang orang bisa mendekatinya, dan tidak suka mencari keburukan orang lain.”


Lea berpikir jika perkataan Will ada benarnya, dia pun berhenti mendebat. Mereka pun sampai di Foster grup, Elazar menyambut kedatangan mereka semua, mempersilahkan menunggu. Setelahnya hanya meminta Lea untuk masuk ke dalam. Will menunggu diluar. Elazar membawa masuk Lea ke ruang kerja Elliot.


“Silakan Nona,” ujar Elazar seraya menarik kursi yang ada di depan meja kerja Tuan Foster.


“Terima kasih,” jawab Lea sembari tersenyum sopan.


Lea merasa sedikit canggung, karena temaran cahaya oranya di ruanga sedikit mengaburkan keadaan di dalam ruangan itu. Elazar pun meninggalkan Lea sendirian, Lea sedikit limbung seraya berpikir tuan Elliot itu benar-benar misterius, ini sampai terasa di ruangannya, sangat terasa hawa misteriusnya.


“I-ini dia bukan Vampire kan, mengapa dia suka sekali dengan gelap.”


Sebuah kursi besar berputar menghadap Lea, sebuah wajah yang setengah di sinari cahaya, hanya memperlihatkan bagian bibirnya saja, selebihnya tertutupi oleh gelap. Sementara wajah Lea, terang benderang di sinari cahaya lampu.


“Oh ya ampun,” ujar Lea terkejut sembari memegangi dadanya.


“Tuan Foster,” sapa Lea dengan sedikit meragu.


“Nona Atkinson,” sapa balik Elliot Foster.


“Iya Tuan, senang bertemu denganmu,” jawab Lea sembari memberikan uluran tangan kepada Eillot foster.


Lea memperhatikan tangan yang berbalut sarung tangan elegan, terlihat mewah. Meski hanya sarung tangan musim dingin. Tapi itu terlihat mahal, sekali lagi Lea menelan rasa keanehan yang mengganjal di hati. Bersikap senatural mungkin.

__ADS_1


Lea langsung saja mengucapkan terima kasih karena Foster Grup sudah mau berinvestasi kepada toko mainannya yang terbilang tidak termasuk besar dan juga tidak termasuk kecil. Panjang lebar Lea mengungkapan apa yang mau dia katakan, tapi malah Elliot membalasnya dengan satu pertanyaan yang terdengar aneh, “Apa sudah memiliki pria yang disukai?”


“Apa?” imbuh Lea dengan sedikit terkejut sambil mengerutkan kedua alisnya dan menggigit bibir bawahnya.


__ADS_2