
“Eum, Tuan Foster maafkan aku,” ujar Lea dalam hati, karena baru saja mengirimkan pesan penolakan kepada investor nomor satunya itu.
Lea kembali fokus pada kerumunan yang mengelilingi mereka, belum juga menyelesaikan studi kasus dari Tuan Mortgage. Tapi sudah harus menyelesaikan kasus ala-ala detektif.
Mendengar jika mereka memaksa Will menikahi Eva maka Lea menaikan satu alisnya.
Dia menarik Will untuk berdiri di belakangnya, bersedekap tangan lalu berkata, “Atas dasar apa jika orang-ku ini harus menikahi wanita asing ini.”
“Hanya atas dasar pengakuan dia saja? Begitukah!” ujar Lea lagi.
“Apa kedua mata kau buta Nona? Lihat saja pakaian dia sudah rusah begini!” ujar salah satu dari mereka lagi.
Lea terdiam seraya memandang kepada Eva, dengan tatapan dingin dia berjalan ke arah Eva. Lalu melepaskan paksa jaket yang sedang dipakai oleh wanita asing itu, “Apa kau sudah gila!” hardik wanita itu Kepada Lea.
Eva pun di bawa pergi oleh warga setempat, Lea pun langsung saja menarik Will yang masih berdiri diam sedari tadi. Wajah Lea nampak marah. Mereka kembali masuk ke dalam hotel, dan semua pergi ke masuk ke kamar Lea.
Mereka bertiga terdiam beberapa saat, lea berdiri lalu berkata kepada Will, “Katakan bagaimana kejadian sebenarnya?”
Will pun mulai menceritakan kejadian yang baru saja terjadi, sesaat yang lalu Lea merasa terganggu pikirannya ketika melihat baju Eva yang terkoyak. Dia pun diam, lalu berdiri dan berkata, “Aku akan membuatkan coklat hangat dulu.”
Tiga gelas coklat hangat pun telah tersaji, Lea duduk dengan elegannya dan berkata, “Sayangnya tidak ada CCTV di sana.”
“Wajar saja jika mereka berpikir itu tidak begitu penting, karena penduduk asli desa ini hanya sekitar 15 penduduk saja,” ujar Samuel.
Will menyesap coklat hangatnya seraya berkata, “Nona, aku menyerahkan nasibku kepadamu,” ujar pengawal pribadinya itu.
Lea , menghela napas lalu berkata, “Kalian beristirahat dulu saja.” Dia berkata lagi, “Aku akan memikirkan sebuah cara.”
Will dan Samuel pun pergi meninggalkan kamar Lea, dia menyandarkan tubuhnya di sofa seraya bergumam, “Mengapa jadi seperti ini?”
__ADS_1
Sampai dini hari Lea tidak bisa tertidur, ketika membaca pesan dari Tuan Brimingham jika esok adalah hari terakhir memberi keputusan, jika tidak mereka akan menempuh jalur hukum. Membaca itu Lea semakin tidak bisa tidur.
Baru saja ingin terpejam, tiba-tiba saja dia teringat dengan pemandangan ketika Will keluar dari kamar hotelnya ini. dia pun segera bangkit dari ranjang lalu keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar Will.
Pintu pun terbuka, tapi Lea malah terperanjat melihat Will hanya memakai celana piyama tidur dan bagian atasnya bertelanjang d*da. Suara magnetis pengawal pribadinya itu membuyarkan lamunan Lea, “Ada apa Nona?”
Lea langsung saja mendorong Will untuk masuk ke kamarnya, lalu dia berkata, “Mana baju yang kau pakai di hari kejadian?”
Will langsung saja mengambil baju itu dari tong sampah dan memberikannnya kepada Lea. Dengan seksama Lea langsung saja mengambil kemeja itu dan memperhatikannya. Melihat robekan itu wajah Lea pun tersenyum. Lalu berkata kepada Will, “Simpan ini sebagai barang bukti.”
“Aku akan jadi malaikat penyelematmu esok, jadi ke depannya kau harus patuh dengar kepadaku.” Ujar Lea seraya pergi meninggalkan kamar Will.
Pagi-pagi sekali mereka sudah berada di kantor balai desa, Lea sengaja datang terlambat. Orang ramai telah menunggu kedatangan mereka, tapi Lea dengan santainya baru tiba. Bahkan memakai topi besar bulat dan kacamata.
Dia duduk berhadapan dengan Eva seraya membuka kacamatanya tanpa membuka topinya, lalu dia berkata, “Coba katakan kepada kami tentang kejadian semalam.”
Eva menceritakan kejadian itu dengan kalimat dan nada yang mengenyuh hati bagi siapa saja yang mendengarnya. Selesai Eva bicara. Lea pun berdiri dan membuka topi besar bulatnya itu, topi yang sedari tadi menutupi Sebagian wajahnya.
“Tuan Brimingham bisakah kau membantuku sebentar!” pinta Lea.
“Tentu saja,” jawab Tuan Brimingham.
Lea meminta kantong yang dibawa oleh Samuel, dia mengeluarkan kemeja itu lalu memakaikannya ke badan Tuan Brimingham, Lea berkata lagi, “Bisakah kau berjalan seperti seorang model dengan sedikit berputar-putar!”
Tuan Brimingham sedikit bingung, tapi pada akhirnya mau mengikuti perintah Lea. Baru berhenti ketika Lea rasa sudah cukup, “Terima kasih Tuan Brimingham.”
Lea pun menepuk tinggi-tinggi tangannya tiga kali di atas kepalanya, “Tuan-tuan apa yang baru saja kalian lihat tadi adalah bukti bahwa orangku tidak bersalah.”
Balai desa pun menjadi riuh, berbisik-bisik apakah bukti yang dimaksud adalah Tuan Brimingham yang berjalan, berlenggak lenggok seperti model tadi. Melihat jika yang hadir di balai desa itu masih merasa bingung maka Lea pun sekali lagi meminta Tuan Brimingham berdiri di sebelahnya.
__ADS_1
Dia membalikan badan Tuan Brimingham, lalu berkata, “Apa kalian tidak melihat robekan ini?”
“Apakah jika seseorang yang ingin berlaku cabul kepada korban, dan ada perlawanan dari korban, menurut kalian bagian mana yang akan robek lebih dulu jika di tarik oleh korban?”
Mereka semua terdiam sesaat lalu bisik-bisik terdengar lagi, salah satu dari yang hadir menjawab, “Seharusnya bagian depan.”
Lea pun tertawa seraya berkata lagi, “Ok! Jadi sudah di putuskan siapa yang salah dan siapa yang benar.”
Eva mendorong Lea sambil berkata, “Dia harus bertanggung jawab, dia harus menikahiku!”
“Ha … ha … ha,” Lea tertawa terbahak-bahak dan berkata lagi, “Mimpi saja kau, Dia hanya akan menikah denganku!”
Mendengar ini bukan hanya yang di balai desa itu yang tercengang, Will Armstrong lebih-lebih lagi terkejutnya. Beberapa detik berlalu, Lea baru menyadari perkataannya tadi dan juga sama tercengangnya dengan Will. Mereka berdua saling memandang.
Pada Saat ini Will berjalan kea rah Lea, lalu dia memasukan jemari tangannya ke dalam tangan Lea lalu menariknya keluar dari Balai desa itu, “Ei … ini kita mau ke mana?”
“Bukankah Nona bilang, aku harus mematuhi perkataan Nona?” jawab Will.
Wajah Lea langsung memucat ketika teringat perkataan semalam dan perkataan ketika di balai desa tadi, sambil mengikuti langkah Will, dia berkata lagi, “Apa maksudmu hari ini kita akan menikah?” tanya Lea dengan sedikit terbata gugup.
“Tentu saja,” jawab Will yang semakin mantap masuk ke dalam gereja.
Kebetulan sedang ada pendeta yang sedang berdiri di mimbar, Will langsung menghampiri dan berkata “Tuan apakah bisa menikahkan kami?” tanya Will kepada pendeta itu.
Samuel yang baru saja ikut masuk ke geraja, langsung saja tercengang sampai tersandung-sandung. Pendeta menyanggupi permintaan Will. Pendeta pun berdiri di tengah, lalu Will dan Lea berdiri saling berhadapan.
Pendeta pun mulai mengucap doa lalu mengambil janji suci pernikahan, Lea memandang kedua mata Will yang seakan menghipnotisnya sehingga Lea berkata “Aku bersedia.”
“Kau boleh mencium mempelai wanita-nya,” ujar si pendeta itu.
__ADS_1
Mereka pun dianggap sah telah menikah di hadapan Tuhan, Lea masih mensinkronkan pikirannya, Status dia yang pagi ini sudah berubah menjadi Nyonya Armstrong. Will berkata, “Nanti kita akan menikah ulang.”
Lea tidak begitu mendengarkan perkataan Will, karena dirinya masih Shock, semenit lalu masih lajang, semenit kemudian sudah menjadi Nyonya Armstrong.