PENGAWAL RASA TUAN MUDA

PENGAWAL RASA TUAN MUDA
MAU PERGI KE MANA?


__ADS_3

Claudia menarik kursi dan duduk di sebelah Eddie, berhadapan dengan Lea. Sambil berbisik Claudia berkarta, “Apa kau sudah bosan miskin, aku dengar pacarmu itu Sudah miskin. Apa sekarang kau mengincar kekayaan Keluarga Baker lagi,” ujar Claudia sembari menepuk-nepuk bahu Lea dengan pelan, bagaimana pun juga dia harus menjaga imej di depan tunangannya itu.


“Jangan bermimpi terlalu tinggi sayang,” imbuh Claudia seraya mengusap lembut puncak kepala Lea.


Lea pun melempar senyum sarkas kepada Eddie dan Claudia, “"Hidup adalah mimpi untuk orang bijak, sebuah permainan untuk orang tolol, sebuah komedi untuk orang kaya dan tragedi untuk yang miskin".


“Terserah kalian mau menjalani hidup yang bagaimana, yang pasti aku akan terus mimpi setinggi mungkin, dan menggantungkannya di Langit, karena aku bisa mencari kekayaan sendiri. Tidak membutuhkan seorang pria untuk menyokong hidupku,” imbuh Lea sembari mengangkat dagunya, lalu berdiri dan bergegas meninggalkan Eddie dan Claudia.


Baru beberapa langkah Lea membalikan badannya dan berkata, “Oh ya aku tunggu undangan pernikahannya ya, kalian berdua itu pasangan yang sangat cocok.”


Lea pergi dengan elegannya, Eddie tidak berkedip memandangi siluet indah dari Nona Kedua Atkinson itu. hati Claudia semakin memanas bak besi yang sedang di bakar api menyala-nyala. Lamunan Eddie dibuyarkan oleh perkataan Claudia, “Apa kau ingin kembali kepadanya?”


Eddie berdiri seraya berkata, “Jaga sikapmu, jangan membawa aib kepada keluarga Baker!”


Pria itu pergi meninggalkan Claudia dalam kelimbungan, wanita itu sedang berpikir jika apa yang baru saja dia dengar adalah salah. Prianya itu sudah mula berubah, cahaya masa depan yang telah dia bayangkan selama ini, menjadi wanita dari pria kaya raya, keluarga terpandang. Semua gambaran idaman itu seperti akan pecah berkeping-keping.


Claudia mengambil tas nya dan segera mengejar pria idamannya itu, “Eddie … Eddie,” panggil Claudia berkali-kali karena diabaikan oleh pria itu.


Claudia menarik marah lengan Eddie seraya berkata, “Kau tidak bisa melakukan ini kepadaku, aku sudah banyak berkorban untukmu!”


Eddie sudah mulai terganggu dengan kehadiran Claudia, “Bisa tidak jaga sikapmu, jangan bar bar seperti ini, jika seperti ini kau terlihat seperti P*lacur yang sedang menagih bayaran yang tidak di bayar!”


Claudia merasa seperti tersambar petir ketika mendengar perkataan pahit dari Eddie Baker, Dia pun mendorong tubuh tunangannya itu, “P*lacur … katamu!”


Dia pun tertawa sarkas dengan sedikit meneteskan air mata di ujung matanya, “Katakan padaku Tuan Baker yang terhormat, Apa ketika kau menikmati tubuh P*lacur ini, apakah kau menikmatinya?”

__ADS_1


“Bahkan dalam sehari kau bisa meminta berkali-kali, jadi jika aku p*lacur lalu kau di sebut apa, pria yang candu pada tubuh p*lacur ini!” hardik marah Claudia sambil mendorong tubuh Eddie lagi.


Eddie pun tersenyum sarkas lalu berkata, “Apa kau pernah melihat permen yang dibungkus rapih dan di simpan di toples kaca, sudah pasti terjaga bukan?”


“Kau adalah permen tanpa bungkus, apapun bisa hinggap kepadamu, sedangkan Lea adalah permen dengan bungkus!” ujar Eddie sambil berlalu pergi tidak ingin memperpanjang perdebatan.


Tubuh Claudia menglulai, mundur beberapa langkah. Merasa ada yang menahan tubuhnya ketika akan lunglai ke lantai, dia pun menengadahkan kepalanya. Sosok pria tinggi bergaris rahang keras dengan binar mata yang gelap, tersenyum tipis kepada Claudia.


“Jika ingin melihat lebih jelas, buka lebar-lebar kedua matamu, Jangan menjadi bodoh,” ujar Pria itu sembari melepaskan tangannya dari tubuh Claudia yang tadi memapahnya.


“Jika ingin menepuk lalat sampai mati, maka kau harus memilih alat yang benar!” ujar Pria itu lagi.


Claudia terperanjat melihat dan mendegar perkataan, pria itu, “Kau siapa?” ujar Nona Pertama Atkinson itu dengan terbata.


“Datangalah ke street Avenue 57!” ujar pria itu dengan suara yang sedikit serak basah.


“Pergi ke rumah Kakek!” perintah pria misterius itu kepada supirnya.


Di kediaman Atkinson, Elliot menunggu di depan gerbang pintu masuk kediaman Lea itu, Melihat jika itu adalah Tuan Foster. Maka Lea pun segera menghentikan mobilnya seraya menghampiri, “Apa menunggu lama?”


Elliot langsung saja menarik pinggul ramping Lea, lalu memeluknya dan meletakan kepalanya di bahu Lea, merasa ini pertama kalinya Elliot berlaku manja seperti ini. Lea pun tertawa lalu membalas pelukan pria itu seraya berkata, “Ada apa?” tanya lembut Nona kedua Atkinson itu.


“Hanya ingin memeluk saja,” jawab manja Elliot lagi sambil mengecup-kecup leher Lea.


Tubuh Lea sedikit meremang ketika dicium oleh Elliot, lalu terdengarlah suara magentis dari pria yang mencintai Nona kedua Atkinson itu, “Apa kau akan tetap mencintaiku jika aku benar-benar tidak punya uang untuk membahagiakanmu?”

__ADS_1


Suasana pun menjadi melankolis ketika Elliot berkata seperti itu, Lea manatap pria yang masih memeluknya smabil berkata, “Apa kau sakit?” ujarnya seraya memegang kening Elliot Foster.


Pria itu pun tersenyum manis, dan memandang lekat-lekat wajah gadisnya yang meneduhkan itu. Lea pun bersandar di dada Elliot seraya berkata, “Aku yakin kau akan membahagiakanku dengan ataaupun tanpa harta.”


Medengar perkataan Lea, semagat Elliot seperti terpompa berkali-kali lipat sekaan pompaannya itu bisa menyalakan satu turbin listrik.


Hati Elliot pun menjadi sedikit tenang, lalu dia berkata lagi, “Dalam beberapa hari mungkin aku akan sedikit sibuk, jadi jangan terlalu merajuk jika kau tidak bisa menemuiku.”


“Mau pergi ke mana?” tanya Lea seraya menengadahkan kepalanya.


“Menyelesaikan pekerjaan,” jawab Elliot seraya berkata lagi, “Apapun yang terjadi, aku ingin kau terus percaya kepadaku, jangan dengarkan yang lain!”


“Apa kau paham?” tanya Elliot sambil menapuk wajah Lea dengan kedua telapak tangannya yang hampir bisa menutupi wajah Lea.


Melihat binar serius dari kedua mata Elliot Foster, Lea pun mengangguk mengerti. Pria berwajah tampan itu pun menundukan kepalanya lalu mentautkan bibirnya ke mulut manis Nona kedua Atkinson itu.


Kedua tangan Elliot mengeratkan pelukan di tubuh ramping Lea yang terlihat sedang berjinjit karena Elliot begitu tinggi. Rintik hujan menyapa wajah keduanya, barulah Elliot melepaskan tautan bibirnya dari Lea.


“Masuklah! Jangan sampai sakit!” ujar Elliot seraya mengusap lembut puncak kepala Lea.


Lea pun melepaskan pelukannya, lalu masuk ke dalam mobilnya dan melajukannnya ke kediaman Atkinson. Elliot memandanginya lalu dia melajukan mobilnya, sebuah ponsel berdering itu adalah panggilan dari Kakek Foster.


“Datanglah kemari!” perintah Kakek Foster.


Elliot tidak menjawab, Namun mulai mengarahkan laju mobilnya ke kediaman keluarga Foster. Dalam menyetit mobil , dia termasuk tipe orang yang ketika setelah memegang setir, dia jadi sangat pendiam dan fokus tak bisa diganggu.

__ADS_1


Elliot memiliki gaya hidup yang sibuk dan butuh jeda sejenak dari kegilaan hidup. Menyetir adalah salah satu cara dia memberi jeda di dalam dunianya yang sibuk itu.


__ADS_2