
Jika Will sedang bingung bagaimana memperkenalkan Lea kepada keluarganya, lain hal dengan Lyra yang seedang bingung apakah penekanan berita itu benar-benar perbuatan Elliot Foster, Untuk memastikan dia pun segera pergi ke Foster grup.
Lyra selalu menganggap jika Elliot Foster adalah tunangannya, padahal waktu itu Elliot tidak pernah datang ke pesta pertunangan yang diputuskan secara sepihak. Tapi, Lyra malah sudah menganggap jika mereka sudah bertunangan.
Keluarga Foster memberikan Lyra akses untuk bisa keluar masuk gedung foster sesuka hatinya, beberapa asisten Elliot yang mengenali Nona Hanks langsung saja menyambutnya, “Apa Tuan Foster ada?” tanyanya karena tidak berhasil menghubungi nomor ponsel Elliot.
“Sedang tidak di tempat,” jawab Asisten Elliot itu.
“Kemana?” tanya Lyra lagi.
“Sedang pergi dinas luar,” ujar asisten itu dengan sedikit ragu-ragu.
Lyra melihat satu-satu asisten yang sedang berada dekat dengannya, lalu menunjuk salah satu yang terlihat lebih pendiam, “Kau kemari!” ujar Lyra.
Asisten itu pun pergi mendekat, lalu Lyra bertanya, “Apa Tuan foster pernah membawa seorang wanita kemari?”
Asisten itu langsung saja keluar keringat dingin, belum juga menjawab, asisten nomor satu Will datang dan langsung menjawab pertanyaan itu, “Pernah.”
Lyra menoleh, lalu berkata lagi. “Apa kau serius, dia pernah membawanya langsung ke sini secara pribadi?”
“Tidak secara pribadi membawanya, tapi mengundangnya untuk datang secara pribadi,” jawab asisten nomor satu Elliot itu.
“Apa? Dia sendiri yang mengundang Nona kedua Atkinson?” tanya Lyra dengan mata yang sedikit terbelalak karena terkejut.
“Ya,” jawab asisten nomor satu itu lagi.
“Katakan saat ini, dia pergi kemana?” tanya Lyra lagi.
__ADS_1
Dengan sambil berlalu asisten nomor satunya Elliot itu berkata, “Afrika.”
“Apa … Afrika, mengapa jauh sekali,” gunam kesal Lyra.
Lyra langsung saja menghubungi sekretarisnya, tanpa menyelidiki lagi dia pun segera meminta agar dipesankan tiket ke Afrika. Asisten yang lain saling memandang, merasa bingung sejak kapan Tuan mereka ada di Afrika.
Beberapa diantaranya langsung saja mengecek jadwal CEO mereka itu. Lebih bingung lagi, ketika melihat jadwal pekerjaan Tuannya pada saat ini sudah menjadi kosong, benar-benar kosong tidak ada kegiatan. Jadi untuk apa pergi ke Afrika jika tidak ada pekerjaan yang diurus.
Mereka berpikir sejak kapan kepala asisten mereka ini berbohong mengatasnamakan nama Bos besar mereka. Sementara itu, untuk merayakan kemenangan Lea, Nenek mengaturkan perjalanan bulan madu untuk mereka berdua.
Karena itu Lusa Will dan Lea akan pergi ke pulau kunti yang ada di jawa barat, Indonesia. Ini adalah pilihan yang dipilih oleh Will. Memiliki nama yang seram, Pulau Kunti merupakan salah satu dari beberapa pulau kecil di kawasan Geopark Ciletuh Palabuhanratu.
UNESCO Global Geopark. Konon, nama Kunti ini diambil dari suara tawa khas makhluk halus yang sering digambarkan dengan sosok perempuan berbaju putih tersebut.
Akses jalan menuju lokasi memang mulus, namun penuh dengan belokan, tanjakan dan turunan curam. Meski terbilang ekstrem, pemandangan di sepanjang perjalanan sangat indah, ada suguhan bentangan Teluk Palabuhanratu, karena posisi jalan ada di kawasan perbukitan.
Pulau Kunti yang berada di ujung semenanjung terbentuk dari sedimen Batuan Melan. Itu usianya diperkirakan antara 55 juta tahun sampai 65 juta tahun.
Mitos itu mengalir menjadi sebuah cerita turun temurun, baik dari warga maupun wisatawan, yang disebut pernah masuk ke dalam gua tersebut. Faktanya, gua itu merupakan karya alam, bersumber dari abrasi laut ketika pasang.
Gua purba yang dihasilkan dari abrasi air laut yang menghantam dinding lava, kemudian keropos lalu berbentuk jadi semacam gua. Kedalaman gua diperkirakan mencapai sembilan meter dengan tinggi langit-langit lima meter. Ada mitos siapa yang masuk ke gua itu maka akan dapat jodoh.
Nenek Atkinson berharap jika Will dan Lea ini benar-benar berjodoh. Mengingat bagaimana keduanya melangsungkan pernikahan dengan menandak. Nenek khawatir jika pondasi mereka masih sangat rapuh.
“Apa Nenek tidak salah?” ujar Lea.
“Kenapa?” tanya Will.
__ADS_1
“Memberi hadiah bulan madu, tapi malah memilih gua hantu,” ujar Lea.
“Ini meminta kita pergi bulan madu, atau mengirim kita untuk berburu hantu,” ujar Lea lagi.
Will pun langsung terbatuk ketika mendengar perkataan Lea, “Jika kau tidak suka maka kita bisa membatalkannyam,” ujarnya.
“Jangan, nanti Nenek akan kecewa jika kita batalkan,” ujar Lea.
“Jika begitu kita akan tetap pergi,” ujar Will lagi.
Di hari yang sama, kepergian Lea dan Lyra bersamaan tapi berbeda tujuan. Lyra pergi ke Afrika, Will dan Lea pergi ke gua Kunti, Indonesia. Mereka berdua menaiki pesawat komersil, kelas eksekutif. Mereka akan menempuh perjalanan selama 12 jam, 55 menit.
Menepuh perjalanan panjang membuat Lea tertidur di bahu Will. Dengan perlahan will menggerakan tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan Lea, dan meletakan kepala Lea bersandar di antar bahu dan sedikit bersandar di sisi tengkuk lehernya.
Merasa sudah puas tertidur dia pun terbangun, sepanjang Lea tertidur maka Will tidak berani bergerak, “Apakah masih lama?” tanya Lea.
“Sebentar lagi,” jawab Will sembari meregangkan tubuhnya.
“Apakah merasa lapar?” tanya Will.
“Iya,” jawab Lea.
Will pun langsung meletakan makanan yang tadi dia simpakan untuk Lea ketika tertidur, Melihat jika makanan Will masih utuh Lea pun bertanya, “Kenapa tidak makan?”
“Kita makan bersama,” imbuh Will.
Sembari membukakan penutup makanan mereka, wajah Lea sedikit memerah. Dia pun mulai memasukan makanan dan mengunyahnya perlahan. Setelah menempuh belasan jam, akhirnya mereka pun tiba. Karena mereka beruda berada di kelas eksekutif maka petugas maskapai akan menjemput dengan kendaraan khusus. Baik saat naik maupun turun dari pesawat.
__ADS_1
Mereka tiba di Jakarta, berisritahat beberapa menit di lounge yang menyediakan menu makanan dan minuman lezat khas Indonesia untuk dinikmati oleh para penumpang. Di sini terdapat makanan ringan yang tersedia di kios-kios kecil, serta restoran. Ada kursi tunggu yang empuk dan nyaman, bahkan tersedia kursi pijat.
Mereka mencicipi beberapa makanan ringan puding, brownies juga teh. Barulah mereka pergi menuju ke hotel. Tinggal beberapa hari di Jakarta, barulah nanti mereka akan pergi ke gua kunti di jawa barat. Selama di Jakarta mereka akan tinggal di kamar Suite Hotel Raffles Jakarta yang emiliki hampir sekitar 173 kamar. Dan pernah menjadi tempat persinggahan Raja dari Saudi Arabia, yakni Raja Salman selama berada di Jakarta.