
Elliot tertidur dengan sambil memeluki ponselnya, sedang jatuh cinta tidur di masa sulit pun jadi terasa indah-indah saja. Will juga sudah dalam peraduan indah di ranjang empuk nyaman. Di pagi hari Sebuah panggilan menganggu tidur indahnya, itu adalah panggilan ponsel dari salah satu asisten yang dia tugaskan untuk mengamati Cleo, “Nona parker mengalami celaka!”
“Apa katamu?” tanya Will dalam keterkejutannya.
“Mobil yang di kendarainya, menabrak bahu jalan,” jawab asisten itu lagi.
Asisten itu mengatakan jika hari ini Nona parker pergi ke bandara untuk ikut mengantarkan Tuan Darren dan istrinya kembali ke Funan. Separuh nyawa Will seperti tertarik keluar setengah ketika mendengarkan kabar berita yang dibawa oleh asistennya itu.
Ketika Will membuka pintu, Elliot sudah berdiri di depan pintu kamarnya, pria itu menatap wajah lelah asisten nomor satunya itu lalu berkata, “Pergilah, aku bisa menangani Arcada 0001 sendiri.”
Will pun menghubungi Rudolf dan meminta di bawa langsung ke Stockholm, tidak peduli dengan cara apa, hal yang dia inginkan adalah berada di sisi Cleo. Mendengar perkataan Tuannya itu, Will pun mengangguk dan segera saja pergi menuju ke mobilnya, untuk bertemu dengan orangnya Rudolf.
Di tinggal Will, Elliot hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri. Sementara itu, di rumah sakit terlihat Lea sedang menemani Tuan dan Nyonya parker. Pada saat ini Abe Foster datang memberikan dukungan juga.
“Tuan Foster terima kasih atas kedatanganmu,” ujar Tuan Parker.
Mereka bertemu di perjamuan bisnis, karena itu sebagai rekan sejawat tidaklah menjadi hal yang mengherankan ketika Abe datang berkunjung ke rumah sakit, “Bagaimana keadaannya?” tanya Abe dengan sopan dan berkarisma.
“Dia … eum …” ujar terbata tuan Parker sembari menghela napas lalu melanjutkan perkataannya, dia baik-baik saja, dia pasti akan baik-baik saja,” jawab Tuan parker dengan nada penuh harap.
Nyonya parker terlihat masih menangis dalam rangkulan Lea, mereka berdua duduk di kursi. Nyonya Parker bersandar di bahu Lea sambil terus menangis dan sedang di tepuk-tepuk bahunya oleh Lea agar Nyonya parker merasa lebih tenang.
Tuan Parker dan Abe menghampiri keduanya, “Apa ingin minum, kopi atau yang lainnya?” tanya Abe dengan sopan.
“Coklat hangat … apa kau mau coklat hangat sayang!” imbuh Tuan Parker kepada istrinya itu.
__ADS_1
Nyonya Parker mengangguk seraya tersenyum kepada Abe, “Terima kasih, kau baik sekali!” pujinya.
“Aku akan menemanimu,” ujar Lea kepada Abe.
Senyuman di wajah Abe pun menjadi cerah seraya berkata, “Jika begitu, ayo!”
Mereka berdua pergi ke kantin yang ada di lantai satu rumah sakit, “Bagaimana kejadiannya?” tanya Abe memecah keheningan di antara dia dan Lea.
“Entahlah, sepertinya dia kehilangan kendali kemudinya,” jawab Lea tapi, sedikit tidak yakin.
Mereka berdua sampai di depan konter pemesanan, Lea memesan hot coklat untuk semuanya, di saat seperti ini aroma dan rasa coklat bisa membantu ketegangan yang sedang di rasakan dengan memberikan senasi merilekskan, karena itu dia memilih minuman ini.
“Apa mau menemani ku sarapan sebentar?” tanya Abe.
“Apa belum makan pagi?” tanya Lea sembari melihat ke jam tangannya yang sudah menunjukkan jika jam sarapan sudah lewat.
Lea pun mengangguk, lalu Abe memesan dua sandwich. Mereka duduk di kursi yang terletak di sisi jendela besar bening rumah sakit, sambil sedikit berbincang. Abe melontarkan beberapa lelucon lucu yang berhasil membuat Lea tertawa.
Di sisi lain, Hank Grup dan Foster Grup sudah mulai pulih dengan cepat semenjak kedatangan Abe di tengah-tengah mereka. Pada saat ini Tuan Hank, datang berkunjung ke Mansion Foster, bertemu dengan kakek Foster.
Kali ini kedatangan mereka berdua tidak begitu disambut antusias oleh Kakek Foster, wajah pria itu sudah sangat datar. Tapi dengan tebal muka Tuan Hank menyodorkan putrinya itu untuk Abe Foster, demi kestabilan Hank Grup.
Kali ini, Kakek Foster sudah ada pilihan lain, sesuai kemauan Abe Foster, ‘Lea Atkinson’. Dia akan sangat senang jika Abe Foster bisa merebut Lea dari Elliot, karena itu artinya kemenangan ada di pihaknya dan hanya menyisakan kesengsaraan bagi cucunya yang tidak patuh itu.
Kakek Foster tidak ingin berbasa-basi lagi, dia pun berkata, “Jika kedatangan kalian ingin membicarakan pernikahan, keluarga kami sudah tidak ingin meneruskan rencana masa lampau.”
__ADS_1
Wajah Tuan Hank memucat lalu berkata, “Tuan jangan marah, kami tidak pernah memutuskan rencana itu di tengah jalan. Tapi Elliot Foster yang selalu menolak kemauanmu bukan?”
“Aku tidak ingin kehilangan cucu yang lainnya, jadi kali ini aku membebaskan dia untuk memilih sendiri pasangannya selama dia menyukai wanita itu,” ujar Kakek Foster dengan berkamuflase di balik kata-kata yang bijak.
“Apa maksudmu?” tanya Lyra lalu melanjutkan pertanyaanya lagi, “Apa dia sudah ada wanita yang diinginkan?”
“Iya,” jawab kakek Foster.
“S-siapa?” tanya Claudia lagi.
“Nona Atkinson,” jawab Kakek Foster.
“Atkinson … Lea Atkinson?” ujar Lyra yang berpikir tidak mungkin Claudia, karena jika iya sudah pasti saat ini Claudia sudah membawa Abe ke sana ke mari untuk di pamerkan.
Hati Lyra terasa tersambar petir, ketika mendengar jika saat ini Kakek Foster menginginkan Lea Atkinson sebagai cucu menantunya, sebagai istri dari Abe Foster.
Tuan Hank berpindah duduk lebih dekat kepada Kakek Foster seraya berkata, “Aku membawakan sertifikat tanah yang diincar selama ini,” ujarnya sembari menyodorkan sebuah tas dokumen, meletakan di atas meja.
Kakek Foster tersenyum sarkas, dia berpikir memiliki Abe yang bisa menyelesaikan masalah, jadi tidak perlu bantuan Hank Grup untuk bisa mendapatkan tanah yang dia maui. Merasa jika Abe pasti nanti akan bisa memberikan itu kepadanya, jadi dia tidak ingin meruskan kesenangan hati cucunya itu, lebih memilih membiarkan Abe mengejar Lea Atkinson.
“Aku tidak memerlukan ini, aku sudah memiliki kunci kekayaan sendiri,” ujar Kakek Foster.
“Jika tidak ada hal lainnya, kalian tahu pintu keluarnya di mana!” kata Kakek Foster lagi kepada ayah dan anak itu.
Hati Lyra bergemuruh marah, merasa apa hak kakek tua itu mengacaukan kisah cintanya dan juga merendahkan dia seperti ini. Dia pun berdiri dan berkata, “Ayo, kita pergi dari sini!” ujarnya sambil menatap marah kepada Papanya itu.
__ADS_1
Sementara itu di Italia, terlihat jika Elliot sibuk mempelajari pecahan kode yang baru saja dia dapat. Misteri yang belum terpecahkan. Dia hanya bisa berpikir jika dari berbagai macam simbol petroglif ini pasti ada simbol yang mengarahkan kepada pecahan yang kedua.
Eliiot seharian mencoba untuk Menyusun Petroglif itu, kepalanya sampai berdenyut-denyut karena sedari pagi dipakai untuk memecahkan teka-teki petroglif yang saat ini sedang dia pandangi lekat-lekat.