PENGAWAL RASA TUAN MUDA

PENGAWAL RASA TUAN MUDA
SAUS ALFREDO


__ADS_3

Beruntung Will tidak protes dengan ide dari Nona Kedua Atkinson itu. Dia mengikuti pengaturan skenario dengan pasrah.


Satu hari, dua hari, tiga hari, Will masih tahan dengan konsep baju ala-ala ninja. Merasa tidak tahan di bungkus terus tiap kali ke perpustakaan, maka Will pun menawarkan satu tempat untuk bisa mencari inspirasi pemasaran yang Lea butuhkan. Itu adalah tempat pensiunan salah satu direktur terbaik dari salah satu perusahaan ternama.


Ketika mereka pulang Will memberanikan diri berkata, "Aku mengenal seseorang yang mungkin saja bisa membantumu."


"Benarkah, apakah dia adalah temanmu?" tanya Lea bersemangat.


"Ya bisa dikatakan begitu," jawab Will.


"Sebenarnya kau ini pengawal atau Tuan Muda?" tanya Lea dengan sedikit nada terheran.


Will langsung saja menyahut, "Profesi pekerjaanku, memungkinkan aku untuk bertemu dengan orang penting atau selebriti."


"Ah iya juga ya," imbuh Lea.


"Katakan siapa orangnya?" Imbuh Lea lagi.


"Stanley Mortgage," jawab Will.


"Hmm ... mengapa aku seperti pernah mendengar namanya," ujar Lea.


"Maksudmu Tuan Mortgage yang itu?" tanya Lea.


Will mengangguk dan berkata, "Ya Tuan Mortgage yang itu."


Tuan Mortgage adalah seorang CEO di perusahaan keuangan,dia berhasil mendapatkan skor sebesar 89% dalam keberhasilannya menjaga stabilitas perusahaan yang dipimpinnya ketika krisis moneter menyerang keuangan negara di seluruh dunia.


Kepanikan pada tahun itu terjadi karena terjun bebasnya pasar saham lebih dari 50% dibanding tahun sebelumnya. Pemicunya lainnya juga adalah ekspansi yang berlebihan dan spekulasi pasar yang buruk. Disusul bangkrutnya Bank, yang memiliki aset bernilai USD600 miliar, ini menjadi simbol dimulainya krisis moneter paling dramatis.

__ADS_1


Efek yang disebabkan krisis ini begitu hebat, baik untuk sektor publik ataupun swasta. Dan, Tuan Mortgage berhasil menyelamatkan laju perahu bisnis yang sedang dikomandoi olehnya pada waktu itu.


Tidak ada yang tahu pasti apa penyebab terjadinya secara tiba-tiba miliaran USD hilang dari pasar saham seluruh dunia, tapi tuan Mortgage berhasil menyelamatkan perahu perusahaan berserta krewnya.


“Wah dia benar-benar Dirketur senior dan panutan,” puji Lea.


Merasa Will selalu memberi bantuan di saat yang tepat, maka Lea pun langsung memiliki ide, “Katakan padaku, apa makanan kesukaanmu, aku akan memasakannya mala mini untuk makan malam kita.”


Wajah Will memerah, lalu berkata, “Spagheti.”


“Mudah saja,” jawab Lea sembari mengedipkan kedua matanya.


Begitu sampai di rumah, maka Lea langsung saja pergi ke dapur, “Aku ingin memasak Spagehti,” ujarnya seraya menggulung lengan kemejanya.


Will duduk di kursi makan yang ada di dapur, “Apakah ada permintaan khusus,” tanya Lea.


Lea mengambil stok air kaldu, daging giling, keju parut, daun basil, jamur, garam, Dia merebus mie spaghetti terlebih dahulu dengan sedikit minyak agar tidak lengket. Lalu menunggu mie matang, dia mulai mencincang bawang putih dan juga bawang bombai, dia memulai membuat saus Alfredo yang will pinta.


Gerakan memasak Lea seperti menghipnotis Will, semua seperti dalam adegan lambat terlihat begitu elegan dan indah, Ketika lea menyanggul rambutnya asal, dan bagaimana beberapa helai rambutnya terjatuh ke tenguk leher. Itu adalah pemandangan yang sangat indah bagi Will.


Will juga mencium dalam-dalam wangi harum masakan Lea, Masakan pun selesai, “Nah, silakan dinikmati,” ujar Lea seraya meletakan satu piring berisi Spagheti dengan saus Alfredo dan toping yang lengkap.


Will mulai memasukan satu suapan ke dalam mulutnya, Kedua matanya berbinar ketika merasakan Spagehti masakan Lea. Melihat Will hampir menangis Lea pun merasa panik, “Kau kenapa, apakah masakanku sangat tidak enak sehingga membuat kau menangis?”


Will menggeleng, lalu Lea langsung menundukan kepalanya dan mencicippi mie spaghetti yang ada di piring will. Jarak mereka sangat dekat, sesaat Will merasa ingin memeluk Lea, dia hanya bisa menelan salivanya ketika melihat tengkuk leher Lea yang putih halus itu.


Tidak ada yang aneh,” ujar Lea ketika mengunyah Spagheti buatannya.


“Lalu mengapa kau sampai menangis?” tanya Lea seraya bersedekap tangan.

__ADS_1


“Rasanya tidak aneh, hanya saja …” Will sedikit terbata dan terdiam tidak bisa meneruskan perkataannya.


“Hanya saja apa?” tanya Lea.


“Hanya saja ini sama persis seperti masakan ibuku,” jawab Will dengan sedikit mata yang berkaca-kaca.


Mendengar itu, Lea pun menurunkan kedua tangannya, dia tidak bisa berkata-kata juga karena mengetahui jika ibu Will Armstrong telah meninggal dunia semasa dia kecil dulu. Lea meletakan sepiring Spagheti lagi di atas meja makan dan berkata, “Aku akan temani kau makan.”


Mereka pun makan malam bersama dengan penuh keharian diselingi sedikit cendaan yang memancing tawa. Keesokan harinya Will membawa Lea ke tempat kenalan yang dia sebutkan kemarin.


Lea termasuk orang yang tradisional, dia datang dengan membawa sekaranjang buah-buahan. Tuan Mortgage menghabiskan kehidupan setelah pensiunnya, memutuskan tinggal di wilayah tradisional, Norrland yang bergunung-gunung dan memiliki hutan yang luas. Selama tinggal di sini dia memulai usaha berupa Produk pertanian termasuk biji-bijian, bit gula, kentang, dan ternak.


Sesampainya di sana, Lea melihat jika sepertinya Tuan Mortgage baru saha memanen buah apel, lalu dia melihat buah-buahan yang ada di keranjangnya, berpikir tadi seharusnya dia membawa aneka roti saja jangan buah.


Will melihat ini lalu berkata, “Tuan Mortgage adalah orang yang sangat menghargai pemberian orang lain, jadi dia pasti akan menerima hadiah dari Nona dengan senang hati.”


Mendengar perkataan Will, barulah Lea bisa melangkah lega masuk ke dalam rumah Tuan Mortgage yang sangat berasitektur perkebunan. Melihat Will datang maka Tuan Mortgage langsung saja menyambutnya, “Halo Tuan Armstrong, lama tidak berjumpa.”


“Senang bisa berjumpa dengan Tuan lagi,” sapa balik Will kepada Tuan Mortgage.


“Ini adalah Lea Atkinson,” ujar Will memperkenalkan.


“Halo Tuan,” sapa Lea lalu berkata lagi, “Ini ada sedikit buah Pir Apel.”


“Wah terima kasih, aku sangat suka buah Pir,” ujar Tuan Mortgage seraya mengambil keranjang buah itu dan meletakannya di meja.


Mereka pun duduk bersama, dan mulai membahas tentang kondisi Lea saat ini. Tuan Mortgage mendengarkan dengan tenang lalu berkata, “Jika aku ada cara apa kau mau mengikuti cara metodeku?” tanya Tuan Mortgage.”


Lea pun bersedia demi mendapatkan kursus singkat bisnis dari direktur senior tersebut. Pada saat ini kedua kubu saling mengetatkan startegi pemasaran mereka. Dari segi jumlah pendukung jelas Lea kalah telak. Tapi, dari segi pemikiran Lea lebih menang dua kali lipat, mendapatkan masukan bisnis dari pakar terbaik dan juga mendapatkan teman diskusi yang selalu memberikan pandangan visionernya, melihat ke depan dengan lebih baik

__ADS_1


__ADS_2