
Eddie semakin tertarik melihat Lea yang seperti ini, bayangan Claudia Atkinson pun sirna dari pelupuk matanya. Kedua matanya hanya tertuju pada Lea yang dengan elegannya menerangkan konsep produk dan konsep marketing yang telah di susun oleh Atkinson Grup.
Setelah selesai, Eddie pun dengan sopan dan sedikit berbasa-basi mengajak Lea dan Tim untuk makan siang berasama. Melihat Lea ingin menolak maka Manajer toko sedikit mengingatkan jika jamuan makan siang ini penting untuk kelancaran bisnis mereka.
“Jika begitu, dengan senang dan terima kasih,” ujar Lea seraya tersenyum kepada Eddie.
Mereka pun pergi menuju ke restoran termahal yang ada di Stockholm, semua atas traktiran Eddie Baker.
Pada saat ini Eddie berusaha ingin mengambil hati Lea lagi, dengan memperlakukan dengan istimewa. Bisik-bisik pegawai Toko Atkinson pun mulai berbunyi, “Seperti Tuan Baker masih menaruh hati pada Nona kedua Atkinson.”
“Ini pasti akan jadi perang besar lagi,” sambut salah satu pegawai Atkinson lagi.
“Ya, perang antara Nona pertama dan Nona kedua Atkinson,” ujar pegawai Atkinson yang lain.
“Kita lihat saja nanti, sepertinya ini akan seru. Aku yakin yang akan menang adalah Nona Lea. Lihat saja binar mata Tuan Baker,” bisik-bisik pegawai Atkinson lagi.
__ADS_1
Benar saja, Eddie benar-benar tidak ingin melepaskan pandangannya dari Lea Atkinson seraya berkata, “Kau sudah tumbuh dewasa sekarang.”
“Eum … aku adalah pelajar yang baik. Dan, aku sudah belajar dengan sangat baik,” imbuh Lea sedikit menyindir.
Eddie berdehem, dia memahami maksud sindiran dari Lea lalu dia berkata lagi, “Tidak bisakah kau melupakan masa lalu yang tidak mengenakan itu?”
“Aku sudah melupakannya, hanya tidak ingin mengulangnya kembali,” jawab Lea sedikit sarkas.
Wajah Eddie terperanjat, merasa jika Lea sudah menjawab pertanyaan yang belum dia lontarkan, “Aku minta maaf, jika sudah menyakitimu,” ujar Eddie Kepada Lea.
Pada saat inim ponsel Lea berdering. Nama Elliot tertera di layar ponsel. Melihat itu Lea pun tersenyum cantik. Panggilan yang telah dia tunggu sedari pagi akhirnya menyapa ponselnya juga, “Halo,” jawab Lea dengan wajah tersenyum.
“Sedang apa?” tanya Elliot.
“sedang makan siang dengan teman sejawat,” jawab Lea sembari sedikit melirik Eddie Baker.
__ADS_1
“Dengan siapa?” tanya Tuan Foster lagi.
“Dengan Tuan Baker,” jawab Lea.
“Oh Ok, nanti malam aku akan datang ke rumah,” ujar Elliot.
“Apa … eum… itu eum …” ujar Lea tidak berani melanjutkan perkataannya karena ada Eddie di depannya yang terlihat seperti ingin menguping pembicaraannya.
Elliot pun menyudahi sambungan ponselnya, Hati lea berdegup kencang, memikirkan kira-kira bagaimana nanti reaksi Nenek Atkinson dengan kedatangan Elliot. Melihat Lea sedikit termenung, Eddie pun berdehem untuk membuyarkan lamunan Lea.
Lea pun langsung menengadahkan kepalanya dan tersenyum kepada Eddie, lalu berkata “Pacarku baru saja menghubungi, dia bilang nanti malam akan ke rumah.”
Lagi-lagi perkataan Lea langsung membungkam ingin Eddie yang meminta agar Lea bersedia mengulang kembali kisah mereka. Tapi, itu tidak membuat tekad Eddie untuk berhenti mengejar Lea kembali. Dia baru menyadari jika kilau Lea lebih berkilau dari sebongkah berlian.
Makan siang pun terselesaikan dengan lancar sampai Claudia datang untuk mengacaukan, Tiba-tiba dia datang dan berkata, “Sayang, mengapa tidak mengajakku makan siang bersamamu juga, apa kalian ingin mengenang kisah masa lalu?”
__ADS_1
Lea memutar kedua bola matanya seraya berkata, “Jika aku sudah membuang sampah, tidak ada guna jika aku mengambilnya kembali, selain itu kotor, ya itu memang tidak berguna lagi.”