
Di butik studio Foto, Cleo segera pergi meninggalkan tempat itu juga bersamaan ketika Lea keluar dari sana. Dia berlari dengan cepat, sampai-sampai tidak melihat jalan dan menabrak seseorang. Dengan cepat tangan kuat pria itu langsung saja memegang piggul ramping Cleo.
“Kenapa kau selalu ceroboh!” ujar suara yang tidak asing di telinga Cleo.
“Will!” gumam pelan Cleo.
Pria itu langsung saja menarik Cleo agar ikut masuk ke mobilnya. “Hei kau mau bawa aku kemana?” tanya Cleo.
Will tidak menjawab, hatinya terlalu kesal ditiap kali melihat Cleo berlaku ceroboh. Dia langsung memasangkan sabuk pengaman mobil kepada Cleo. “Jangan coba-coba melepasnya!”
Mendengar suara magnetis Will, tanpa berdebat lagi maka Cleo pun langsung saja patuh duduk diam di sisi kursi pengemudi. Mobil itu pun melaju, Cleo tidak bisa menahan diri. Dia benar-benar ingin tahu sebenranya mereka itu mau kemana. “Kita akan pergi ke mana?” tanya Cleo dengan nada lembut.
Will menoleh kepada Cleo, menatapnya sesaat lalu fokus menyetir kembali sambil menghela napas dan berkata,” Bisa tidak jangan membuat orang selalu merasa khawatir?”
“Hah! Apa?” ujar Lara bingung.
Will Tiba-tiba Will mengerem mobil, menepikannya. Tanpa banyak bicara dia melepas sabuk pengamannya lalu menarik tengkuk leher Cleo, dan mentautkan bibirnya dengan bibir manis gadis yang sedang duduk di sebelahnya.
Pria itu baru melepaskan tautan bibirnya ketika merasa gadis yang Tengah diciumnya sulit bernapas. Cleo tertegun, otaknya sedang menyingkronkan tentang kejadian yang baru saja dia alami.
Will menjauhkan tubuhnya dari Cleo, mulai melajukan mobil seraya berkata, “Mulai hari ini dilarang melakukan hal-hal bodoh seperti ini lagi!
Cleo berdehem lalu berkata, “Kenapa kau melarang?”
“karena aku tidak menyukainya … jadilah wanitaku, kau cukup duduk tenang saja menikmati hidup di sisiku. Biarkan aku yang menyelesaikan semua masalahmu!” ujar Will dengan masih tetap fokus menyetir.
Wajah Cleo memerah, dia sedikit memegang bibir yang tadi baru saja dicium oleh Will. Hatinya juga berdebar, selama ini tidak ada pria yang mau benar-benar dekat dengannya karena sakit yang dia derita selama ini.
“Apa kau benar-benar serius dengan perkataanmu?” tanya Cleo.
__ADS_1
“Apa menurutmu aku adalah pria yang suka bercanda?” jawab Will datar.
Cleo pun terdian, dalam samar Will pun tersenyum. Menganggap jika Cleo diam itu artinya dia bersedia. Mereka pun tiba di Hill Estate. Ini adalah tempat tinggal teraman, tidak semua orang yang memiliki uang bisa membelik propeti di sini. Jika bukan atas persetujuan Elliot Foster, maka memiliki rumah di sini hanyalah sebatas Impian saja.
Pintu gerbang tinggi Mansion pun langsung terbuka, Cleo langsung saja keluar dari mobil. “I-ini rumah siapa?”
Lagi-lagi Will tidak menjawab, dia malah menggandeng tangan Cleo dan langsung membawanya masuk ke dalam. Melihat ada Lea, dia pun merasa sedikit terkejut. “Kau kenapa bisa ada di sini,” ujarnya sembari memeluk teman baiknya itu.
Lea melihat kepada Will Armstrong, tadi ketika dia baru saja melajukan mobilnya, tiba-tiba langsung saja dihadang. Will keluar dari mobil itu dan berkata, “Naik mobil ini saja, lebih aman!”
Melihat Lea memandang Will, maka Cleo paham jika pria itu juga membawa Lea ke Mansion ini juga. Pada saat ini Will sedang menerima panggilan telpon di ponselanya. Lalu dia mendekati kedua gadis itu. “Kalian bersitirahat saja dulu!
Pelayan pun mendekati kedua gadis itu. “Silakan Nona ikuti aku!”
Pelayan itu pun membawa mereka ke kamar utama, “Nona Lea, ini adalah kamar Nona!” ujar Pelayan itu memberi tahu. Lalu mengatakan untuk Cleo kamarnya ada di sebalah kamar utama ini.
“Apakah ini Milik Tuan Foster?” tanya Cleo kepada Pelayan itu.
“Siapa?” tanya Lea.
“Tentu saja Will Armstrong!” jawab Cleo.
Pada saat ini ponsel Lea berdering, begitu nama yang terpampang di layer ponselnya. Hampir saja ponsel itu terlepas dari tangannya. Selama Elliot berpergian, selama itu pula pria itu tidak menghubunginya.
“Kenapa tidak dijawab?” tanya Cleo sambil mengambil ponsel itu dari tangan Lea yang hanya bergeming memandangi ponselnya.
“Astaga,” imbuh Cleo ketika melihat nama si penguasa Mansion yang mereka tinggali saat ini.
“Ini kau jawab saja, ayo …!” ujar Cleo seraya menyerahkan kembali ponsel itu ke Lea setelah menekan tandan menerima panggilan telpon, dan mendekatkan ponsel itu di telinga Lea.
__ADS_1
“Halo,” sapa suara berat dari sebrang sana.
Lea tidak menjawab, tetap terdiam. Cleo sedikit mencubit lengan Lea seraya berkata, “Ayo …!
Bukannya menyapa balik tiba-tiba saja suara tangisan Lea pecah. “Mengapa pergi begitu lama!” ujarnya dengan sesegukan.
Hati Elliot terasa seperti diremas kencang ketika mendengar suara isak tangis Lea. “Maafkan aku, maafkan aku!” ujar Elliot tidak kalah sentimentil dari perasaan sedih Lea.
“Apa semua baik-baik saja?” tanya Elliot.
“Ada Will yang menjaga di sini. Ya, semua akan baik-baik saja,” jawab Lea yang sudah bisa mulai mengontrol rasa sedihnya.
“Jangan terlalu lelah, aku akan segera kembali. Semua akan baik-baik saja!” janji Elliot kepada Lea lalu memutuskan sambungan ponselnya.
Pelayan mengetuk pintu. “Nona saatnya makan malam!”
Lea dan Cleo pun pergi ke ruang makan, di sana terlihat Will masih sibuk dengan sambungan ponselnya. Cleo menatapinya, sembari bergumam pelan, “Dia benar-benar orang yang serius.”
Melihat kedua gadis telah masuk ke ruang makan, Will pun menyudahi panggilan ponselnya. “Ayo, kita makan!” ajaknya kepada Lea dan Cleo.
Mereka makan malam dengan tenang dan damai, bagaimanapun juga ini adalah bulan tersulit untuk mereka semua, masing-masing menghadapi masalah berat yang berbeda-beda. Namun, saling terkait.
Selesai makan malam, Lea kembali ke kamarnya, Cleo kembali ke kamarnya. Keesokan paginya kedua gadis itu sarapan pagi tanpa ditemani oleh Will. Ingin bertanya kepada pelayan, tapi Cleo mengurungkan niatnya.
Merasa sudah kenyang Lea pun berkata kepada Cleo, “Aku ingin berjalan-jalan sebentar di taman.”
Cleo mengerti jika Lea butuh udara segar, meski sudah aman dari incaran Abe Foster, tapi tetap saja hati Lea masih merasakan keresahan yang hanya bisa dia rasakan. Maka dari itu Cleo tidak mengikuti teman baiknya itu.
Lea berjalan pelan sambil memandangi bunga-bunga indah, sesaat dia terperanjat karena melihat jika bunga-bunga yang di tanam di sini adalah bunga kesukaan dia semua. Dia pun memandang sekililing taman sambil sedikit berputar-putar.
__ADS_1
Lea tertegun ketika melihat sosok yang dia kenal. Dia pun berdiri diam, sosok itu pun semakin jelas, air mata Lea pun berlinang jatuh. Dia segera saja berlari ke arah sosok yang dia kenal itu. Elliot tersenyum lalu merentangkan tangannya untuk menangkap gadisnya itu yang sedang berlari kencang ke arahnya.