
Will mengikuti langkah Lea, mereka masuk ke dalam lift dan saling terdiam. Petugas hotel membawakan tas mereka sampai di depan pintu kamar, “Terima kasih,” ujar Will dengan sopan.
Lea masih diam berdiri di depan pintu, lalu berkata, “Kita sekamar ya?”
“Iya,” jawab Will.
“Ah begitu,” ujar Lea seraya masuk.
Will tidak ingin pisah kamar, karena khawatir membiarkan Lea tidur sendirian di negeri orang, karena itu dia hanya memesan satu kamar saja. Kamar suite yang luas dan menghadap ke cakrawala Jakarta. Suite ini memiliki kamar tidur utama yang terpisah, ruang tamu dan ruang makan, serta kamar mandi marmer yang luas yang.
“kau tidur di kamar, aku akan tidur di ruang tamu,” ujar Will sembari memasukan bajunya ke dalam lemari yang telah disediakan.
Lea hanya terdiam, merasa jika pernikahan mereka memang mendadak. Maka dia tidak banyak bertanya alasan mengapa Will tetap memilih tidur terpisah dengannya. Lea merebahkan tubuhnya ke ranjang besar di kamar utama.
Will telah selesai merapihkan pakaiannya. Lalu dia keluar dari kamar utama, dia pergi ke balkon, mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang, “Jadi Bagaimana?”
“Semua berjalan sesuai rencana,” jawab pria yang ada di sambugan telpon itu.
“Ok Will, kerja bagus …” Belum juga selesai bicarra , Lea datang dan ikut berdiri di balkon, membuat sambungan ponsel itu langsung di putus.
“Sedang bicara dengan siapa?” tanya Lea sedikit menatap curiga.
“Ah ini, tentang pekerjaan.” Jawab Will.
“Oh,” imbuh Lea, dia lalu berkata lagi, “Jadi apa rencana kita selama di Jakarta?”
“Tentu saja wisata Jakarta dan Wisata kuliner,” jawab Will.
“Itu terdengar menyenangkan.” Imbuh Lea.
Will pun mulai menerangkan rencana wisata mereka, “Kita akan naik Bus wisata yang disebut bus Jakarta Explorer yang saat ini memiliki 7 rute wisata yang berbeda. Bus ini beroperasi dengan menelusuri ikon dan landmark yang ada di kota Jakarta.”
“Wah itu terdengar asyik,” ujar Lea lagi.
“Bus wisata ini juga dilengkapi dengan audio yang menjelaskan latar belakang dari lokasi-lokasi yang disinggahi, serta ada petugas yang juga dapat memberikan penjelasan mengenai ikon – ikon kota Jakarta yang dilewati oleh bus tersebut,” tambah kata Will lagi.
__ADS_1
Lea bertanya lagi, “ Dari 7 rute, kita akan pergi ke rute yang mana?”
“Rute kesenian dan kuliner, ini hanya ada di hari sabtu, Dimulai dari jam 10 pagi sampai dengan jam 11 malam,” jawab Will.
“Wah, kebetulan sekali besok adalah hari sabtu,” ujar Lea dengan mata berbinar.
“Beristirahatlah, simpan tenaga untuk berkeliling Jakarta esok!” ujar Will dengan sedikit tersenyum.
Keesokan paginya di lobi hotel, suara renyah tapi indah memanggil Lea lagi, “Kakak Cantik.”
Melihat itu adalah Raynar dia pun segera bersimpuh menyapa bocah kecil itu, “Oh ya Tuhan, tampan sekali,” pujinya.
“Halo,” sapa Leon Sebastian kepada Will dan Lea.
“Apa kalian akan pergi ke bus wisata kesenian dan kuliner?” tanya Will.
“Iya,” jawab Khansa dan Will berbarengan.
“Wah, kebetulan sekali, kami juga akan kesana,” ujar Leon.
“Rute ini akan berhenti di rute Balai Kota – Museum Nasional- Sarinah - Plaza Indonesia - Harmoni - Gedung Arsip -Museum Bank Indonesia -BNI 46 - Masjid Jami Kebon Jeruk - Sawah Besar - Pecenongan - Pasar Baru - Juanda Istiqlal – Monas,” jelas will membacakan rute untuk di dengar semua orang.”
“Awal pemberangkatan bus dimulai dari Monas dan akan perjalanan akan berakhir di Juanda Istiqal/ Monas,” ujar Leon memperhatikan rute wisata mereka.
“Ayo, kita pergi,” ajak Lea sembari menggendong Raynar.
Will tersenyum samar ketika melihat Lea begitu lihai menggendong Raynar, meski masih sangat muda tapi, aura keibuannya terlihat jelas olehnya. Sementara itu, Lyra sudah berada di Afrika tapi masih belum menunjukan jejak keberadaan Elliot Foster.
“Hubungi Will,” ujar marah Lyra.
Sekeretarisnya pun segera mengbungi asisten Tuan Foster dan memberikan ponselnya kepada Lyra, “Kau bilang Tuanmu ada di Afrika, tapi aku tidak menemukannya, katakan dia ada dimana?”
“Nona Hanks, sebaikanya jangan menganggu Tuan. Saat ini dia sedang berada dalam misi pekerjaan yang sangat penting,” jaewab asisten nomor satu Elliot Foster itu.
“Dengarkan aku baik-baik, aku adalah calon Nyonya Foster, apa kau mau aku pecat!” ujar Lyra lagi dengan berapi-api.
__ADS_1
“Maafkan saya Nona, untuk kali ini Tuan Foster benar-benar tidak bisa diganggu,” ujar asisten nomor satu Elliot foster itu, seraya menutup sambungan ponselnya.
Instruksi Tuannya sudah sangat jelas, Jika tidak boleh ada yang mengganggunya. Karena itu asisten nomor satunya Tuan Foster berani membantah Nona Hanks. Jika Lyra sedang meradang, maka Will dan Lea sedang sangat bersenang-senang. Berkeliling di Jakarta ditemani oleh Leon dan Khansa.
Pasar Baru sudah terkenal sebagai tempat destinasi wisata baik hiburan hingga kuliner sejak zaman dulu. Mereka turun di pasar baru, Leon pun berkata “Apa kalian pernah mencoba rendang?”
“Belum,” jawab Will dan Lea.
“Jika begitu, mari kita coba makanan yang pernah dinobatkan sebagai slah satu makanan terenak di dunia,” imbuh Leon.
“Tenang saja, aku akan mentraktir kalian,” ujar Leon lagi.
Mereka pun pergi ke salah sati restoran padang terbaik yang ada di pasar baru. Leon langsung memesankanmenu rendang, ayam goreng, sayur pucuk labu, dendeng, serta sambal hijaunya.
“Ayo, silakan dicoba, “ ujar Leon kepada Will dan Lea.
Leon mulai mencampurkan tumis daun papaya dan bumbu rendang, sedikit dikuahi bumbu opor juga sambal hijau. Dia mencampur semua itu dengan tangannya, lalu membentuk sebuah kepalan nasi dan memasukan ke dalam mulutnya, seraya berkata, “Cara makan kearifan lokal,”
Raynar duduk diantara Khansa dan Lea, di depannya juga ada sepiring nasi berikut ayam pop yang gurih dan empuk. Mengikuti cara papa-nya makan, Raynar juga memasukan satu kepalan kecil nasi masuk ke dalam mulutnya.
Will dan Lea selama ini tidak pernah makan dengan cara kearifan lokal seperti ini, lalu mengikuti langkah pertama Leon Sebastian yang mencuci tangannya di sebuah mangkuk kecil berisi perasan jeruk nipis lalu mulai mencampurkan semuanya ke nasi yang ada di piringnya.
Ini Pertama kali Will dan Lea makan masakan padang dan langsung jatuh cinta sama semua lauk di sini. Kuah ayam gulainya sungguh membuat mereka merasa ketagihan, “Wah ayamnya lembut,” ujar Lea.
“Apa tadi ini namanya, “ ujar Will seraya menunjuk kepada daging yang ada di piringnya.
“Rendang,” jawab Khansa.
“Rendangnya enak, ini … sangat, sangat enak.” Puji Will diikuti oleh angukan kepala Lea.
“Bumbu rendang ini tidak terlalu berminyak, untuk sayurnya ini juga enak,” puji Lea juga.
“Ini sayur daun pepaya, dan daun ubi yang dimasak pakai bumbu kuning,” jelas Khansa.
Will sedikit berkeringat dan berkata, “Ini enak, tapi pedas,” ujarnya menunjuk kepada sambal hijau yang sedikiit dia sisihkan di ujung piring.
__ADS_1