
Di dalam Bar, ada Lyra dan juga Claudia. Mereka berdua ini masih belum menyadari jika kekayaan yang mereka miliki sedang berada di ujung tanduk. Melihat jika ada Lea Atkinson di sana, dengan jumawa sombong, Lyra mendekati Lea, “Apa uangmu cukup untuk bermain-main di sini?”
Lea menekan lengan salah satu staff marketingnya yang ingin maju ke depan untuk membela dirinya, dengan elegannya Lea berkata, “Apa kau adalah pemilik klub ini?”
“Bukan …” jawab Lyra sedikit bingung.
“Jika begitu, apa kau juga punya uang untuk bermain di sini? Sst … yang aku dengar bukankah ada rumor jika Hank Grup akan bangkrut!” ujar sarkas Lea.
“Bangkrut! Gigauan macam apa itu,” jawab Lyra seraya tertawa.
“Dengar ya kecoak tempat sampah, bahkan jika bangkrut sekalipun aku masih bisa membayari semua kalian yang ada di sini,” ujar sesumbar Lyra.
Lea asik membaca pesan yang ada di ponselnya, pada saat ini dia juga sedang berkirim pesan dengan Cleo. Dia memberi tahu tentang apa yang saat ini sedang terjadi, Lalu dengan seperti berdentum-dentum kencang Cleo membalas, agar Lea menantang gadis itu.
“Dari yang aku dengar jika keluarganya saat ini sedang terlilit masalah pelik serius, jadi menurutku kau pasti akan menang jika melawannya,” balas pesan Cleo kepada Lea.
“Ah benarkah begitu,” ujar Lea seraya meletakan ponselnya ke dalam tas sambil memandang kepada Lyra Hank.
“Apa kau mau bukti?” tanya sarkas Lyra.
“Tentu saja, agar semua orang di sini menilai jika perkataanmu bukanlah omong kosong,” jawab Lea lagi.
Pada Saat ini Claudia maju lalu memberikan sebuah Syarat, “Tunggu dulu.”
__ADS_1
“Tidak akan adil jika tiba-tiba Lyra melakukan hal yang kau pinta, tanpa ada sebabnya,” ujar Claudia yang seakaan menjadi penengah di antara mereka.
“Lalu kau mau bagaimana?” tanya Lea lagi.
“Kita taruhan saja,” Jawab Claudia seraya melanjutkan perkataannya, “Kita bermainlkempar panah, siapa yang kalah maka dia akan menjadi sposnsor acara bersenang-senang malam ini, berapa pun harganya maka haruslah dibayar oleh yang kalah,” jelas Claudia menjelaskan konsep taruhannya,
“Ok!! Jawab Lea dengan berani.
Pada saat ini Elliot tidak ikut bergabung, dia hanya berdiri diam di salah satu sudut gelap. Hanya diam memperhatikan apa yang akan di lakukan kelinci kecil lincah miliknya itu. Lea menggulung lengan kemejanya, menguncir rambutnya tinggi-tinggi.
Seorang pelayan mengantarkan nampan berisi beberapa anak panah, masing-masing hanya mendapatkan dua anak panah saja, ini artinya lemparan pertama dan lemparan kedua haruslah tepat sasaran jika ingin menang.
“Silakan kau yang lebih dulu!” ujar Lea kepada Lyra Hank.
Dengan sombongnya Claudia berkata, “Silakan giliran kau,” ujar Claudia mempersilakan kepada Lea.
Lea pun tersenyum seraya mengedipkan satu matanya, tangan mungilnya pun mulai diulurkan untuk mengambil salah satu anak panah, Dia berdiri dengan santai, lalu mulai membidik papan panah. Dalam satu kali tembakan anak panah yang Lea lemparkan tepat mengenai warna kuning yang ada di tengah, ini bernilai 10 point.
Pendukung Lea yang Hadir di sana pun bersorak gembira, satu langkah lagi jika panah mengenai lingkaran kuning lagi, maka sudah bisa dipastikan Lea akan menang. Di lemparan kedua ini Lea sedikit merasa tegang, dia mengambil napas beberapa kali sebelum dengan yakin melemparkan anak panah tersebut. Sementara itu di salah satu sudut, Elliot yang memperhatikan juga serasa ikut sesak napas, karena menangkap kegugupan di bahasa tubuh kelinci kecilnya itu.
Lea menatapi teman-teman satu timnya, yang dekat sangat antusias memeberikan dukungan kepadanya, dia pun memanggil semuanya agar mendekat, lalu mereka membuat lingkaran sambil bergandengan tangan, seraya berkata, “Pasti bisa … Hap hap Horay.”
Lea pun mulai menatap papan target panahan itu lagi, memicingkan matanya lalu mulai melempar anak panah tersebut dan suasana langsung pecah riuh ramai, ketika Lea berhasil menancapkan anak panah yang dia lemparkan ke lingkar kuning, ini artinya Lea mendapatkan nilai sempurna.
__ADS_1
Ellito menyeringai bercampur bangga, karena kelinci kecilnya itu sudah pandai membela diri, pantang untuk dihina. Dengan aura elegan Lea pun mendekati Claudia dan Lyra, “Jika kau mau mengaku kalah, memang kau sebenarnya sudah kalah. Tapi, jika kau mau dengan lantang mengakuinya, maka aku dengan senang hati akan menggugurkan taruhan kita.”
Lyra sedari dulu memang sangat sombong, selalu menilai dirinya terlalu tingggi, dengan congkaknya dia pun berkata, “Tidak ada sejarahnya keluarga Hanks takut kehilangan uang yang tak seberapa.”
“Eum jika begitu, kalian dengar semua ya. Malam ini Nona Lyra akan menanggung tagihan kalian semua. Jadi selamat bersenang-senang,” ujar Lea sembari sedikit bertepuk tangan lalu berlalu pergi ke meja mereka.
Elliot pun melangkah menyusul Lea dan yang lainnya, mereka duduk di ruang VIP yang hanya di batasi dengan kaca tebal transparan. Di dalam mereka masih membahas apa yang terjadi tadi, dan mereka sangat tidak mengira jika Lea sangat pandai bermain lempar anak panah.
Elliot duduk di sisi Lea, Ruang VIP tersebut menjadi hening ketika mereka melihat tiba-tiba saja Bar Resto ini menjadi sesak banyak orang, “Hei ini mengapa menjadi semakin ramai,” ujar salah satu tim marketing Atkinson.
“Eum … aku rasa ini pasti karena mereka mendengar malam ini, semua yang di sini adalah gratis,” ujar salah satu tim Atkinson lagi sembari terkekeh senang sedikit mengejek kepada Claudia dan Lyra Hank.
“Wuah, bos besar yang mentraktir malam ini pasti akan sangat bangkrut,” ujar dua staf marketing Atkinson sembari tertawa senang.
Lyra yang tadi masih santai, melihat pengunjung semakin banyak berdatangan sudah mulai merasa panik. Dia pun berkata kepada Claudia, “Mengapa jadi begini, apa kau mengundang banyak orang untuk datang?”
“Mana aku tahu, lagipula kau sendiri yang sesumbar jika keluarga Hank tidak akan kehabisan uang jika hanya perkara mentraktir saja,” jawab sarkas Claudia.
“Bukankah kau ini adalah seorang Nona Besar, hanya seperti ini saja seharusnya tidak perlu membuatmu merasa gusar bukan?” ujar Claudia dengan nada sedikit mengejek.
Jika Lyra tengah panik, maka lain hal dengan Cleo yang sedang tersenyum-senyum sendiri di bandara karena sedang merasa senang, dia baru saja menjadi pion penyebar kekalahan Lyra dalam taruhan, begitu mendengar hadiahnya, maka berbondong-bondonglah orang yang datang berkunjung ke Bar & Resto yang terbilang mahal itu.
“Rasakan kau nenek sihir,” ujar Cleo sembari tertawa-tawa kecil seraya memandangi ponsel layar sentuhnya itu.
__ADS_1