PENGAWAL RASA TUAN MUDA

PENGAWAL RASA TUAN MUDA
AKU KASIH TAHU YA!


__ADS_3

“Nenek, tidak perlu begini. Mobilku masih sangat bagus,” imbuh Lea.


“Ini untuk Will,” ujar Nenek Atkinson.


Lea langsung saja menoleh kepada Will seraya berpikir, “Sejaka kapan pria yang disebelahnya ini menjadi kesayangan Nenek.”


“Ayo ambil,” ujar Nenek Atkinson sembari menyodorkan kunci mobil itu kepada Will.


Will mengangkat tangannya perlahan, lalu mengambil kunci itu seraya berkata, “Terima kasih Nek.”


Hatinya sangat terharu, tidak peduli bagaimana statusnya, Nenek dan Lea memperlakukannya dengan sangat istimewa. Selesai makan, mereka pun pergi melihat mobil yang telah terparkir di halaman depan rumah.


Meski bukan mobil mewah, tapi ini termasuk mobil bagus. Will pun membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Dia membuka jendela pintu mobil dan berkata kepada Lea, “Ayo masuk!”


Lea baru ingin masuk, tapi teringat semalam Will memilih tidur terpisah maka dia pun mengurungkan niatnya.


Merasa masih marah, dia pun memilih masuk ke dalam mobilnya sendiri.


Will mengernyitkan alisnya, terdiam sesaat lalu melajukan mobilnya. Will dengan sabar mengikuti mobil Lea. Melihat ini, maka Nona kedua Atkinson itu pun merasa kesal, lalu dia sengaja memperlambat laju mobilnya dengan kecepatan seperti kura-kura. Ingin membuat Will yang tengah mengikutinya untuk ikut menjadi kesal juga.


Mereka pun sampai di Toko Atkinson, Lea langsung pergi masuk ke ruang kerjanya. Sementara Tuan Hamish membawa Will ke ruang kerja yang telah Nenek Atkinson siapakan untuknya. Menjadi pekerja baru sudah tentu Tuan Hamish akan memberikan orientasi tentang pekerjaan yang harus di tangani oleh Will, dan ini membuat Will sibuk sepanjang hari bersama Tuan Hamish.


Banyak pekerjaan yang harus Lea urus membuatnya tidak ingin ambil pusing tentang kegiatan Will. Bahkan tidak peduli ketika Will melewatkan makan siang mereka. Ketika sore hari barulah Will datang ke ruang kerja Lea hanya untuk bertanya, Apakah mau makan diluar atau di rumah.


“Eum …” Lea terlihat berpikir sebentar. Lalu berkata lagi, “Kita makan di luar saja.”

__ADS_1


Lea pun berdiri, mengambil jas dan tasnya. Will berkata, “Mana kunci mobilnya!”


Tanpa curiga Lea memberikan kunci mobilnya kepada Will, lalu mereka pun berjalan keluar. Ketika melihat penjaga kemanan Toko Atkinson. Will menghampirinya dan berkata, “Bawa pulang mobil Nona Lea,” ujarnya seraya memberikan kunci mobil yang ada di tangannya.


Will ingin Lea berada satu mobil bersamanya, jadi tentu saja dia harus menyingkirkan mobil yang lain. Mereka pergi ke restoran yang ingin Lea datangi, tapi tertunda karena waktu itu bertemu dengan dua sejoli yang tidak tahu malu.


Will menepikan mobilnya di halaman parkir restoran itu, dia turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil yang ada di sisi Lea. Mereka pun masuk bersamaan, pada saat ini Eddie Baker juga datang bertepatan dengan pasangan pengantin baru itu.


Melihat jika Will baru saja membukakan pintu mobil untuk Lea, maka dia pun mempercepat langkahnya dan berkata, “Apa kau sekarang merangkap menjadi supir Nona Atkinson?”


Hati-nya tadi sedikit tidak terima ketika melihat Lea duduk di depan, yang artinya duduk bersebalahan dengan Will. Padahal kursi di belakangnya kosong.


Lea memutar kedua bola matanya lalu berkata, “Apa urusannya denganmu?”


“Memang tidak, hanya saja sedikit penasaran, kalian begitu dekat. Apakah kalian sedang berpacaran?” ujar Eddie menanyakan hal yang sama lagi, karena sampai saat ini belum mendapatkan jawaban dari mantan tunangannya itu.


“Ha, ha, ha kau sedang bercanda ya?” ujar Eddie sedikit terkekeh mengejek kepada Will.


“Tidak!” jawab Lea dengan nada serius.


“Kau serius, benar-benar serius?” tanya Eddie lagi memastikan.


“Iya aku serius, aku tidak pernah main-main. Ini sama seriusnya ketika aku memutuskan tali pertunangan kita,” jawab Lea menekan nada bicaranya.


“Apa kau tidak salah, maksudku lihatlah dia, dan lihatlah aku. Setidaknya jika lepas dari aku, kau mendapatkan yan lebih baik. Lihatlah dia, apa yang dia punya,” ujar Eddie lagi.

__ADS_1


Lea tertawa seraya menyelipkan anak rambutnya yang terjatuh, dia menggandeng tangan Will seraya berkata, “Yang jelas dia punya hati.”


“Mobil, rumah, tabungan … Eum, kami bisa mengusahakan itu sama-sama. Benarkan sayang?” imbuh Lea seraya menatap indah kepada Will.


“Tentu saja sayang,” jawab Will seraya menepuk-nepuk tangan Lea yang sedang merangkulnya.


Will pun berkata lagi,” Ayo, kita masuk, kau pasti sudah lapar,” ujarnya seraya menyelipkan rambut Lea.


Mereka berdua pun masuk ke dalam restoran dengan tersenyum, meninggalkan Eddie dengan muka yang masam, berikut dengan hatinya yang langsung terasa masam juga. Melihat Lea begitu membela Will, dan perhatian dengan Will dalam hati dia merasa cemburu.


Dulu ketika bersamanya, Lea benar-benar menjaga dirinya, seakaan tidak mengijinkan dia masuk ke dalamnya. Tapi, dengan Will yang hanya buruh kasar dia bisa begitu lembut dan memberikan tatapan sayang yang tidak pernah dia dapatkan.


Eddie pun ikut masuk ke dalam, sepanjang dia makan dia melirik terus kepada pasangan itu, mengetahui ini tentu saja Will tidak membuang kesempatan untuk membuat hati Eddi Baker menjadi semakin kesal.


Dia memotongkan daging Steak yang ada di piringnya, kemudian menukarnya dengan piring Lea. Lalu ketika mendapati ada sedikit noda di bibir pinggir Lea, dia langsung saja sigap mengambil serbet dan mengelapnya.


“Kau ini makan seperti anak TK saja,” ujar Will tersenyum dengan tatapan penuh jatuh cinta.


“A-aku bisa melakukannya sendiri,” ujar Lea dengan sedikit canggung seraya mengambil serbet itu dari tangan Will.


Eddie berkali-kali menyesap anggur putihnya, bahkan dia tidak menyadari jika sudah menghabiskan satu botol anggur putih sendirian. Pemandangan di depan mata yang sedang dia lihat sekarang, itu benar-benar menyakiti kedua mata nya.


“Ayo, saatnya kita pulang,” ujar Will seraya berdiri dan membantu menarik kursi Lea.


Figure mereka berdua benar-benar menarik banyak perhatian orang di dalam restoran. Eddie memperhatikan ini juga, “Sejak kapan dia bisa menjadi semenarik ini,” pikirnya.

__ADS_1


Merasa sudah puas membuat Eddie jengkel, maka Will tidak ingin berlama-lama di sini. Merasa tidak rela membiarkan Lea-nya di pandangi berlama-lama oleh musuh. Pada saat ini pertarungan bukan hanya menjadi pertarungan antara Claudia dan Lea, tapi juga bagi Will dan juga Eddie Baker.


Setelah ini Eddie berniat akan menggunakan berbagai cara untuk menarik perhatian Lea, jika perlu menggodanya untuk kembali merajut dan meninggalkan Will. Meski jika itu pun menjadikan simpanan dia akan memperlakukan Lea bak ratu, tidak perlu bekerja keras hanya menikmati kemewahan saja bersamanya.


__ADS_2