PENGAWAL RASA TUAN MUDA

PENGAWAL RASA TUAN MUDA
SEPOTONG HATI


__ADS_3

“Pendapat sendiri katamu?” tanya Lea seraya bertelak pinggang.


Eliiot masih berusaha menjaga ketenangannya, padahal hatinya sudah melompoa ketir ketir melihat, raut wajah Lea ketika sedang marah. Elliot berdehem seraya berkata, “Meski kau menolak, kau tetap akan jadi istriku, hari ini, esok atau lusa.”


“Siapa yang memberimu hak untuk berkata ‘bersedia’ kepadaku?” ujar Lea lagi.


“Yang aku nikahi waktu itu adalah Will Armstrong, bukan Elliot Foster. Jadi seharusnya yang bersamaku adalah Will bukan Elliot,” ujar Lea menantang pria yang sedang menatapnya itu.


Elliot memperhatikan pupil mata Lea yang besar, Mata adalah jendela hati. Mata juga bisa memberikan kesan tersendiri pada seseorang. Seseorang bisa ditebak seperti apa perasaannya lewat mata, bahkan bisa jatuh cinta hanya dengan tatapan mata. Pada Saat ini Elliot semakin bisa melihat jelas jika wanita yang telah dipilihnya ini memang memiliki kecerdasan diri yang tinggi.


Eliliot mengeluarkan kedua tangannya seraya mengambil tangan Lea dan tiba-tiba saja berkata, “Maukah kau menikah denganku?” tanya Elliot penuh harap.


“Ha, ha , ha Tuan Foster apa kau lupa jika aku sudah menikah dengan Will Armstrong,” jawab Sarkas Lea.


“Tapi, itu kan aku.” Ujar Elliot sedikit takut-takut.


“Mulai hari ini aku memecatmu! Baik itu menjadi suami ataupun menjadi pengawalku!” ujar marah Lea seraya mengambil tasnya dan berdiri berjalan dengan marah. Baru beberapa langkah tubuhnya sedikit merasa melayang karena di tarik, tiba-tiba Elliot memeluknya dari belakang seraya berkata, “Kita akan tetap menikah, tidak peduli seberapa marahnya kau kepadaku. Kita tetap akan menikah, aku hanya memberimu ruang dan waktu untuk memerahiku saja, bukan memecatku untuk tidak bisa menjadi suamimu,” ujar Elliot panjang lebar.


“Lepaskan aku!” ujar Lea.


Sebelum melepaskan pelukannya, Elliot mengecup daun telinga Lea seraya berkata, “Maafkan aku.”


Tubuh Lea sedikit meremang, lalu dia bergegas melangkah pergi. Di luar nampak Cleoa tengah melempar pandangan sengit kepada Will Armstrong, terlihat seperti seorang kekasih yang baru saja memarahi suaminya karena ketahuan berselingkuh, “Wah kalian ini benar-benar setali tiga uang. Tuan dan Asistennya tidak jauh berbeda. Sama-sama pandai bersandiwara,” ujar sarkas Cleo kepada Will.


Will hanya pasrah saja saat ini dia terkena dua tatapan sinis dari dua oran wanita. Semua karena ide betukar peran yang dibuat oleh Tuannya itu. Melihat Lea telah keluar dari ruang Elliot Foster maka Cleo langsung saja berdiri dan ikut pergi dari Gedung Foster.

__ADS_1


Elliot keluar juga, lalu berkata kepada Will, “Hari ini dia pasti akan pergi meninggalkan rumah.”


“Belum tentu, masih ada hati Nenek yang harus di jaga,” ujar Will.


“Nenek,” gumam pelan Elliot.


“Ah iya, kau benar. Aku akan memberikanmu bonus dua kali lipat tahun ini. Terima kasih atas idenya,” ujar Elliot.


Dengan langkah cepat Elliot pun mengejar langkah Lea. Begitu sampai di parkiran, dia melihat Cleo dan Lea sudah melaju dengan mobilnya. Dia pun segera berlari ke mobilnya dan mulai melajukan mengejar mobil Cleo yang membawa Lea pergi dengan kencang.


Cleo sedikit-sedikit memandang ke kaca spionnya lalu berkata, “Kita sepertinya di ikuti.”


Lea menengok ke belakang, “Elliot,” gumam pelannya.


“Apa mau menepi?” tanya Cleo.


Lea dengan cepat turun dari mobil Cleo, dan langsung menyebrang ke sisi satunya dan segera menaiki taksi. Elliot langsung saja memutar balik mobilnya dan segera mengikuti taksi yang membawa Lea pergi.


“Kita mau pergi kemana?” tanya si supir taksi.


“Jalan saja dulu,” jawab Lea.


Lea menoleh ke belakang dan melihat jika Elliiot masih mengikutinya, “Apa CEO Foster grup tidak memiliki pekerjaan. Mengapa bukan bekerja malah mengikutiku.”


Taksi yang Lea naiki melewati taman, “Berhenti di sini saja,” ujar Lea setelah membayar dia puji turun dan segera masuk ke dalam taman.

__ADS_1


Elliot memarkirkan mobilnya di sembarang tempat, karena ingin mengejar Lea.


Di taman sedang sangat ramai karena sedang ada acara di sini. Lea dengan cepat membaurkan diri dengan para pengunjung. Lea semakin masuk membaurkan diri dengan masuk melewati pintu gerbang berbentuk hati.


Elliot menangkap siluet Lea, lalu ikut pergi ke sana juga. Begitu masuk Lea diberikan potongan setengah hati, dengan tanda khusus. Begitu juga dengan Elliot. Dia memasukan potongan hati itu ke sakunya. Lalu mulai berjalan mencari jejak Lea.


Kerumunan menjadi sedikit hening ketika pembawa acara mengatakan agar mereka mengeluarkan kepingan potongan hati yang tadi dibagikan untuk mereka.


Pembawa acara mengatakan jika Wanita diberi satu keping potongan hati, sementara dua potongan hati yang sama telah diberikan kepada dua pria. Tugas mereka adalah mencari pasangan yang memegang satu keping potongan hati itu. Sementara itu, untuk wanita memegang potongan hati itu agar dapat terlihat oleh pria yang memegang sebelah potongan hati itu.


Mendengar ini, Elliot pun merutuk dalam hati, “Aku harus menjadi pria pertama yang menemukan Lea,” ujarnya seraya memperhatikan bentuk hati yang ada di tangannya.


Para wanita hanya berdiri diam, sementara para lelaki berhamburan mencari siapa pasangan mereka, pemenang yang lebih dulu dengan cepat menemukan pasangnnya maka akan mendapatkan liburan dengan kapal pesiar.


Elliot memejamkan kedua matanya, menghirup dalam-dalam udara yang menaungi taman.


Lalu dia membuka kedua matanya lebar-lebar. Dia juga mulai berjalan mencari-cari Lea. Beberapa menit mencari dia menemukan lea berdiri. Melihat jika Ada pria lain yang berjalan mendekat ke arah Lea, maka dia pun segera mempercepat langkahnya dengan sedikit berlari. Sampai dia menghempaskan semua orang yang meghalangi jalannya. Melihat Elliot berlari dengan cepat maka Lea mundur perlahan, lalu berbalik ingin menghindar.


Pria lain yang mengejar Lea juga sama mempercepat langkah larinya. Jarak Elliot dan Pria itu hanya berjarak sejengkal kaki dari Lea. Tapi tangan Elliot lebih cepat menyambar Lea. Dia mengambil potongan hati itu dari tangan Lea seraya berkata, “Kita menang!”


“Kami menang,” Teriak Elliot seraya mengangkat potongan hati itu tinggi-tinggi.


Peluit panjang pun berbunyi, menandakan jika sudah ada pemenang untuk permainan ini. Elliot tersenyum senang, tapi Lea berwajah masam. Melihat itu Elliot pun menundukan kepalanya seraya berkata, “Marah saja sepuasmu, asal tetap di sisiku.”


Melihat jika banyak yang menatapi mereka, maka Lea kali ini mecoba menelan semua kemarahannya, dan memaksakan senyuman di wajahnya. Mereka berdua pun di minta untuk maju naik ke atas panggung, dan pembaca acara pun memberikan simbolis hadiah untuk mereka nanti pergi berpesiar.

__ADS_1


Elliot merangkulkan tangannya ke bahu Lea, seraya tersenyum puas. Karena baru saja memenangkan hadiah untuk Lea, dari lomba yang unik.


__ADS_2