PENGAWAL RASA TUAN MUDA

PENGAWAL RASA TUAN MUDA
KAMAR MISTIS


__ADS_3

"Minum ini," ujar Leon seraya menggeser segelas teh tawa hangat.


"Jika pedas, maka minumlah air yang hangat atau susu," jelas Leon lagi.


Will mengambil gelas itu lalu menyesapnya, sesaat lidahnya terasa seperti terbakar. Tapi lama kelamaan rasa panas dari cabe pun menghilang, "Wah, ini benar-benar berhasil."


Lea juga merasakan pedas yang sama, ini membuat wajah Lea sedikit memerah. Will melihat bibir Lea yang menjadi berwarna merah jambu. Dia menelan salivanya sambil memandang ke arah lain.


Selesai menikmati nasi padang mereka melanjutkan wisata mereka. Setelah seharian bermain, mereka pun kembali ke hotel. Lea dan Khansa berjalan di depan. Kedua pria jalan di belakang seraya saling bicara dengan metode sedikit berbisik.


"Aku tidak akan bicara banyak, hanya ingin mengingatkan saja. Tidak baik menyembunyikannya terlalu lama," imbuh Leon Sebastian.


"Tidak akan lama lagi," ujar Will seraya sedikit tertawa.


Mereka berempat pun masuk ke dalam lift, dan kembali ke kamar masing-masing. Keesokan harinya Will dan Lea akan pergi ke jawa barat, untuk mengunjungi pulau kunti.


Masuk ke kamar, Will segera saja mandi. Kakinya terasa pegal di sana-sini, karena perjalanan wisata hari ini. Selesai mandi Will langsung saja rebahan di sofa.


Malam ini dia merasa masih kenyang, karena tadi ketika wisata dia mencoba banyak kuliner ketika berada di Kota Tua. Mulai dari kerak telor, tahu gejrot, rujak serut, es selendang mayang.


Will terlihat sedang memijit-mijit kakinya, Lea melihat ini, dia langsung saja memasak air hangat. Jika berpergian jauh Lea selalu membawa garam yang biasa dipakai untuk terapi.


Dia mengeluarkan benda seperti sebuah talenan, lalu menarik bagian atasnya. Benda yang tadinya datar itu berubah menjadi seperti sebuah ember kecil. Lea mengisinya dengan air hangat menaburkan garam lalu membawanya kepada Will.


Lea bersimpuh di depan will seraya berkata, "Biasanya kalau pegal sedang menyerang, aku akan melakukan ini. Dan, itu cukup efektif."


Will membiarkan Lea mengambil satu kakinya, lalu kaki satunya lagi untuk dimasukan ke dalam ember berisi air garam itu, "Berapa lama?" tanya Will

__ADS_1


"20-30 menit," jawab Lea seraya berkata aku akan membuatkan coklat hangat untukmu.


"Terima kasih," ujar Will.


Lea membawa segelas coklat hangat yang baru saja dia buat, tapi Will malah terlihat sedang bersandar, tertidur, "Kau ini benar-benar seperti bayi," gumam pelan Lea seraya mengeluarkan kaki Will dari ember berisi air garam, mengelap kedua kaki Will yang basah. Lalu membenarkan posisi tidur dan menyelimuti Will.


Baru saja berjalan satu langkah, tiba-tiba Will menarik tangan Lea, membawanya jatuh ke dalam pelukan eratnya. Lea bergerak-gerak ingin melepaskan diri, tapi Will malah mengeranh, "Euum ..."


Seketika saja gerakan Lea terhenti. Tidak ingin membangunkan will, maka dia pun membiarkan Will memeluknya dalam tidur. Niat hati membiarkan Will memeluknya sebentar tapi malah Lea ikut terpulas. Suara napas tidur Will yang teratur, membawa Lea ikut terkantuk dan terpulas.


Di pagi hari mereka terbangung dengan saling berpelukan. Lea membuka kedua matanya dan melihat will tengah memandanginya. Wajah Lea pun merah padam seraya berkata, "K-kau sudah bangun?"


Will tersenyum seraya mengangguk pelan, semalaman dia tidak bisa tidur sebentar-sebentar terbangun memandangi wajah Lea. Alisnya yang tebal, rambutnya yang tebal hitam, bulu mata yang lentik, kulit putih sebening air.


Tidak ingin membuat Lea canggung, Will pun berkata sembari merapihkan rambut Lea, "Ayo, saatnya kita pergi ke pulau kunti."


"Ok," jawab Will seraya memberikan tanda jempol.


Selesai makan, mereka pun check out. Lea seperti sedang mencari-cari seseorang, "Apa menunggu Raynar?" tanya Will yang sudah selesai Check out.


Lea terdiam lalu Will berkata lagi, "Nanti akan aku beri selusin yang seperti Raynar, bahkan lebih tampan dari raynar," ujar Will sedikit bercanda.


"Ih kau ini, aku buka kelinci yang bisa melahirkan banyak anak," imbuh Lea seraya mencubit lengan Will. Kecanggungan keduanya sudah mulai mencair.


Mobil yang akan membawa mereka menuju stasiun kereta pun tiba. Mereka memutuskan naik kereta api untuk melihat pemandangan indah, mereka mendengar sepanjang perjalana kereta bisa melihat pemandangan natural alam, yang akan dilewati di 5 jalur.


Kereta dari Jakarta menuju Bandung tersedia dari Stasiun Gambir. KA Argo Parahyangan keberangkatan dari Stasiun Gambir pukul 06.40 dan tiba di Stasiun Bandung pukul 09.20.

__ADS_1


Penumpang kereta api akan disuguhkan dengan beragam bentang alam seperti perbukitan, sawah, sungai, hingga lembah, serta juga Jembatan Cikubang.


Will telah memesan kamar di salah satu hotel bintang 4. Pada saat mereka tiba di hotel. Ada pria dan wanita mengatakan ingin melihat salah satu kamar keramat yang ada di sana. Tapi receptionis mengatakan jika tidak bisa, karena sedang ada yang bersemedi di kamar itu. Jika besok pagi, barulah bisa.


Will menoleh ke pasangan yang terlihat sebagai turis itu, "Kamar keramat," pikir Will.


"Wah, Indonesia ini benar-benar memiliki budaya yang unik," pikirnya lagi.


Will dan Lea pun pergi ke kamar mereka, lalu Will menceritakan apa yang dia dengar tadi lalu berkata kepada Lea, "Apa mau melihat kamar mistis?"


"Kamar Mistis?" tanya bingung Lea.


"Ya itu seperti kamar para petapa," jawab Will lagi.


"Oh Ya ampun Tuan armstrong, kau ini sedang mengajak berbulan madu atau mau mengajak berburu hantu?" ujar Lea dengan tertawa sedikit tidak percaya.


Will pun ikut tertawa, dia hanya sedang merasa kagum dengan budaya indonesia yang beragam. Bahkan dia baru tahu jika negeri kepulauan ini memiliki 733 bahasa daerah yang dipersatukan oleh satu bahasa, yakni bahasa indonesia.


Indonesia telah menjadi negara favorit Will. Dia pasti nanti akan datang ke sini lagi untik wisata liburannya, karena ada banyak yang bisa di jelejahi. Bayangkan saja 733 bahasa daerah, itu berarti Indonesia memiliki suku yang luar biasa banyak.


Keesokan harinya mereka bersiap menyebrang untuk mengunjungi pulau Kunti, di sana nanti juga mereka bisa menyelam di laut melihat indahnya batu karanh, atau melihat air terjun yang indah.


Pulau Kunti Sukabumi dikenal dengan pantai berpasir putih, memiliki deretan karang sisa lava gunung api, dan pohon yang rimbun.


Nama Pulau Kunti menjadi nama objek wisata bukan berarti karena banyak ditemukan kuntilanak di sana. Tetapi, suara itu terbentuk dari badai dan gelombang air pasang yang bisa mencapai empat hingga lima meter. Lalu, membentur deretan batuan lava dan embuat gema yang menghasilkan bunyi seperti kuntilanak tertawa.


Ketika sampai di Pulau Kunti, Will dan Lea takjub dengan keindahan hamparan pasir putih dan batu karang di sekitarnya. Ditambah dengan pohon yang rindang. Mereka nanti akan berkunjung melihat gua kunti yang bisa dijadikan tempat untuk latar berfoto.

__ADS_1


__ADS_2