
Elliot masih terus memeluk Lea berputar-putar karena terlalu senang, Lea memukul Bahu Elliot lalu berkata lagi, “Turunkan aku!”
Elliot pun menurunkan Lea, lepas dari gendongannya. Tanpa aba-aba, pria yang sedang bahagia itu langsung saja mencium bibir mungil Lea. Merasa jika gadis kecilnya itu sulit bernapas karena deraan cuiuman darinya maka Elliot pun melepaskan tautan bibirnya.
Lea menstabilkan napasnya, lalu berkata lagi, “Ini … ini baru masa percobaan!” ujarnya.
“Percobaan ?” tanya heran Elliot.
“Ya, masa percobaan. Selama masa ini, aku akan menilai semua perilakumu,” jelas Lea.
“Oh ya ampun, kita ini sedang berpacaran atau sedang dalam pelatihan anak magang?” ujar Elliot sedikit protes.
“Mau tidak?” Tanya Lea.
“Ok, ok. Sepakat, setuju,” jawab Elliot pada akhirnya menyerah pada gadis kecilnya yang termasuk dalam ras terkuat di bumi, yakni kaum wanita.
Meski dalam masa percobaan, tapi itu sudah cukup mebahagaiakan untuk Elliot. Karena itu artinya dia bebas mengajak Lea berkencan kapan saja. Di dalam mobil, Lea membuka pembicaraan, “Tentang nona Hank, bagaimana?”
“Aku akan mengurusnya,” jawab Elliot.
“Apakah benar kau pergi keluar dari keluarga Foster?” Tanya Lea lagi.
“Apa kau takut miskin?” tanya Elliot.
“Ish kau ini … apa kau lupa kau masih dalam masa percobaan, jadi jangan membuat aku kesal,” ujar Lea sedikit mencubit tangan Elliot.
“Ok … ok, maafkan aku!” pinta Elliot.
Elliot melanjutkan perkataannya, “Aku bisa berdiri dengan kaki-ku sendiri, tanpa bantuan nama besar Foster aku masih bisa mencukupi kebutuhanmu dan kebutuhan anak kita kelak.”
Wajah Lea memerah ketika Elliot menyebutkan perkataan ‘anak kita’ dan, berhasil membuat dia tersenyum dalam samar, jauh di dalam hatinya benar-benar merasa jika Elliot adalah pria yang tepat untuknya. Tapi wanita tetaplah wanita berkata sudah memaafkan tapi masih tetap meyimpan kenangan yang membuatnya marah, yang bisa saja sewaktu-waktu keluar diungkit lagi ketika marah.
Jika Elliot sedang merasa senang karena baru saja meyakinkan Lea untuk memulai hubungan yang baru, maka pada saat ini Eddie Baker sedang menyesap alkohol, gelas demi gelas. Sampai mulai mabuk, pada saat ini orangnya Claudia memberi tahu jika saat ini Eddie sedang mabuk di bar 1998. Dia pun langsung pergi ke bar itu. Dan, benar saja dia melihat jika Eddie sedang mabuk sambil berbaring di sofa.
Claudia mendekati Eddie, samar-samar dia mendengar pria itu memanggil nama Lea. Seketika saja itu membuat hatinya bergemuruh, marah dan cemburu. Ini membuat Claudia ingin mengambil semua yang Lea miliki dan menghancurkannya.
Claudia menarik dan memapah Eddie untuk membawanya pulang, bagaimana pun juga kali ini dia harus berhasi menghancurkan Lea. Apalagi dia mendengar dari sumbernya jika Elliot Foster sudah benar-benar keluar dari Keluarga Foster.
Setelah merebahkan Eddie di ranjangnya, dia meriah ponselnya dan menghubuni Lyra Hank, “Apa kita bisa bertemu?”
“Kau siapa?” tanya Lyra.
__ADS_1
“Aku adalah sekutumu, kau dan aku sama-sama membeci satu wanita yang sama,” imbuh Claudia.
“Lea Atkinson maksudmu?” ujar Lyra.
“Iya, aku sangat membenci Lea Atkinson. Dan, kau juga pasti sama besarnya seperti ku di dalam membencinya. Bahkan dia membuat Elliotmu memilih hidup miskin demi wanita itu,” ujar Claudia memanasi hati Lyra sekaligus membujuk agar dia mau bekerjasama dengannya.
“Aku membencinya bahkan sampai ke tulang sumsum ku,” jawab Lyra sembali mengepalkan tangannya.
“Jika begitu apakah sepakat denganku, kita hancurkan dia sama-sama. Kau bantu aku menghancurkannya, aku membantumu mendapatkan Elliot kembali!” ujar Claudia memberikan penawarannya.
“Ok, kita sepakat,” jawab Lyra.
“Jika begitu kita harus bertemu,” imbuh Claudia.
“Katakan di mana, dan kapan,” ujar Lyra.
Mereka berdua pun bersepakat bertemu untuk menyusun rencana menghancurkan Lea. Sementara itu, meski Lea sudah bersedia merajut lemnbali, tapi dia masih berkeberatan jika Elliot mau memberi tahukan hal ini kepada Nenek Atkinson.
“Jika kau sudah lulus masa percobaan, maka barulah aku sendiri yang akan mengataka kepada Nenek,” janji Lea.
Sebagai anak magang yang baik, maka Elliot pun patuh kepada mentor, penilainya itu dan akan bekerja keras sebaik mungkin untuk bisa mendapatkan kesempatan 100% dari Lea Atkinson. Setelah mengantarkan Lea pulang, dia pun melajukan mobilnya tuk kembali ke Penthouse miliknya. Di sana ada Will Armstrong yang sedang bekerja bagai kuda untuk menjalankan Pegasus Corporation. Menangani semua detail yang Elliot pinta. Selama ini Pegasus Corporation, berbisnis dalam metode Anonim, Alias siapa pemilik sebenarnya tidak pernah diungkap di depan umum.
Jika Pegasus sedang melakukan negosiasi bisnis, maka orang-orang terhandal yang hanya akan keluar untuk melakukan kesepakatan. Bisnis Pegasus ini mencakup bidang-bidang bisnis besar. Hanya saja Pegasus lebih menitik beratkan pada pembelian bisnis yang hamper bangkrut dengan harga murah, lalu memperbaikinya, mengembangkannya dan menjalankannya kembali sampai meraih keuntungan yang mencapai 100% dari harga beli dulunya. Selain itu Pegasus juga banyak menyuntikan dana bagi perusahaan-perusahaan yang sehat yang ingin mengembangkan perusahaannya.
Elliot berjalan ke rak koleksi botol anggur lalu mengambil minuman nggur yang paling mahal, hipwrecked 1907 Heidsieck. Anggur ini ditemukan di dasar laut selama sekitar 30 tahun lamanya setelah kapal Swedia ditenggelamkan oleh German U-boat dan ditemukan pada tahun 1997. Beruntungnya botol tersebut disimpan dalam kondisi bersih karena suhu dan tekanan air. Rasa yang membuat akhirnya anggur ini dihargai dengan mahal yaitu seharga Rp 4 miliar.
Will mengetahui harga minuman anggur itu karena dia yang membelinya untuk bosnya itu, Elliot membuka tutup botol itu lalu mengajak semuanya untuk bersulang. Bos mengajak bersulang sudah tentu tidak berani menolak, apalagi mereka tahu apa yang di miliki bos mereka ini pastilah bukan barang murah,
Sambil menyesap anggur mahal itu, mereka sambil mendiskusikan perusahaan mana yang akan diambil alih, “Apakah yakin?” tanya Will Armstorng.
“Yakin,” jawab Elliot.
“Ini artinya kita harus membangkrutkan Foster grup,” ujar Will.
“Ya bangkrutkan saja, lalu kita akan membentuk generasi Foster yang baru,” jawab Elliot lagi dengan yakin.
Will menatap kepada semua asisten yang ada di sana seraya berkata, “Kalian sudah dengarkan, kali ini Pegasus akan sedikit memberi racun untuk membebaskan Foster grup dari cengkraman gurita tua.”
Semua asisten mengerti maksud dari perkataan asisten nomor satu Tuan Foster itu. Keesokan harinya mereka sudah mulai bekerja menjalankan perintah Tuan besar mereka. Sementara itu Lyra menjalankan siasatnya untuk mengambil hati Kakek Foster. Datang berkunjung membawakan barang kuno yang sudah lama diinginkan oleh Kakek Foster.
Kota kuno Pavlopetri adalah kota "bawah air" tertua yang berisi artefak dari zaman Yunani kuno. Meski telah ditemukan pada tahun 1968 oleh Dr. Nic Fleming dan timnya, kota ini tidak disentuh lagi sampai hampir empat dekade setelahnya. Dengan bantuan teknologi modern, diperkirakan kalau kota ini telah berusia sekitar 5.000 hingga 6.000 tahun.
__ADS_1
Pada awalnya, kota yang berdiri tegak pada Zaman Perunggu ini terletak di lepas pantai selatan Laconian, Yunani. Alasan mengapa kota ini tenggelam masih menjadi perdebatan di kalangan peneliti.
Benda artefak yang Kakek Foster ingini adalah sebuah bilah yang terbuat dari batu obsidian. Sebuah bilah adalah bagian dari suatu alat, senjat, atau mesin yang memiliki tepian yang dirancang untuk menusuk, memotong, mengiris, atau mengoyak suatu permukaan atau bahan tertentu.
“Wuah kau berhasil mendapatkan ini,” puji Kakek Foster.
“Akuk tahu, Kakek sangat menyukai ini. Dan aku pun berusaha keras untuk mendapatkanny,” ujar Lyra.
“Kau memang gadis yang cerdas,” puji Kakek Foster lagi dengan menekankan rasa bangga.
Pada saat ini Lyra memberanikan diri untuk bertanya tentang Elliot, “Apakah benar dia sudah benar-benar bagian dari keluarga Foster?”
Mendengar pertanyaan Lyra, Kakek Foster pun meletakan bilah tersebut lalu berkata, “Aku akan tetap memastikan dia menikah denganmu, jadi tidak perlu ada yang di khawatirkan. Persiapkan saja pesta dengan baik, aku akan membawanya ke altar pertunangan kalian nanti.”
“Apa maksud kakek, tidak akan ada pertunangan tapi langsung kepada Pernikahan?” tanya Lea memastikan.
“Iya,” jawab pasti Kakek Foster.
Mendengar pernyataan ini langsung dari mulut Kakek Foster, maka sudah bisa di pastikan membuat hati Lyra melayang, melambung tinggi. Dia pun tersenyum, lalu berkata, “Lain kali aku akan membawakan banyak artefak kuno untuk kakek.”
Lyra benar-benar ingin mengambil hati Kakek Foster, menjadi satu-satunya menantu untuk ahli waris Foster Grup. Karena itu dia tidak peduli, jika harus mengeluarkan uang banyak untuk mencapai tujuannya itu, keluarganya memiliki bisnis lembaga keuangan yang cukup besar, jadi sudah tentu dia tidak takut kehabisan uang. Berpikir jika nanti itu semua kembali dalam bentuk penggabungan kekayaan dari dua keluarga besar dan terpandang.
Tiba-tiba saja dia merasa telang mengalahkan Lea Atkinson, yang hanya memiliki kekayaan berupa beberapa toko mainan saja. Setelah mendapatkan kepastian dan dukungan dari Kakek Foster maka Lyra pun segera pergi meninggalkan Mansion Foster. Dia menghubungi orangnya agar berburu artefak kuno lebih banyak lagi dan segera mengirimkannya kepada Kakek Foster.
Jadwal Lyra selanjutnya adalah menemui Claudia Atkinson, dalam rangka menyusun rencana menjatuhkan Lea. Mereka berjanji temu di salah satu Café. Cludia lebih dulu sampai di sana. Melihat Lyra datang dia pun melambaikan tangan.
“Apa sudah lama menunggu?” tanya Lyra kepada Claudia.
“Tidak aku juga baru beberapa menit datang,” jawab Claudia.
“Jadi apa rencanamu?” tanya Lyra langsug tanpa berbasa-basi.
“Untuk lebih awal, kita coreng namanya dulu,” ujar Claudia.
“Dengan apa?” tanya Lyra.
“Ini,” ujar Claudia seraya menunjukan selembar foto ibunya Lea dengan Tuan Atkinson.
“Maksudmua kita sebarkan artikel tentang ibnya Lea yang hidup menjadi wanita kedua, simpanan?” tanya Lyra.
“Tepat sekali,” jawab Claudia.
__ADS_1
“Mengapa begitu membenci Lea?” tanya Lyra ingin tahu.