PENGAWAL RASA TUAN MUDA

PENGAWAL RASA TUAN MUDA
JATUH CINTA DENGANMU ADALAH PILIHANKU


__ADS_3

Lea melangkah dengan cepat, kali ini Will mengejar langkah Lea seraya berkata, "Apa ada yang mengganggumu?"


Lea tetap berjalan lurus, lalu Will berkata lagi, "Apa kau sedang marah dengan aku?"


Langkah Lea pun berhenti, Lalu dengan bersungut dia menjawab, "Bukankah kita sudah menikah, kenapa harus tidur terpisah. Apa aku sejelek itu?" tanya Lea dengan wajah merengut.


Melihatnya Will pun sedikit tertawa, andai saja dia tahu betapa menggemaskan dirinya itu, will pun berkata lagi, "Kau cantik sekali, cantik sekali."


Will memuji Lea, lalu berkata lagi, "Jika sudah saatnya, maka kita akan menghabiskan malam-malam bersama."


Lea mengernyitkan alisnya, merasa bingung. Sudah menikah mengapa harus tidur terpisah. Melihat rasa tidak puas di wajah Lea, Will pun langsung memeluknya seraya berkata lagi, "Kau sangat cantik, sampai-sampai membuatku ingin memakanmu saat ini juga," ujarnya seraya mengecup daun telinga Lea karena merasa gemas. Will berkata lagi, "Patuhlah."


Tubuh Lea pun meremang ketika Will mencium daun telinganya itu. Juga ketika Will memasukan jemari tangannya ke tangan Lea seraya berkata, "Ayo kita pergi menemui Tuan Mortgage."


Sambil menggenggam tangan Lea Will berkata dalam hati, "Bertemu denganmu adalah takdirku, jatuh cinta denganmu adalah pilihanku, resiko terberatnya adalah merindukanmu," ujar Will dalam hati yang merasa sama tidak senangnya karena harus tidur terpisah dengan Lea.


Sesampainya di rumah Tuan Mortgage, Lea memberi tahukan semua startegi yang akan dia presentasikan nanti.


"Perhatikan alur komunikasi, jangan sampai hanya komunikasi satu arah saja," Tuan Mortgage memberikan nasihat trik jitu jika ingin melakukan presentasi.


"Lemparkan beberapa pertanyaan singkat atau pun menunjuk yang hadir secara acak untuk dimintai pendapat," trik dari tuan Mortgage lagi.


"Gaya presentasi dengan mengabaikan para audiens seperti ini dapat membuat audiens merasa bosan walaupun materi yang kamu bawakan menarik," Tuan Mortgage benar-benar mengingatkan Lea agar tidak melalukan kesalahan komunikasi satu arah.


Lea pun dengan bersemangat menjawab, "Mengerti, menyampaikan presentasi yang memukau adalah menyampaikan materi presentasi dengan lugas dan dapat dimengerti oleh para audiens."


Tuan Mortgage pun tersneyum seraya memandang kepada Will. Setelah berdiskusi dan mendapatkan pembekalan yang cukup, maka mereka berdua pun pulang.


Sebelum Will dan Lea pergi ke toko, Nenek atkinson sudah memberikan sebuah kunci rumah untuk tempat tinggal Lea dan Will. Jadi ketika Will menepikan mobilnya, Lea pun terkejut.


"Kita ke rumah siapa?" tanya Lea.


"Rumah kita tentu saja," jawab Will.

__ADS_1


"Sejak kapan kita punya rumah sebagus ini?" tanya Lea.


"Hadiah dari Nenek," jawab will lagi.


"Oh ya ampun, Nenek," ujar Lea dengan mata berkaca-kaca.


"Ayo kita masuk," ajak Will.


"Tapi aku belum memindahkan barang-barangku," ujar Lea.


"Tidak perlu khawatir," ujar Will seraya mengajaknya masuk ke kamar Lea, dan memperlihatkan ruang ganti yang berisi lemari besar. ruangaan ini terutama ditujukan untuk menyimpan pakaian, alas kaki dan lain-lain.


Lea melihat-lihat baju yang tergantung rapi, lalu mengambil salah satunya, "Ini pas dengan ukuran tubuhku."


"Tentu saja, itu hadiah dari Nenek," ujar Will lagi.


Ketika Lea sedang melihat-lihat baju-baju lainnya, tiba-tiba Will menariknya dan mengatakan pertanyaan yang serius, "Apa kau tidak menyesal mengambil aku untuk menjadi suamimu?"


"M-mengapa bertanya seperti itu?" tanya Lea sedikit terbata dengan wajah sedikit memerah, karena saat ini Will tengah merangkulkan kedua tangannya di pinggul ramping Lea.


"Tuan Armstrong, bukankah sudah jelas ketika aku mengatakan dalam susah dan senang, itu bukan hanya sekedar ucapan. Ada kesungguhan di dalamnya," ujar Lea.


"Lagipula, kemewahan ... eum, bukannya aku tidak suka. Hanya saja, bagiku kita bisa mengusahakan itu bersama-sama," ujar Lea lagi.


Senyuman tipis menghampiri wajah Will, lalu dia berkata, "jika begitu aku akan mengusahakannya dengan keras."


"Sepakat," ujar Lea seraya mengedipkan matanya.


Sebelum pergi ke kamarnya Will menundukan kepalanya, dan mencium kening Lea seraya berkata, "Tidurlah."


Lagi-lagi Will membuat tubuh Lea meremang, dia pun menepuk-nepuk pipinya sambil menggembungkan pipinya. Lea menurunkan kedua tangannya dan menghela napas, teringat pertemuannya dengan Eddie tadi.


Meskipun dia tidak mengakui secara lisan, kata-kata Eddie tidak diragukan lagi sudah menusuk hatinya. Tiba-tiba saja dia teringat apa yang dikatakan Eddie saat merayunya.

__ADS_1


Eddie mengatakan bahwa dia menyukai betapa bersih dan jernihnya Lea. Eddie menyukai sikapnya yang dingin dan acuh tak acuh. Itu ibarat,seperti bunga di gunung bersalju yang hanya bisa dilihat dari jauh dan tidak tercemar. Siapa pun yang melihatnya pasti ingin melindunginya.


Lea meyakini jika cinta Cinta terbaik itu haruslah bersifat platonis, terlepas dari cinta spritual yang bersifat jasmaniah, itu adalah jenis cinta yang paling murni.


ketika kedua orang yang terlibat dalam hubungan dan memiliki ikatan erat untuk berbagi perasaan, tetapi tidak ada hasrat seksual. Karena meyakini ini, maka itu sukses membuat Lea bisa menjaga kehormatannya sampai kini.


Namun, perasaan sedih muncul dari lubuk hatinya yang paling dalam. Dia mengangkat kedua tangannya untuk menutupi wajahnya, saat matanya mulai terasa perih karena menahan tangis.


Kenyataannya adalah bahwa Eddie pergi ke pelukan Claudia untuk tidur bersamamya, bahkan mereka akan memiliki seorang anak jika saja Claudia tidak keguguran.


"Yang lalu, biarlah berlalu," gumam pelan Lea menasihati dirinya sendiri.


Keesokan paginya, Lea bangun lebih awal untuk memasak sarapan. Dalam rumah ini mereka sepakat tidak menggunakan jasa pelayan. Tugas bersih-bersih dan masak mereka kerjakan bersama. Lea memasak, maka Will membersihakn rumah.


Hari ini Will memakai setelan jas berwarna abu-abu. Itu terlihat sangat licin, tidak terlihat ada kerutan sedikit pun. Hari ini dia akan menemani Lea mempresentasikan di depan doreksi tentang produk mainan terbaru yang waktu itu mereka kerjakam bersama.


"Makanlah dulu," ujar Lea seraya menuangkan segelas susu untuk Will.


Lea memperhatikan Gerakan elegan Will ketika memakan sarapan pagi mereka. Lea menundukan kepalanya seraya bergumam pelan, "Mengapa hanya makan saja, dia terlihat sangat tampan."


Sarapan bersama pun selesai, saatnya pergi ke medan pertempuran. Will melajukan mobilnya ke grup atkinson. Tiba di sana keduanya langsung menuju ke ruang pertemuan. Samuel sudah menunggu di sana.


Lea menghampiri dan berkata, "Bagaimana apa kau siap?"


"Tentu saja," jawab Samuel dengan bersemangat.


Tim Lea hanya terdiri dari tiga orang saja. Sementara Claudia hadir dengan ditemani beberapa Tim marekting.


Claudia mendapatkan kesempatan pertama untuk tampil promosi.


Dalam presentasinya, Claudia menitik beratkan pada media promosi besar-besaran, "Kita perlu memasang iklan di videotron yang berada di tempat-tempat startegis. Bukan hanya itu saja, di semua media sosial juga harus"


"Lihatlah draft video yang telah dibuat oleh tim ku," ujar Claudia dengan bersemangat.

__ADS_1


Video selesai diputar Claudia berkata lagi, "Kita juga harus menggaet beberapa influencer terkenal atau artis top yang sedang naik daun. Untuk bintang iklan kita."


Saking semangatnya menyampaikan materi, sampai Claudia tidak menyadari bahwa dirinya hanya melakukan komunikasi satu arah.Tidak ada interaksi dengan yang hadir di sana sehingga pembicara terkesan seperti menggurui, karena terlalu banyak kata harus yang Claudia tekankan.


__ADS_2