PENGAWAL RASA TUAN MUDA

PENGAWAL RASA TUAN MUDA
KULIAH BISNIS


__ADS_3

Tuan Mortgage memaparkan betapa pentingnya studi kasus marketing, demi memaksimalkan pemasaran produk. Dan, pembuktian pada dunia bahwa produk kita adalah yang terbaik dari yang terbaik. studi kasus adalah salah satu bentuk media yang digunakan untuk strategi konten. Intinya, ini adalah ajang pembuktian bahwa suatu brand atau produk memiliki nilai yang baik.


“Apa sudah menentukan mau mengunggulkan produk mainan yang mana?” tanya Tuan Mortgage.


“Ini adalah produk terbaru,” jawab Lea.


Produk yang Lea ingin perkenalkan adalah mainan edukasi, merupakan salah satu media yang dapat memberikan pelajaran tertentu kepada anak-anak berkebutuhan khusus.


Anak-anak yang mengalami sebuah gangguan perkembangan. Mainan yang ingin dibuat oleh Lea adalah mainan yang melatih kemampuan anak-anak penyandang cacat yang terkadang tidak memiliki hak untuk bermain dan akses ke mainan.


Fakta memiliki cacat fisik seharusnya tidak mencegah anak dari bermain dengan teman sekelasnya atau teman-temannya. Permainan untuk orang cacat fisik sangat penting, karena permainan ini menyediakan sarana partisipasi yang lebih dekat dengan lingkungan mereka dan membantu mereka untuk memiliki momen menyenangkan di waktu luang mereka.


Dalam kebanyakan kasus, anak-anak cacat ini tidak dapat bermain karena kegiatan tidak disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Dalam kesempatan lain hanya perlu memvariasikan bentuk, kompleksitas permainan,


Mendengar segmen pasar yang Lea bidik maka Tuan Mortgage pun langsung memuji Lea, Jika sudah sangat benar menentukan pangsa pasar.


Tidak banyak perusahaan yang mau fokus dan peduli memproduksi permainan yang dikhususkan untuk penyandang cacat, itu artinya sebuah potensi besar untuk lebih mudah mendapatkan keuntungan.


“Aku hanya ingin memberikan kebahagian kepada mereka, karena keterbatasan itu, pastilah mereka selama ini hanya bisa melihat saja,” ujar Lea lagi.


Will tersenyum samar, dia tidak sabar ingin melihat apa yang akan Lea buat lagi nanti. Tanpa di sadari, dia sudah membersamai Lea untuk menjadi wanita dewasa, dan itu menimbulkan rasa bahagia yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Tuan Mortgage memberikan pelatihan kepada Lea berupa studi kasus, semua dilakukan demi mengasah kamampuan Lea menganalisa masalah yang terkait dengan pangsa pasar yang Atkinson Grup targetkan. “Apakah sudah ada contoh mainannya?” tanya Tuan Mortgage.

__ADS_1


“Sudah,” jawab Lea.


Lea teringat dengan permainan masa kecilnya, Ibunya pernah memberikan itu kepada Lea mengatakan jika dia sengaja membuat permainan itu untuk pamannya yang mengalami gangguan disleksia. Ibunya bilang jika pamannya itu bukan tidak bisa membaca hanya saja tiap kali ingin membaca maka pamannya itu akan melihat huruf-huruf menjadi seperti berlompat-lompat, tidak mau diam, karena itu membuat alami kesulitan untuk membaca.


Konsep permainannya sederhana, jika Pamannya Lea berhasil mengucapkan satu huruf atau satu kata dengan benar maka ular tangga yang dibuat oleh ibunya itu akan naik ke atas menuju hadiah Jackpot, yakni bisa sebuah coklat, Sncak ringan gurih atau sebuah mainan mobil polisi berikut tentaranya.


Kali ini Lea akan membuat itu dalam edisi permainan itu di dikembangkan dengan teknologi. Lea ingin menjadkan ini menjadi sebuah terapi disleksia yang menyenangkan melalui permainan menggunakan teknologi.


Salah satu contoh fitur permianan ini adalah permainan mengeja kata, yaitu permainan yang didesain untuk mendorong penyandang disleksia dalam mengucapkan suatu huruf atau kata yang sulit diucapkan.


Lea pun mulai menjelaskan ini kepada Will dan juga Tuan Mortgage. "Penyandang Disleksia akan diminta mengucapkan huruf atau kata yang sesuai dan aplikasi akan menganalisisnya dengan bantuan pengenalan kata pada program permainan ini,” jelas Lea.


“Nanti juga kita akan beri warna-warna yang menarik untuk permainan ini.”


“Apa hal yang menarik darri permainan ini?” tanya Tuan Mortgage.


“Setiap kali berhasil mengenali huruf dan mengucapkan huruf atau kata tersebut dengan benar, maka Singa dalam aplikasi akan berjalan tiga langkah untuk menuju daging kesukaannya dan aplikasi akan memberikan sejumlah poin tertentu sebagai penghargaan atas keberhasilannya,” jawab Lea.


Will sedikit mengangkat kepalanya, memuji ide kreatif Lea. Tuan Mortgage pun mengangguk-anggukan kepalanya, tanda memuji Lea juga.


Tuan Mortgage berkata lagi, “Dalam eksekusi aktivitas marketing, kita butuh sebuah Rencana pemasaran.”


“Tanpa didukung Rencana penjualan, maka bisnis ibarat berjalan menyusuri peta buta. Sehingga ketika eksekusi di pangsa pasar akan menemukan masalah, pihak penanggung jawab tidak mampu menemukan antisipasi yang tepat dalam waktu singkat,” Tuan Mortgage melanjutkan memberi kuliah bisnisnya untuk Lea.

__ADS_1


Lea mengganguk seraya berkata, “Rencana penjualan ini akan memudahkanku dalam menyusun setiap strategi pemasaran. Sehingga dengan adanya rencana penjualan ini, pemasaran dan profit bisnis bisa fit,” ujar Lea senang seraya menepuk kedua tangannya.


“Tepat sekali, dan aku ingin kau mengerti dan bisa Menyusun rencana pemasaran ini. Tujuannya, sudah pasti, agar kau tidak salah langkah dalam menentukan kebijakan dalam bisnis,” jelas Tuan Mortgage.


“Aku memiliki sesuatu untukumu,” ujar Tuan Mortgage seraya mengambil tab nya, tangannya nampak berselancar, lalu keluarlah satu kertas dari mesin printer.


Tuan Mortgage memberikan kertas itu kepada Lea seraya berkata, “Aku hanya memiliki angka-angka, kau putuskan akan kau apakan angka-angka ini.”


Itu adalah data pemetaan berapa banyak penderita disleksia yang tersebar,lengkap dengan data identitas dan alamat mereka. Sepanjang Lea menjelaskan maksudnya, Tuan Mortgage langsung saja melakukan riset dan menggunakan seluruh sumber dayanya untuk mendapatkan informasi yang dia berikan kepada Lea dengan cepat.


Lea melihat selembar kertas itu dengan mata berbinar, terlihat seperti melihat sebongkah berlian. Will sedikit tertegun melihat binar semangat gadis kecil imut yang sedang duduk di depannya itu. Jika Lea hanya menggunakan satu sumber daya, maka Claudia benar-benar menggunakan segala yang dia miliki di dalam pertempuran ini.


Hari ini Claudia menggelar pertemuan dengan semua kepala bagian penjualan dari berbagai cabang Atkinson, dia mewajibkan semua kepala bagiab penjualan itu agar memberikan presentasi ide menaikan angka jumlah penjualan mainan yang mereka produksi.


Mereka berdua sama-sama memikirkan strategi penjualan, yang satu menitik beratkan kepada jumlah. Sementara, yang satunya lagi menitikberatkan pada kualitas.


Dalam perjalanan pulang, Lea menatap kertas itu terus menerus, “Aku butuh melihat budaya di daerah tempat mereka tinggal,” gumam pelannya.


Daun telinga Will menangkap apa yang di katakan oleh Lea, lalu dia berkata, “Kita bisa pergi mengunjungi salah satunya.”


Lea mengangkat kepalanya lalu berkata dengan semangat, “Iya kita bisa pergi riset ke sana.”


“Will bersiaplah, kita akan bekerja sekaligus berpiknik, ok!” ujar Lea sambil menepuk tangan senang.

__ADS_1


__ADS_2