PENGAWAL RASA TUAN MUDA

PENGAWAL RASA TUAN MUDA
DIPAKSA MENIKAH


__ADS_3

Lea memilih tempat yang memiliki penderita penyandang disleksia agak banyak. Dalam satu sekolah memiliki beberapa murid yang alami disleksia. Maka Lea memilih sekolah itu untuk dijadikan bahan studi kasus untuk produk bisnis terbarunya.


Sebelumnya Lea memang sudah memikirkan tentang rencana produk terbaru ini tepat ketika Foster Grup menyuntikan dana investasi, Dan kebetulan dia mendapatkan tantangan bisnis dari Claudia.


Dengan suntikan dana dari Foster grup, maka tim IT terkait mengatakan jika hanya membutuhkan waktu kurang dari 2 bulan saja untuk pembuatannya,. Saat ini prototype produk telah tersedia.


Prototype merupakan sebuah metode yang digunakan untuk tujuan pengembangan produk dengan cara membuat rancangan, sampel, atau model dan membuat pengujian konsep atau proses kerja dari produk tersebut.


Di Desa ini hanya di huni oleh 15 penduduk yang masih tinggal di area ini. Desa ini terletak di sebelah barat laut Stockholm sejauh satu setengah jam perjalanan. Desa ini terbentuk selama beberapa ratus tahun, dengan akses ke air panas dan sejarah yang menarik semenjak abad ke 18.


Area desa ini dilengkapi dengan sejumlah bangunan seperti sekolah, hotel, hutan luas, gereja dan tempat pemandian umum yang memiliki kolam sepanjang sekitar 15 meter dan bisa dipanaskan dengan sistem pembakaran. Desa ini juga mulai menjual air murni pegunungan, yang mendapat status kemurnian tertinggi di Swedia, memiliki pabrik bir dan sampanye sendiri.


Setelah berkendara satu setengah jam, Will dan Lea pun tiba di hotel yang akan mereka tempati selama melakukan studi kasus di sini. Lea juga membawa salah satu tim IT Atkinson bersama mereka. Sedikit-sedikit Will memincingkan matanya setiap kali Lea dan Samuel sedang berdiskusi. Dlaam hati merasa tidak rela perhatian Lea terbagi untuk pria lain, meskipun itu hanya membahas tentang masalah pekerjaan. Sementara dia hanya menyetir mobil untuk mereka berdua.


Begitu sampai di hotel, Lea langsung saja turun dari mobil dan menarik napas dalam-dalam, “Lihatlah tempat ini begitu indah dan juga sejuk.”


Will dan Samuel juga merasakan kenikmatan menghirup udara yang sejuk. Mereka memilih desa ini, karena berdasarkan data, meski hanya 15 penduduk saja, tapi anak penyandang disleksia di sini termasuk banyak, Karena penyakit ini juga termasuk jenis yang menurun.


Mereka bertiga tidak sekamar, kamar mereka saling bersebelahan. Kamar Samuel dan Will mengapit kamar Lea. Setelah meletakan barang-barang mereka, saatnya pergi ke restoran lokal untuk makan siang bersama dengan sesepuh di desa itu.


“Ayo, jangan sampai telat. Tidak sopan membuat Tuan rumah menunggu kita. Jadi jangan sampai terlambat,” ujar Lea yang melihat Will dan Samuel baru saja keluar dari hotel.


Kali ini Will memberikan kunci mobil pada Samuel untuk menyetir mobil mereka. Sementara dia duduk di sebelah Lea. Ketika mereka sampai Tuan Brimingham belum tiba. Tak berapa lama akhirnya pria yang di tunggu pun datang.


“Halo Nona Atkinson,” sapa sopannya dengan tersenyum tapi, tidak terlihat karena tertutup oleh kumis dan janggut yang lebat.


“halo Tuan,” sapa Lea berdiri menyambut uluran tangan Tuan Brimingham, lalu di ikuti oleh Will dan Samuel.


“Maaf aku sedikit terlambat, ada beberapa hal yang harus aku urus terlebih dahulu,” jelas Tuan Brimingham.

__ADS_1


“Apa Tuan sedang sakit?” tanya Lea yang melihat jika Tuan Brimingham terlihat lelah.


“Ya begitulah, sebenarnya desa ini membutuhkan pemimpin baru, hanya saja masih belum bisa menemukan yang besedia.” Jelas Tuan Brimingham.


Desa ini hanya berpenghuni 15 penduduk saja bukan tanpa sebab, beberapa tahun terakhir ini banyak keluarga terutama anak-anak muda memutuskan pergi dari desa yang indah itu. Tuan Brimingham bercerita dengan sedikit sendu, tapi mulai bersemangat lagi karena melihat Lea yang begitu muda, energik dan penuh semangat.


“Aku akan membantu Nona semampuku,” janji Tuan Brimingham.


Lea pun semakin bersemangat karena mendapatkan dukungan, dia pun mulai menjelaskan maksud kedatangannya. Mendengar itu tentu saja Tuan Brimingham pun sama bersemangatnya seperti Lea. Hati Will menghangat melihat ini, Lea bagaikan terik dan dingin.


Bisa bersikap panas kepada musuhnya, bisa bersikap menyejukan dingin bagi orang-orang yang membutuhkan semangat, “Jika begitu selesai makan siang ini, aku akan mengantarkan mu melihat ke sekolah dan melihat data informasi para murid disleksia dan juga bertemu para guru.”


“Dengan senang hati Tuan,” jawab Lea.


Selesai makan, mereka pun pergi ke sekolah yang di maksud, Kedatangan Lea dan lainnya tentu saja menarik banyak perhatian orang, karena desa mereka ini akan ramai jika di musim liburan saja. Banyak wisatawan datang hanya untuk merasakan mandi air panas dari air pegunungan mereka.


“Apa kau akan menetap di sini?” tanya sebuah suara dari belakang punggung Will.


Mendengar ada yang mengajaknya bicara, maka Will pun menoleh. Dia sedikit tersenyum melihat wanita yang sedang mengajaknya bicara itu lalu menjawab. “Tidak.”


“Ah, sungguh di sayangkan sekali, semua pria tampan sudah pergi dari sini semua,” gumam pelannya sambil menatap Will dari puncak kepala sampai dengan ujung sepatu Will.


Merasa tidak ada kepentingan, Will melangkah pergi meninggalkan wanita itu. Wanita itu menyusul langkah Will lalu berkata, “Apa kau tinggal di hotel?”


Will sedikit terbatuk, demi sopan santun dia pun menjawab ,”Iya.”


“Jika begitu kita bertemu nanti malam untuk makan malam ya,” ujar wanita itu seraya pergi mendahului langkah Will.


Mendengar itu Will pun terpaku, merasa heran dengan wanita asing itu. Teringat Lea dia pun mengabaikan apa yang dikatakan wanita tadi, lalu dia pun pergi masuk ke dalam sekolah. Tepat ketika dia datang, kunjungan yang Lea lakukan sudah selesai.

__ADS_1


Melihat wajah Lea yang berbinar dan senyuman Samuel, Will menebak jika pertemuan itu berjalan dengan lancar. Mereka pun kembali ke hotel, “Oke kita bertemu saat makan malam nanti ya,” ujar Lea seraya menoleh kepada Will lalu kepada Samuel, seraya masuk ke dalam kamarnya.


Makan malam pun tiba. Mereka semua bertemu di restoran. Baru saja duduk, tak berapa lama wanita yang tadi siang datang menyapa Will, “Halo Tuan, kita bertemu lagi, Terima kasih karena sudah memenuhi undangan makan malam aku. Malam ini aku yang traktir.”


Lea melihat kearah Will, yang terlihat sama bingungnya, belum juga Lea berkata wanita itu sudah berkat lagi, “Kami bertemu tadi siang, dan memutuskan untuk makan malam bersama di sini, senang bertemu denganmu,” ujarnya kepada Lea seraya menarik kursi untuk duduk.


Samuel dan Lea saling berpandangan, Wanita itu terus saja bicara dan duduk bersebelahan dengan Will. Sebagai pendatang mereka bertiga benar-benar menjaga etika menghormati tuan rumah, jadi masih menahan diri dengan bersikap sopan.


Lea merasa sedikit jengah, lalu berdiri dan berkata, “Aku ke toilet sebentar.”


Melihat kepergian Lea, maka Will ingin pergi menyusul. Dia berdiri tapi langkahnya di ikuti oleh wanita yang bernama Eva itu. Tiba-tiba saja dia menarik Will keluar dari hotel melalui pintu keluar yang lain.


“Nona jaga sikapmu,” hardik Will mulai marah.


Eva terdiam melihat sekeliling, lalu malah menarik kemejanya sampai kancing bajunya terlepas. Will menatapanya dengan tatapan aneh. Merasa jika wanita di depannya sangat aneh maka dia pun berbalik dan pergi.


Eva mulai manarik lengan kemeja sendiri hingga robek, lalu dia menarik Will sehingga bagian belakang Will ada sedikit robek. Dia langsung saja mendorong Eva sampai terjatuh ke tanah. Lalu tanpa di duga Eva mulai berteriak histeris memancing perhatian orang-orang di hotel dan sekitarnya.


Pada saat ini, Lea juga mendengar teriakan histeris itu dan keluar untuk melihat ada apa, Will melangkah mundur sedikit. Sementara Eva semakin menggila. Beberapa sesepuh dan penduduk lainnya langsung menolong Eva, “Ada apa ini?” tanya salah satu dari mereka.


“Dia mencoba memperkuasai-ku,” jawab Eva.


“Aku menuntut dia untuk bertanggung jawab,” ujar Eva lagi sembari mengetatkan jaket yang baru saja dipakaikan ke tubuhnya.


Will terdiam tanpa melepaskan tatapannya kepada Lea, Nona kedua Atkinson itu pun segera maju dan menggenggam tangan Will ketika salah satu dari mereka meminta Will untuk menikahi Eva.


Tak di sangka, disini selain harus menyusun strategi rencana penjualan ternyata dia juga harus Menyusun strategi untuk menyelamatkan Will dari pernikahan mendadak, Dia mengambil ponselnya ingin Menghubungi Nenek Atkinson, dia melihat sebuah nama tertera di ponselnya itu adalah sebuah pesan dari Elliot Foster yang berisi ajakan untuk bertemu. Sedikit merasa ambigu ketika Lea diminta untuk bertemu dengan Elliot di saat dia harus menyelamatkan Will.


Merasa jika sedari awal Will adalah orang yang menemani dia berjuang dari awal, maka dia memilih menolak ajakan bertemu dari Elliot Foster dan lebih memilih berdiri membela Will, pengawal pribadinya. Lea akan melawan semua penduduk desa, seorang diri membuktikan jika pengawal pribadinya itu tidak perlu di paksa menikah.

__ADS_1


__ADS_2