
“Terbuat dari tengkorak manusia?” gumam heran Elliot.
Lin He mendengarkan lalu pergi meninggalkan kamar Elliot dan mulai mencari keberadaan kuil yang Megan katakan, menggunakan petunjuk-petunjuk yang dikatakan Dewi Artefak. Sementara, Megan dan Elliot masih berdiskusi, “Apa masih mau melanjutkan memecahkan kode rahasia ini?”
“Kenapa tidak?” jawab Elliot.
“Ok, ini akan menjadi perjalanan yang tidak mudah,” ujar Megan mengingatkan seraya berkata, “Kita baru berhasil memecahkan satu kode, masih ada tiga lagi menunggu untuk dipecahkan.”
“Apa pun resikonya aku akan terima, bahkan jika kuil itu dikutuk, aku akan tetap datang ke sana,” imbuh yakin Elliot.
“Ok kita hanya tinggal menunggu hasil dari Lin He,” ujar Megan lagi seraya mengajak Elliot untuk sarapan pagi bersama.
“Apa Lin He tidak ikut sarapan dengan kita?” tanya Elliot.
“Tidak perlu, dia sudah memiliki supermarket-nya sendiri,” jawab Megan sembari tertawa.
Di ruang kerja Lin He ada pintu rahasia yang jika dibalik maka akan memperlihatkan sederetan rak-rak yang berisi makanan dan minuman kaleng. Karena itu Megan tidak khawatir jika bocah itu akan kelaparan.
Baru saja Elliot menyesap tetes jus terakhir dari jus jeruknya, Lin He pun tiba di ruang makan dan berkata, “Aku menemukannya.”
“Kuil?” tanya Megan.
Lin He menganguk seraya mengambil roti sandwich yang ada di meja makan, lalu menunjukan ponselnya kepada Megan, “Lihat saja posisinya.”
Melihat sebentar, lalu Megan menunjukannya kepada Elliot, “Ok aku akan pergi ke sana,” ujar Elliot.
“Jika begitu selamat berjuang,” ujar Megan memberikan semangat.
“Nyonya Mo, sepertinya aku membutuhkan bantuanmu lagi!” pinta Elliot.
“Katakan saja, dengan senang hati jika aku bisa membantu,” jawab Megan.
__ADS_1
“Aku membutuhkan alibi,” Imbuh Elliot.
“Ok, aku akan mengurus tentang ini,” jawab Megan yang langsung memahami maksud Elliot jika tidak ingin petualangannya nanti di ketahui orang.
Tidak membutuhkan waktu lama, di sore hari sudah tersebarlah berita jika Elliot Foster menjadi pejabat tinggi di salah satu perusahaan Mo Grup. Megan menciptakan alibi seakan kedatangan Elliot ke USA untuk sebuah urusan bisnis.
Di Stockholm Lea dibuat terkejut bukan main ketika membaca berita itu, “Apakah dia mendapat pekerjaan baru, apa dia akan menetap di sana, lalu bagaimana …” ujar Lea terbata, merasa bingung dengan sikap Elliot saat ini.
Lea menggigit-gigit bibir bawahnya, pada saat ini ponselnya berdering itu adalah panggilan dari Abe, “Aku ada di depan toko,” ujarnya.
“Apa!” tanya Lea sembari melihat keluar jendela ruang kerjanya.
Abe melambaikan tangannya seraya melempar senyuman tampan, sementara satu tangannya memegang sebuket bunga mawar. Lea pun berkata, “Aku akan segera turun.”
Lea megambil tas dan memakai jas panjangnya, lalu turun menemui Abe Foster yang tengah menunggunya di bawah, “Ini untukmu,” ujarnya kepada Lea.
Nenek Atkinson bilang jika semua tergantung kepada keputusan Lea, jadi Abe mencoba menarik perhatian Lea lagi, “Apa mau menemani makan malam?”
Abe pun membukakan pintu mobil, lalu mereka pergi ke restoran untuk makan malam. Segelas anggur di sajikan, Lea menyesapnya sedikit lalu berkata, “Mengapa kau baru datang sekarang di dalam kehidupan Elliot?”
Gerakan tangan Abe yang sedang menyesap minumannya pun terhenti, dia meletakan gelasnya sembari memaksakan senyumannya lalu berkata, “Aku hanyalah anak seorang gundik, Dia adalah akan sah dari pernikahan yang sah.”
Lea menatap serius kepada Abe, memuji keberanian Abe yang mengakui jika dia hanya seorang putra dari wanita simpanan. Lea pun bertanya lagi, “Apa kedatanganmu kali ini ingin menjadi saingan Elliot dan menyingkirkannya?”
Mendengar perkataan Lea, gentian Abe yang tertawa karena Lea memiliki keberanian bertanya hal yang sensitif tanpa berbasa-basi. Pria itu pun menjawab, “Selama ini dia sudah cukup bergeliman kekuasaan dan harta, apakah jika aku ingin dia berbagi denganku adalah suatu hal yang salah?”
Lea pun menyesap anggur dalam gelasnya lagi seraya berkata, “Jika hubungan kalian akrab maka itu akan menjadi hal yang wajar.”
“Wah … kau ini sungguh tidak suka basa-basi ya,” ujar Abe dengan sedikit bercanda.
“Aku tidak pernah bercanda dengan hal-hal serius, aku tidak ingin jadi orang yang dibuli karena menjadi orang yang menganggap ringan suatu masalah,” ujar balik Lea.
__ADS_1
Lea pun mulai berkata tegas, “Tuan Abe Foster, aku tahu kau mendekatiku karena ingin menyakiti Elliot.”
“Jadi apa pun usahamu itu, aku mohon hentikan saja, aku pastikan kau tidak akan bisa menyakiti Elliot dengan menggunakan aku,” imbuh Lea.
Abe semakin mengagumi kecantikan luar dalam Lea, pantas saja Elliot memilih nona kedua Atkinson ini, ternyata memang gadis yang tengah duduk di depannya itu sungguh menawan hati. Abe pun mengangkat kedua tangannya seperti orang yang sudah menyerah.
“Ok, setidaknya berikan aku muka hari ini, kita makan dengan damai lalu aku akan mengantarmu pulang,” ujar Abe.
Merasa sudah mengeluarkan isi hati, maka Lea pun menyetujui permintaan Abe. Setelah selesai makan bersama, Abe pun mengantar pulang Nona kedua Atkinson itu. Pada saat ini Nenek Atkinson sedang tidak di rumah, sedang pergi menjalani cek kesehatan, dan beberapa tidak akan pulang, akan berdiam di kediaman yang lebih dekat untuk ke rumah sakit. Mereka pun sampai, Abe turun membukakan pintu mobil untuk Lea, seraya berkata, “Bolehkah aku memelukmu sebagai ucapan perpisahan, eum … maksudku bukankah aku akan menjadi kakak iparmu?”
Lea pun mengangguk, Abe pun memeluknya sebentar seraya berkata, “Ok, terima kasih untuk hari ini.”
Lea mengangguk lalu masuk ke dalam rumah, kepala pelayan langsung mengambil jas yang dibawa oleh Lea, ‘seraya bertanya apakah ingin makan malam?”
“Tidak perlu, aku sudah makan,” jawabnya dengan sambil sedikit menguap.
Lea pun langsung masuk dan segera ingin tidur. Menjelang tengah malam Abe foster datang, disambut oleh kepala pelayan, “Maaf jika aku datang larut malam begini,” ujarnya.
“Nona kami sudah tidur,” jawab kepala pelayan itu.
“Eum … jadi begini, tadi ketika aku mengantarnya pulang dia memberikan aku kunci kamarnya dan meminta aku datang mala mini.”
“Tapi Tuan …” ujar kepala pelayan itu dengan sedikit terbata ragu.
Abe pun merangkul si kepala pelayan dengan ramah, “Oh ayolah, kau ini seperti tidak pernah muda saja,” bujuk Abe lagi.
“Ini adalah kunci yang diberikan oleh Nonamu kepadaku!” bujuk Abe lagi.
“Apa kau ingin Nona Lea marah kepadamu?” ujar Abe mempengaruhi si kepala pelayan.
“Begini saja, jika kau tidak percaya coba kita cek sama-sama, pasti saat ini pintu kamarnya terkunci, jadi kau bisa percaya jika Nona Lea memang benar memberikan kunci cadangannya kepadaku.”
__ADS_1