
“hufh,” desah Elliot seraya menangkap tubuh kesayangannya itu dengan segenap rasa rindu yang membuncah di dada-nya.
Elliot langsung saja mencium-cium bahu gadisnya itu, memeluk erat lalu menurunkan dari pelukannya, “Apa merindukanku?”
Wajah Lea memerah seraya mengangguk, Elliot sedikit menundukan kepalanya, lalu mencium kilat bibir manis gadisnya itu seraya berkata, “Aku sangat-sangat merindukanmu!”
Keduanya pun saling berpelukan erat lagi, melepaskan rindu selama tidak bertemu. Elliot menggandeng tangan gadisnya itu masuk ke dalam rumah. Sarah yang melihat jika Tuan Foster telah kembali ikut merasa senang dan lega.
Sarah sedikit melihat ke arah, pintu. Mencari sosok yang ingin dia lihat, “Ah tidak ada,” pikirnya.
Elliot menghampiri Cleo. “Terima kasih karena telah menjaga Lea-ku dengan baik!”
“Tidak usah disebut, dia adalah malaikatku. Jadi apa pun yang terjadi aku pasti akan menjaganya!” imbuh Sarah.
“Kau terlihat lelah!” ujar Sarah.
Mendengar perkataan sahabatnya itu, Lara pun memperhatikan wajah Elliot seraya berjinjit. “Ada kantung hitam di bawah matamu!”
“ Tidak perlu khawatir, ini nanti akan hilang!” imbuh Elliot.
Lea menarik tangan Elliot. “Ayo, saatnya kau tidur!”
Dengan patuhnya Tuan Foster mengikuti langkah Lea yang membawanya ke kamar utama. “Mengapa kau selalu bekerja tidak kenal lelah!” ujar Lea sedikit memarahi Elliot dengan tetap sambil menuntun tangan pria itu.
Pada saat ini Hati Elliot terasa sangat tenang sekali mendengarkan Lea berceloteh memarahinya, Daun telinga Elliot seperti menangkap nada-nada indah, lalu mengirimkannya kepada hati sehingga membuat si pemilik hati merasa tenang dan nyaman mendengarkan celoteh dari gadis kesayangannya itu.
Elliot merebahkan dirinya di ranjang besar besprei putih, Lea pun menyelimutinya dan berkata, “Kita bertemu lagi di jam makan siang nanti, ok!”
__ADS_1
Elliot memejamkan matanya, Lea mencium kening pria itu. Lalu dengan langkah yang pelan dia meninggalkan kamar utama itu. Membiarkan Elliot tidur dengan nyenyak, tidak ingin mengganggunya meski dia merasa sendang rindu berat.
“Bagaimana dia?” tanya Cleo.
“Sedang tidur!” jawab Lea.
Cleo berkata lagi, “Dia sedikit terlihat kacau!”
“Iya, sepertinya bisnis yang sedang dijalani sangat berat dan sulit,” kata Lea kepada Sarah.
Begitu Lea keluar dari kamar utama, Elliot membuka matanya. Mengambil ponsel diatas nakas, lalu mulai memberi pesan kepada Arcada, “Tabuhkan genderangnya, biar gaduh ramai!” lalu dia mengirimkan pesan kepada Will. “Atur kencanku dengan Nona Lea, dan bersiap mengakusisi Foster grup.”
Setelah mengirimkan dua pesan penting itu, barulah Elliot memajamkan matanya untuk tidur, setidaknya dia harus mengisi tenaga untuk pergi berkencan nanti dengan gadisnya itu. Sementara, Elliot terpulas nyenyak, di luar sana dunia mata telah geger denga napa yang baru saja menjadi trending topik.
Pada saat ini asisten Abe datang tergopoh, masuk ke ruangan Tuannya itu. “Ada kabar buruk!”
“Aku tahu,” imbuh Abe sambil memperhatikan layer monitor komputernya.
Tidak menunggu waktu lama, beberapa vendor pun banyak menarik kerjasamanya dengan Foster Grup, bahkan semakin bertambah dan mereka tidak berkeberatan membayar penalti berupa denda. Tidak sampai di situ saja, beberapa perwakilan keluarga yang rahasianya dipegang oleh Abe, mulai mendatangi Foster Grup.
“Tuan kami, tidak suka dengan apa yang baru saja terjadi!” ujar salah satu dari perwakilan itu.
Abe pun langsung saja mati-matian mengajak mereka bernegosiasi. Sementara itu kelompok bawah tanah milik Abe sudah mulai diacak-acak oleh kemarahan keluarga yang telah diperas selama ini. Merasa jika rahasia sudah terkuak, jadi mereka tidak perlu menahan diri lagi.
Di kamar utama Elliot, dia terbangun karena mendengar alarm ponselnya. Setelah Lea mengatakan mereka akan bertemu lagi ketika jam makan siang, maka dia langsung saja memasang alarm setengah jam lebih awal dari yang seharusnya.
Elliot segera bangkit berdiri, pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang baru saja dilepas oleh rasa lelah. Setelah wangi rapi dengan baju casualnya, dia keluar dari kamarnya. “Dimana Nona Lea?”
__ADS_1
Kepala pelayan langsung berkata, “Di dapur!”
Elliot yang sudah tidak bisa menahan dirinya, langsung saja mempercepat langkah kakinya menuju ke dapur. Lea sedanh sibuk mengecek makan siang untuk Elliot. Semua masakan hari ini adalah makanan kesukaan pria itu.
Melihat gadis manisnya sedang berdiri, dia langsung saja berjalan mendekat lalu memeluknya dari belakang seraya berbisik, “Aku merindukanmu lagi!”
“Oh ya ampun Tuan Foster, ini di dapur!” ujar Lara seraya melihat ke beberapa pegawai dapur yang sedang menatapi mereka dengan sambil tersipu.
“Memangnya kenapa? Ini dapurku, dan juga kau adalah milik-ku!” Kata Elliot yang malah membalikan tubuh Lara, agar melihatnya lalu berkata, “Ayo kita berdansa!” ujarnya dengan nada yang terdengar senang.
“Apa?” ujar Lea
Ellot langsung saja bernyanyi tembang lawas, sambil membawa tubuh mungil gadisnya itu bergerak mengikuti gerakannya dan terus melantukan lagu romantis. “Sesuatu dimatamu sangat mengundang, sesuatu dalam senyumanmu sangat menggairahkan, sesuatu dihatiku mengatakan bahwa aku harus memilikimu.”
Wajah Lea tersipu malu, diberi gombalan dengan lagu. Lalu Elliot berkata, “Aku tidak ingin menjadi pria yang kesepian tanpa cinta, jadi maukah kau menikah denganku!”
Pegawai dapur langsung terpatung sambil memegang alat masak yang sedang mereka pegang, ada yang memegang kayu penipis adonan, Spatula, panci berisi buah-buahan. Mereka seperti ikut menahan napas bersama Elliot, menunggu jawabaan dari Nona Lea.
Wajah Lea memerah, Cleo yang baru saja masuk juga ikut terpatung ketika melihat Elliot bersimpuh sambil memegang kedua tangan Lea. “Oh ya Ampun, dia sedang dilamar.”
Lea menatap kepada semua orang yang sedang memandangnya, lalu melihat kepada sarah yang sedang mengangguk-anggukan kepalanya. Lea pun tersenyum lalu melihat kepada Elliot yang sedang bersimpuh itu dan menjawab, “Aku bersedia.”
Mendengar jawab dari calon Nyonya Foster itu, sontak saja semua yang di dapur langsung bertepuk tangan dan ikut saling berpelukan. Sementara Elliot langsung mengambil potongan bawang Bombay bulat berukuran kecil, lalu memakaikannya ke jari tangan Lea.
Cleo mendekati keduanya dan berkata, “Wah, selamat ya … cincinnya bagus sekali, sangat epik!” ujarnya sambil sedikit tertawa.
Semua yang ada di sana pun tertawa, hari ini adalah hari yang menggembirakan bagi pasangan itu. Lea menarik tangan Elliot, “Ayo saatnya makan siang!”
__ADS_1
Pada saat ini, Will Armstorng juga tiba di ruang makan, Elliot langsung saja mengangkat satu tangannya. “Nanti saja membahasnya, sekarang saatnya makan siang!” ujarnya seraya memandang kepada Lea.
Gadisnya ini sudah susah paying menyiapkan makan siang dengan menu spesial, jadi mana mungkin dia mendahulukan hal lain. Melihat Will ada di sini, tiba-tiba saja Cleo merasa kikuk canggung.