
Will langsung membawa Lea menemui tuan Brimingham, “Nona Atkinson.”
Mendengar panggilan itu maka Will langsung saja mengkoreksi panggilan dari Tuan Brimingham itu, “Nyonya Armstrong,” ujar Will.
“A-apa … kalian sudah menikah?” tanya Tuan Brimingham.
“Iya baru saja,” jawab Will dengan tersenyum.
“Wah selamat ya atas pernikahan kalian,” ujar Tuan Birmingham.
“Tuan apakah kita bisa melanjutkan riset kami?” tanya Will tanpa berbasa-basi lagi, tidak ingin banyak tahu bagaimana penyelesaian kasus tadi. Meski membenci kejadian itu, tapi malah membawa keberuntungan kepadanya, malah menjadikannya lebih dekat dengan Lea. Jadi dia tidak mau ambil pusing tentang akhir kasus itu.
“Tentu, tentu saja,” jawab Tuan Brimingham.
Setelah berhasil membuktikan jika Will tidak bersalah, maka para penduduk desa itu menaruh hormat kepada Lea, dan percaya dengan riset yang Lea lakukan akan membawa manfaat bagi orang banyak.
Petang pun berganti malam, tanpa di perintah Will dengan inisiatifnya sendiri memindahkan koper dan barang miliknya ke kamar Lea. Ini adalah malam pertama mereka, tapi hanya dilewati dengan keheningan dan kecanggungan saja. Mereka berbaring sambil saling memunggungi sampai pagi. Dan kebiasaan ini masih terulang di hari-hari selanjutnya selama mereka di sini.
Lea dan Samuel sudah menemukan perkembangan yang signifikan di beberapa anak yang menjadi sukarelawan. Di Minggu terakhir mereka di sana beberapa anak sudah menunjukan kemajuan di dalam melafalkan dan membaca kata demi kata.
__ADS_1
Penduduk di sana alangkah senangnya dengan mainan berbasis program Pendidikan ini, mereka pun berjanji akan mempromosikan ini dari mulut ke mulut di semua komunitas yang mereka tahu. Lea tentu saja merasa senang dengan ini, artinya dia sudah bisa memecahkan studi kasus yang tuan Mortgage pinta.
Dia sudah membuat basis bisnisnya, telah menancapkan kaki bisnis Atkinisn di des aini. Dan akan menjalar karena promosi dari mulut ke mulut sudah mulai berjalan. Dan kekurangan dari Prototype yang telah dibuat juga telah tercatat dengan detail.
Setelah ini tugas Samuel dan tim IT lainnya yang akan menyempurnakan jalannya pemograman pada permainan ini. Mereka bertiga akan pulang hari ini, kali ini Lea duduk di depan, Will yang menyetir mobil. Sementara Samuel, terpulas di jok belakang mobil mereka.
Dalam perjalanan pulang, Will dan lea berdiskusi lagi, “Aku memiliki ide agar mainan ini lebih laris lagi.”
“Katakan apa itu?” tanya Lea.
“Kau bilang akan memberikan penghargaan berupa poin?” tanya Will.
“Bagaiman jika poin itu bisa ditukarkan dengan hadiah-hadiah tertentu, poin paling tertinggi jelas akan mendapatkan hadiah yang nilainya sangat tinggi,” usul Will sambil tetap fokus memperhatikan jalan pulang mereka.
Lea terdiam sesaat, memikirkan perkataan Will merasa ada benarnya maka dia pun setuju, “Ide bagus, Mereka bisa menukarkan poin-poin itu di toko Atkinson yang ada di daerah mereka masing-masing. Ah tidak … tidak … bahkan itu akan lebih bagus jika bisa ditukarkan di toko Atkinson mana saja,” ujar Lea bersemangat.
Will mengangkat tipis bibirnya dengan senyum samar, Will mengantarkan Samuel untuk pulang lebih dulu, lalu mereka kembali ke rumah utama Atkinson. Semakin mendekati rumah, semakin hati Lea merasa dag dig dug. Merasa cemas dan gugup bagaimana harus menyampaikan dan menjelaskan tentang pernikahannya ini.
Berpikir apakah Nenek Atkinson akan mencelanya, melepaskan keluarga Baker tapi malah memilih menikah dengan Pria pekerja biasa.
__ADS_1
Meraka pun sampai, Lea turun dari mobil. Melihat pintu rumah besar yang tertutup itu, hatinya pun merasa semakin berdebar kencang.
Lea menoleh kepada Will, lalu dia berkata, “Apa kau sudah siap?”
Will menggenggam tangan Lea, lalu mengajak Lea masuk dengan penuh percaya diri. Di dalam Nenek Atkinson tengah merajut, melihat Lea masuk dia pun meletakan rajutannya itu. Senyuman di wajahnya menghilang ketika melihat Will menggenggam tangan cucunya itu.
“Nenek,” panggil Lea sedikit meragu.
Will pun langsung berkata dengan jantan, “Aku ingin meminta maaf pada Nyonya, karena aku dan Lea menikah tanpa sepengetahuan dan izin dari Nyonya.”
“Apa katamu!?” tanya Nenek Atkinson dengan nada sedikit limbung, bingung, penasaran.
“Nek kami sudah menikah,” ujar Lea memperjelas perkataan Will Armstrong.
“Apa aku sedang tidak salah dengar?” imbuh Nenek Atkinson dengan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
“Kau masuk ke kamar, biarkan aku berbicara dengan Will,” ujar Nenek Atkinson.
Will bertekad apa pun keputusan Nenek Atkinson, dia tetap akan menjadi suami sah dari Lea Atkinson pada akhrinya nanti, dia juga telah memutuskan untuk membantu Lea di dalam mengembangkan strategi pemasaran, bahkan memproduksi produk baru, mainan edukatif bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
__ADS_1