
Lea baru saja selesai mandi, dia mengambil handuk kecil dan mengeringkan rambutnya. Pada saat ini ponselnya berdering. Itu adalah panggilan video Call dari Elliot, "Ya halo," jawabnya.
Seketika saja kedua mata Elliot tidak berkedip melihat wajah segar Lea yang baru saja selesai mandi, rambutnya yang basah, tulang selangka yang indah sedap di pandang mata.
"K-kau ... cantik sekali," puji Elliot.
"Hah!" Jawab Lea seraya mengernyitkan alisnya.
"Eum ... maksudku, apa kau baik-baik saja?" tanya Elliot.
"Tentang artikel itu aku juga membacanya," jelas Elliot lagi.
"Lalu, apa kau mempercayainya?" tanya Lea.
"Tidak, tentu saja tidak. Jika bukan kau yang mengatakan, maka meski presiden sekalipun yang berkata, aku tidak akan pernah mempercayainya," jawab gombal Elliot.
Wajah segar Lea memerah, mendengar gombalan dari Tuan Foster itu. Melihat ini jelas saja hanya membuat Elliot menelan salivanya, kemudian dia berkata lagi, "Apa kau perlu bantuanku?"
"Eum ..." Lea berpikir sejenak lalu berkata lagi, "Tidak perlu."
Merasa jika saat ini kondisi Elliot sama tidak beruntungnya dengan dirinya, karena itu dia lebih memilih menanggung bebannya sendiri. Dia pun berkata, "Apa kau baik-baik saja?"
"Ya tentu saja aku baik-baik saja," jawab Elliot.
"Apa kau sedang mengkhawatirkan aku?" Tanya Elliot lagi.
"Tentu saja khawatir, saat ini kau pasti sedang berjuang keras untuk merintis segalanya dari awal lagi," jawab Lea.
"Eum ... Itu tidak seberat dengan seperti yang kau bayangkan," jawab Elliot lagi.
"Jika kau membutuhkan bantuanku kapan saja, cukup katakan padaku saja,Ok!" ujar Elliot.
__ADS_1
Lea mengangguk seraya memasukan rambut basahnya ke balik daun telinganya. Panggilan Video Call itu pun disudahi. Seperti kehilangan seluruh tenaga, Elliot langsung saja berbaring lemas di ranjang besarnya seraya menyebut-nyebut nama Lea berulang-ulang.
"Nyonya Foster ... kau akan segera menjadi Nyonya Foster," gumam pelan Elliot sembari memeluk bantalnya karena merasa gemas.
Di kediaman Lyra Hank, nampak senyuman yang membingkai wajahnya sedari pagi sepertinya sudah pergi hilang entah kemana. Melihat berita tentang Lea Atkinson yang menghilang tanpa jejak, tentu saja membuat hatinya meradang kesal tidak terkira. Dia pun berjalan ke sana kemari sembari bergumam pelan, "Apakah itu perbuatan Elliot."
"Tidak-tidak mungkin, saat ini tanpa keluarga Foster, maka dia bukanlah apa-apa," pikir Lyra Hank.
"Jika bukan Elliot, lalu siapa?" pikir Lyra lagi.
Lyra masih menebak-nebak siapakah orang yang memiliki kekuatan sebesar itu, menghapus jejak berita hanya dalam satu jam saja. Sementara itu, Will bekerja dengan sangat cepat dan efesien. Dia sudah menemukan tempat tinggal Steven.
Pada saat ini di rumahnya sedang ada pesta bersama teman-temannya, termasuk teman-teman wanita. Meski sudah menua dengan rambut putihnya, tapi soal gaya dia tidak ingin tertinggal dengan yang muda. Semakin tua malah semakin menjadi, Steven selalu menikmati hidup dengan berfoya-foya meski memaksakan diri untuk terlihat mampu.
Tanpa aba-aba, Will dan orang-orangnya menerabas masuk meski tidak diundang. Untuk menarik perhatian, Will mengeluarkan pistolnya lalu menembak sebuah botol yang terpajang di rak paling atas di lemari pajangan yang ada di rumah itu.
Melihat itu, yang di sana pun langsung saja terdiam, ada pula yang gemetaran. Sudah mendapatkan perhatian, Will pun berkata, "Kecuali Tuan Steven, yang lain dipersilahkan keluar!"
"Apa kau mengenal wanita yang ada di foto ini?" tanya Will kepada Steven seraya menunjukan foto ibunya Lea ketika masih muda.
"Aku tidak mengenalnya?" jawab Steven dengan nada sarkas.
Mendengar jawaban Seteven jelas saja mematik kemarahan Will Armstrong, "Ha,ha,ha ... kau ini memang pandai membuat lelucon," ujarnya seraya melayangkan tinju keras di wajah Steven, sehingga membuat pria itu jatuh tersungkur.
Tidak sampai disitu saja, Will langsung menginjak punggung Steven seraya berkata, "Katakan siapa yang membayarmu untuk mengatakan semua kebohongan itu!"
"Kebohongan tentang apa?" tanya Steven masih dalam nada kesal, tidak terima.
"Artikel tentang ibu dari Nona Lea Atkinson," jawab Will.
Dengan nada sarkas Will berkata lagi, "Jika tidak mengenalnya, bagaimana mungkin kau bisa menjalin hubungan dengan ibunya."
__ADS_1
"Mau katakan atau tidak?" tanya Will lagi seraya memukul wajah Steven lagi.
Steven berusaha bangun, dia mengusap darah yang keluar dari ujung bibirnya. Lalu tertawa dan berkata, "Kau bisa membayarku berapa?"
Mendengar perkataan Steven, maka Will semakim yakin jika pria yang terlihat bodoh ini, pastilah dibayar juga untuk mengarang kebohongan tentang Ibunya Lea. Kali ini Will pun enggan berbasa basi busuk lagi.
Dia melihat ke salah satu anak buahnya, yang dengan cepat langsung mengeluarkan sebuah alat yang terbuat dari kayu, masing-masing kayu akan menjempit satu jari tangan. Jika tali di ujung-ujungnya ditarik semakin kencang, maka bambu-bambu kecil yang mengikat jari-jari tangan akan semakin mengecil ketat, menjempit jari-jari tangan orang yang sedang di hukum.
"Aargh," teriak Steven kesakitan. Meski begitu pria itu tetap tidak memberitahukan siapa dalangnya.
Melihat kesombongan Stevan, jelas saja mematik jiwa arogan Will Armstrong. Pada saat ini tidak ada belas kasihan bagi Steven.
"Hancurkan jemari tangannya!" perintah Will kepada bawahannya.
Ketika ujung kayu tersebut ditarik dengan sekencang-kencangnya, Steven berteriak seperti orang yang baru saja kehilangan akal.
Pada akhirnya membuat dia menyerah dan mengatakan jika Nona muda Hank yang meminta dia mengatakan itu semua. Bahkan dia dibayar mahal untuk tidak menyebutkan namanya terlibat dan kenal dengan Steven.
Sudah mendapatkan nama, maka Will berhenti menyiksa Steven. Dia pun bersimpuh di sisi pria itu, seraya berkata, "Lain kali tidak akan ada ampun, jika berani bermain-main dengan nama baik Nona Lea Atkinson!"
Steven mengangguk seraya menahan sakit di kedua tangannya itu, sampai-sampai dia menangis tanpa bersuara. Sudah mendapatkan satu nama, maka Will pun menyudahi misinya. Dia pun langsung saja menghubungi bos besarnya.
"Otak dari semuanya adalah Nona Muda Hank," lapor Will.
"Jika begitu lakukan hal yang sama kepada Grup Hank!" perintah Elliot.
Hal sama yang di maksud adalah, hal yang sama dengan apa yang sedang dilakukan kepada Foster Grup. Membangkrutkan Grup Hank.
Bagi Elliot, siapa saja yang menyerang Lea, maka itu artinya menjadi sebuah ajakan perang baginya. Jadi sudah tentu dia tidak akan tanggung-tanggung untuk membalasnya dengan berlipat-lipat dari apa yang lawan berikan. Memahami perintah Tuannya Will pun segera menjalaninya.
Pekerjaan yang dilakukan akan dua kali lipat lebih berat resikonya. Karena yang akan dipukul balik adalah dua perusahaan yang hampir sama besarnya. Tapi itu tidak akan menghentikan pegasus untuk mendepak mereka semua sampai tersungkur jatuh pecah berkeping.
__ADS_1