
"Selamat pagi Husbu," bisik Alexa di telingan suaminya.
Jarum jam sudah menunjukkan angka 7 pagi, tapi Sean tidak kunjung bangun. Mungkin karena efek begadang hingga jam 3 pagi. Ini semua karena ulah Alexa yang terus menggoda Sean dengan alasan memberikan hadiah setelah dibuat bahagia.
"Tidurlah Lexa, kamu lupa ini wekend hm?" bisik Sean menarik tubuh Alexa agar kembali berbaring, bahkan wanita itu terjatuh di atas tubuhnya.
Alexa buru-buru memegang handuk yang hampir melorot dan memperlihatkan sesuatu yang sering kali Sean mainkan sebelum tidur.
"Husbu, aku sudah mandi jadi bangunlah," pinta Alexa tidak bisa bergerak di atas tubuh Sean.
Pria itu perlahan-lahan membuka matanya, senyum simpul melihat wajah segar sang istri yang berada di atas tubuhnya.
"Memangnya kita mau kemana hm? Sungguh aku lemes banget Lexa."
"Kerumah Bunda, aku sudah janji akan berkunjung setiap wekend, lagipula dirumah ada Kak Delia dan Raymond."
"Lima menit Sayang."
"Tidak, lima menit kamu adalah satu jam!"
"Baiklah."
Meski terasa lemas entah karena apa, Sean tetap saja bangun karena tidak ingin mengacaukan pagi ceria Alexa. Pria itu berjalan sempoyongan menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri.
__ADS_1
Sementara Alexa langsung bersiap-siap agar berangkat lebih cepat kerumah bundanya. Tidak lupa wanita itu mengunjungi kamar Eca. Alexa akan membawa Eca beserta pacarnya agar tidak kesepian dirumah berdua saja.
"Uuwuu cantik dan ganteng, cepat beri aku bayi imut ya," ucapnya menguyel-uyel kepala dua kucing mengemaskan tersebut.
Alexa memasukkan kedalam boks khusus kucing dan meletakkan di atas meja, dia kembali ke kamar dan mendapati suaminya telah rapi dengan setelan casual. Baju kaos oblong dengan celana pendek.
"Ganteng banget Husbu aku," lirih Alexa memeluk Sean dari belakang. Membenamkan pipinya di punggung kekar Sean yang tengah merapikan rambut di depan cermin.
Entahlah, tapi akhir-akhir ini Alexa selalu ingin bermanja-manja dengan suaminya. Mungkin hormon akan datang bulan.
"My Wife aku juga cantik," bisik Sean setelah membalik tubuhnya. Pria itu mengenggam tangan Alexa dan menariknya keluar dari kamar.
***
"Tante Kania!" teriak Serin langsung memeluk Kania yang tengah olah raga didepan rumah. Memang selama tinggal di sini Serin berusaha mengambil hati Kania agar aman dari siapapun.
"Belum, aku baru saja mau membantu kak Delia di dapur. Tunggu di sini tante," sahut Serin dan kembali masuk kerumah.
Pakaian wanita itu sedikit terbuka setiap kali ada dirumah dan itu membuat Delia sangat risih. Bahkan sering kali Delia dan Ricard bertengkar hanya karena Serin. Delia meminta agar pindah rumah saja karena takut Ricard tergoda, tapi Ricard malah menganggap Delia tidak ingin tinggal bersama bundanya.
"Delia," sapa Serin tidak tahu malu.
Delia tidak menyahut dan sibuk membantu pelayan menyiapkan sarapan untuk keluarga suaminya, untung saja Raymond tidak rewel jika diasuh oleh ayahnya.
__ADS_1
"Aku bisa membantu sesuatu?" tanya Serin.
"Tidak ada, duduklah jika kau mau. Atau setidaknya ganti baju kamu," ujar Delia tanpa melirik Serin.
"Tidak apa-apa, aku akan membantumu ... Aaawwww!" teriak Serin ketika tanganya tergores pisau saat akan merebut benda itu dari Delia.
Begitupun tangan Delia terluka karena tingkah ceroboh Serin.
"Apa yang terjadi? Ya ampun tangan kamu terluka Nak," ucap Kania yang baru saja datang ke dapur.
Kania melewati Delia begitu saja dan meraih tangan Serin, padahal tangan mereka sama-sama terluka.
"Tidak apa-apa, sekarang kamu bilas biar tante obati lukamu," ucap Kania membimbing Serin menuju wastafel, membuat Delia harus menyingkir dari sana.
Delia terus menatap interaksi Serin dan mertuanya. Ini sudah sering terjadi sejak Serin tinggal dirumah ini. Delia ada tapi tidak terlihat dimata mertuanya.
Delia membalik tubuhnya memilih untuk pergi daripada sakit hati melihat Kania dan Serin. Langkahnya berhenti melihat Ricard masuk ke dapur, mungkin juga mendengar teriakan.
"Sayang, tangan kamu terluka," ucap Ricard langsung meraih tangan Delia dan menghisap darahnya. "Harusnya kalau terluka seperti ini kamu membersihkannya Lia, bukan malah membiarkannya mengering," omel Ricard.
"Hanya luka kecil, aku tidak apa-apa."
"Kenapa Bunda hanya sibuk dengan wanita itu? Apa Bunda tidak lihat kalau tangan menantu Bunda juga terluka?" tanya Ricard pada bundanya ketika sadar bahwa Kania hanya sibuk memperhatikan Serin.
__ADS_1
...****************...