Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 162 ~ Kosmetik murahan


__ADS_3

Alexa berkacak pinggang memperhatikan tiga bayi yang terlihat mengemaskan, di sampingnya tentu saja ada sang suami dengan setia mengamit pinggangnya posesif.


"Usia mareka hampir 10 hari, tapi kita belum memberikan nama," imbuh Alexa. Wanita itu mantap suaminya dengan senyuman.


"Tenang Sayang, aku sudah menyiapkan nama untuk anak-anak kita." Sean mengecup pipi Alexa tanpa izin dari pemiliknya, membuat Alexa mencebik.


"Nyium mulu perasaan!"


"Sama istri sendiri juga."


Sean menundukkan tubuhnya, lalu menyentuh pipi bayi laki-laki yang berada di sebalah kiri. "Nama putra pertama kita yaitu .... Aidan Graviel Grady ...."


"Jonshonnya mana?" tanya Alexa.


Sean mengelengkan kepalanya. "Itu marga kamu Sayang, sekarang kan anak-anak kita harus pakai marga aku."


"Ah iya aku lupa." Alexa tertawa tanpa dosa. Wanita itu mengalihkan perhatinnya pada boks biru sebelah kanan. "Anak bungsu kita Aiden Graviel Grady."


"Ish keren banget sih nama anak-anak bunda." Mata Alexa berbinar, wanita itu menguyel-uyel pipi tiga bayi yang baru seja terlelap setelah minum asi.


"Aku yang akan memberi nama untuk putri kita. Namanya ... Aily Revalina Grady."


"Aidan, Aiden dan Aily," imbuh Sean.


Sepasang suami istri itu sontak tertawa bahagia setelah berhasil memberikan nama untuk anak-anak mereka.

__ADS_1


Tawa Sean yang membahana harus terhenti ketika ponsel di saku celananya berdering. Pria itu segera menjahui Alexa sebelum menerima telpon dari Arya.


"Kenapa?" tanya Sean.


"Ada seorang pria yang menyebar rumor tentang perusahaan Tuan."


"Amankan dia sebelum ada para pemburu berita yang melihat!"


Sean memutuskan sambungan telpon sepihak, lalu menghampiri istrinya yang tengah mengendong Aidan.


"Kenapa wajah Husbu kesal seperti itu? Siapa yang menelpon?" tanya Alexa.


"Arya. Aku harus ke kantor hari ini."


Sean mengecup kening Alexa juga pipi Aidan sebelum ke kamar mandi untuk mengganti baju dengan setelan formal.


"Eh hampir lupa." Cengir Sean. Pria itu segera mengecup pipi putra dan putrinya sebelum bersiap-siap.


***


Dengan kecepatan penuh, Sean melajukan mobilnya menuju perusahaan karena takut orang yang dimaksud Arya semakin membuat keributan yang akan menyebakan kekacauan.


Tanpa hati-hati Sean membanting setir kemudi memasuki basemen bawah tanah, lalu turun dari mobil. Berjalan menuju lift yang akan langsung membawanya ke lantai paling atas perusahaan.


Pria itu menghela nafas panjang setelah tiba di dalam ruangannya. Dia melihat seorang pria tengah berlutut di depan Arya tanpa bisa berkutik lagi.

__ADS_1


"Tuan!"


"Hm." Sean langsung mendudukkan diri di kursi kebesarannya dengan kaki saling bertumpu. Menatap tajam pria yang entah apa masalahnya dengan Jonshon group.


"Kau butuh uang?" tanya Sean.


Pria yang sedang berlutut semakin menundukkan kepalanya, terlebih sejak tadi tangan Arya berada di pundaknya. Sekali gerak atau memberontak akan membuatnya patah tulang.


"Sepertinya dia disuruh oleh seseorang untuk menyebarkan gosip dilingkungan perusahaan, Tuan. Dia dan beberapa orang yang diamankan dipos jaga terus bertiak mengatakan kosmetik yang baru saja kita luncurkan merusak kulit pemakainya," kata Arya.


"Benar begitu?" Salah satu alis Sean terangkat


"Maaf-maafkan saya Tuan, saya hanya ...."


"Bawa dia kerumah penyekapan, orang sepertinya tidak pantas berkeliaran!" perintah Sean.


Arya menganggukkan kepalanya, lalu menarik kerah baju pria tersebut untuk diserat keluar dari ruangan Sean, sementara Sean sendiri masih setia duduk di kursi kebesarannya.


"Entah siapa lagi yang mencari masalah denganku. Bukannya mendapatkan banyak kenalan sebagai rekan bisnis, melejitnya perusahaan malah membuat musuh semaki banyak," gumam Sean.


Pria itu baru saja ingin hidup dengan tenang bersama istri dan anak-anaknya dirumah, tapi masalah kembali datang. Meski tidak terlalu besar, Sean tidak boleh menyepelakannya.


Dia dan Arya harus tahu perusahaan mana yang berusaha merusak citra baik Jonshon group yang sedang berkembang pesat.


"Siapapun palakunya tidak akan aku lepaskan," gumam Sean.

__ADS_1


Pria itu menyandarkan tubunya pada kursi sambil memejamkan mata. Sudah kepalang meninggalkan rumah, Sean akan menyelesaikan urusan pekerjaan sebelum pulang dan bersenda gurau dengan keluarga kecilnya.



__ADS_2