
"Apa yang kamu katakan Serin? Lexa tidak bisa hamil?" tanya Kania dengan raut wajah tidak percaya.
Wanita paruh baya itu baru saja akan ikut bergabung di meja makan, eh malah mendengar berita yang sangat mengejutkan.
"Tante belum tahu?" tanya Serin dengan raut wajah memprihatin.
Sementara Alexa terlihat sangat tenang dan terus menerima suapan dari suaminya.
"Lexa!" desak Kania.
"Aku harus menjawab apa Bunda? Bukankah Serin sudah mengatakan hal itu, lalu kalau benar kenapa?" tanya Alexa.
"Lexa apa itu benar?" Kini Sean yang bertanya karena terkejut. Harusnya hal seperti ini dirinya yang lebih dulu tahu bukan orang lain.
"Aku bahkan tidak menceritakannya pada siapapun tapi kau mengetahuinya Serin. Aku penasaran, apa selama ini kau menguntit dan menyelidiki tentangku?" tanya Alexa dengan tatapan penuh selidiknya.
"Ak-aku hanya menebak saja. Lagipula kenapa aku harus menyelidiki tentangmu. Aku ke indonesia hanya untuk berlibur, bukan membuat masalah." Serin terlihat gelisah sekarang.
"Sayang apa itu benar?" tanya Kania lagi.
"Memangnya kalau benar kenapa Bunda? Bunda akan membenciku?" tanya Alexa.
Kania mengelengkan kepalanya, wanita itu langsung memeluk Alexa hingga kepala wanita itu menempel di pinggangnya.
__ADS_1
"Tidak Nak, hamil atau tidaknya seorang wanita itu bukanlah sebuah aib. Harusnya hal seperti ini tidak kamu sembunyikan, melainkan memberitahu semua keluargamu agar mendapatkan dukungan dari segala sisi," ucap Kania.
"Hamil atau tidaknya, aku hanya mencintaimu," ucap Sean mengecup punggung tangan Alexa.
Sementara Serin mengepalkan tangannya kuat-kuat. Wanita itu mengira setelah mengungkapkan semuanya, Alexa akan mendapatkan tekanan dari segala sisi termasuk dari Sean sendiri. Tapi lihat yang terjadi, Sean malah terang-terangan memperlihatkan cintanya pada Alexa.
Serin bangkit dari duduknya dan meninggalkan meja makan, dia sangat marah karena semua orang masih berpihak pada Alexa.
Bahkan Kania yang sudah berhasil dia kendalikan dan membenci Delia malah menyayangi Alexa.
"Kau wanita licik yang tidak pantas hidup bahagia Lexa. Kau telah merebut pria yang aku cintai," geram Serin.
***
"Lexa, apa benar yang dikatan Serin tadi? Kenapa tidak memberitahuku sejak awal hm? Aku tidak mau kau ...."
Untung saja mereka berada di dalam kamar jadi tidak akan ada yang melihat.
"Kemarin aku tidak sengaja mendengar Irwan bicara lewat telpon bersama seseorang dan samar-samar aku mendengar dia menyebut nama Serin, jadilah aku memancingnya," jelas Alexa.
Brugh
Posisi kini terbalik, sekarang Seanlah yang menindih tubuh Alexa meski tidak terlalu menindih.
__ADS_1
"Istriku memang pintar jika berbuat licik, tapi berhati-hatilah Sayang, aku tidak mau kau terluka," bisik Sean ditelinga Alexa.
Sontak saja Alexa menoleh dan mengecup bibir Sean. "Aku tidak akan menyakiti diriku sendiri, Husbu."
Alexa mengusap rahang tegas Sean. "Fokuslah pada pekerjaan dan kasus kecelakaan itu Sean, cari sesuatu yang bisa membuktikan kalau Serin dalang dibalik semuanya. Sisinya serahkan padaku, aku akan membuatnya gila tanpa menyentuh," jelas Alexa.
"Licik sekali istrinya Sean."
"Demi mempertahankanmu apapun akan aku lakukan Husbu."
"Demi menjagamu akan kulakukan apapun," balas Sean dengan senyum tampannya.
Pria itu menunduk dan kembali menikmati bibir yang sejak tadi merekah dan menggoda tersebut.
Dalam hatinya, Sean terus mengucapkan syukur berulang kali sebab apa yang dikatakan Serin tidak benar.
Sean bukan takut tidak mendapat keturunan, melainkan takut hal itu malah memicu mental istrinya dan menjadi pendiam.
"Sangat manis seperti biasa," puji Sean mengusap bibir basah yang baru saja dia sesap.
"Dan kau sangat ahli sebeperti biasa." Balas Alexa memuji.
Keduanya tertawa seraya berpulukan erat. Menikmati wekend di dalam kamar Alexa.
__ADS_1
"Apa kita perlu kerumah sakit untuk memeriksakan kesehatanmu?"
"Tidak perlu Sean, rahimku baik-baik saja kata doker."