
Sore yang cerah adalah momen yang pas untuk menikmati waktu bersama pasangan masing-masing. Jalan-jalan berdua adalah hal yang menyenangkan di lakukan disore hari, tapi tidak dengan Alexa yang suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja setelah berkunjung dari rumah sakit.
Wanita itu merasakan sesuatu yang aneh dari gerak-gerik Sean belakangan ini. Alexa menghela nafas panjang sambil memperhatikan Sean dari balkon kamarnya.
Sementara yang diperhatikan sedang berada di samping rumah bersama Ricard dan Arya. Entah apa yang mereka bicarakan, Alexa tidak dapat mendengarnya.
"Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dariku Sean, sayangnya aku kurang peka untuk mengetahuinya," gumam Alexa menatap nanar suaminya yang terlihat sangat serius.
"Semoga apa yang kamu sembunyikan bukanlah hal yang membuat kamu sakit nantinya," lanjut Alexa.
Wanita itu bersedekap dada tanpa melepaskan maniknya pada satu objek saja.
"Lexa, sini!" teriakan seseorang mulai terdengar dari lantai bawah berberangan dengan perginya Arya dan datangnya Delia bersama Raymond.
Alexa hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala sebagai jawaban atas panggilan Sean.
Wanita itu meninggalkan balkon kamar, bukan untuk menemui Sean melainkan Arya yang Alexa yakini masih berada di sekitar rumah.
"Arya!" panggil Alexa sambil berjalan perlahan menuruni anak tangga.
__ADS_1
Arya yang hendak melintas keluar dari rumah, lantas menghentikan langkahnya.
"Ada yang bisa saya bantu Nona?"
"Jujur apa yang terjadi sebenarnya pada Sean, atau saya yang mencari tahu sendiri?" tanya Alexa tanpa basi-basi. Aura wanita itu sangat berbeda sore ini membuat Arya sedikit gugup dan goyah.
"Baiklah sepertinya kamu lebih setia dari yang saya duga." Tanpa menunggu jawaban Arya, Alexa melangkahkan kakinya menuju halaman samping dimana Sean berada.
Sementara Arya menundukkan kepalanya karena merasa tidak berdaya dan dilanda kebimbangan. Disisi lain Arya ingin jujur tentang kondisi Sean pada Alexa, tapi dia juga tidak ingin melanggar perintah Sean.
"Ternyata serumit ini menyimpan sebuah rahasia," gumam Arya. Pria itu membalik tubuhnya dan benar-benar meninggalkan kediaman Jonshon group.
Di belajan dunia lainnya, tepatnya halam samping rumah. Dua pasang kekasih sedang tertawa seperti tidak ada beban di hati masing-masing. Alexa bersikap biasa-biasa saja dihadapan Ricard dan Delia meski ingin rasanya dia menodong Sean berbagai pertanyaan.
"Harus sabar dong tante Exa, sambil nunggu main sama Ray saja," celetuk Delia menirukan suara anak kecil sambil mengoyangkan tangan kecil Raymond.
Hal tersebut membuat Ricard dan Sean tertawa.
"Matahari mulai terbenam, sebaiknya kita masuk!" ajak Ricard mengambil alih Raymond dalam gendongan Alexa.
__ADS_1
"Pelit banget sih!" kesal Alexa.
"Anak-anak aku, kenapa kamu yang repot," imbuh Ricard. Pria itu menjulurkan lidahnya seolah mengejek, membuatnya mendapat cubitan diperut dari Delia.
Sepeninggalan Ricard dan Delia, terjadi keheningan tanpa pergerakan di halam samping rumah. Sebenarnya yang membuat suasana tidak jelas adalah Alexa.
Sean meraih tangan Alexa dan mengoyangkannya ke kanan dan ke kiri.
"Istri aku kenapa hm? Sejak pulang dari rumah sakit jarang banget senyum. Butuh sesuatu?" tanya Sean dengan tatapan penuh cinta.
"Butuh kejujuran!" cetus Alexa dan meninggalkan Sean seorang diri.
Sebenarnya tidak sepenuhnya meninggalkan, Alexa diam-diam masih memperhatikan suaminya dari kejauhan, mau sekesal apapun dia pada Sean, tetap saja rasa cinta dan sayangnya tidak memudar.
"Mungkin dengan bersikap acuh dan seolah-olah tidak peduli, Husbu bisa membuka pikirannya," batin Alexa terus saja memandangi Sean yang tampak terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Kenapa suaminya tidak diajak masuk Sayang?" tegur Kania.
"Tidak apa-apa Bunda, Sean bisa masuk sendiri. Toh hanya kaki yang terluka. Lagipula dia merasa sudah hebat meski terluka," jawab Alexa.
__ADS_1
Kania menghela nafas panjang sambil memperhatikan punggung Alexa yang kian menghilang dibalik pintu.
"Entah apa yang terjadi pada mereka berdua," gumam Kania tidak mengerti lagi menghadapi sikap Alexa yang mulai keras kepala.