
Ricard menyandarkan tubuhnya pada sofa seraya melirik adik kesayangannya.
"Dalam rangka apa dia ingin makan malam bersama? Bukan untuk menji*lat kan?" tanya Ricard dengan alis terangkat.
"Entahlah kak, aku juga tidak tahu. Tapi tidak ada salahnya memenuhi undangan Ziko," celetuk Alexa.
Memang kedatangan Ricard keruangan Alexa atas udangan wanita bermata indah itu sendiri. Bukan alasan lain.
"Menarik juga, mari kita lihat apa yang akan dia lakukan nanti." Ricard bangkit dari duduknya.
Sejak awal Ziko datang kerumahnya untuk melamar Alexa. Ricard dan Kania tidak pernah setuju akan hal itu, tapi mereka berusaha menerima sebab tidak ingin Alexa bersedih. Ricard terlalu menyayangi adiknya, hingga tidak bisa membuatnya menangis meski sedetik saja.
"Kakak akan datang bersama Bunda nanti malam."
Alexa mengangguk dan ikut berdiri untuk mengantar kepergian kakanya. Setelah memastikan Ricard benar-benar pergi, dia melirik Sean yang setia menemani sejak tadi.
"Panggilkan Jesika keruangan aku sakarang, Sean!" perintahnya dan dijawab anggukan oleh Sean.
Pria itu segera meninggalkan ruangan untuk menemui Jesika di meja kerjanya.
"Nona menyuruh kamu keruangannya!" perintah Sean.
"Saya? Untuk apa?" tanya Jesika.
"Mungkin pemecatan," gumam Sean dan berlalu pergi.
Sementara Jesika kini mulai dibanjiri keringat dingin, takut apa yang dikatan Sean benar-benar terjadi. Jesika berlari memasuki ruangan Ziko yang kebetulan tidak terkunci.
__ADS_1
"Ziko, aku harus bagaimana? Alexa memanggil aku keruangannya?" tanya Jesika kebingungan sediri. Dia sungguh takut kehilangan pekerjaanya.
"Alexa?"
"Iya."
"Ayo kita pergi bersama!" ajak Ziko.
***
Alexa menghela nafas panjang melihat dua manusia tidak tahu malu masuk keruangannya. Dia menumpu kakinya dengan kaki lainnya. Melipat tangan di atas meja yang membuatnya terlihat lebih arogant.
"Sayang, kenapa kamu ikut masuk? Aku cuma memanggil Jesika tadi," tanya Alexa yang lebih bermakna peringatan.
"Aku cuma ingin menemuimu Sayang," balas Ziko kicep sendiri padahal tadi berniat membela Jesika di depan Alexa.
Alexa terus menatap Jesika yang terus berdiri karena dia tidak menyuruhnya duduk.
"Tapi saya bukan presdir berhati lembut yang harus memaklumi calon pelakor berkeliaran di perusahaan Jonshon group," sindirnya.
Alexa melempar surat pemecatan di atas meja. "Kau sudah menggoda suami saya, maka tidak ada tempat bagimu di perusahaan ini lagi. Benar begitu Sayang?" Alexa beralih menatap Ziko.
"Be-benar."
"Di atas meja ada dua pilihan. Mengundurkan diri atau pemecatan. Tandatangani salah satunya saja!"
"Tidak! Saya tidak mau menandatanganinya Nona. Saya tidak bersalah dalam hal ini. Tuan Ziko yang ...."
__ADS_1
"Yang?" ulang Alexa.
Jesika terdiam, jika dia menyeret Ziko dalam hal ini dan berakhir dipecat seperti dirinya. Maka mereka tidak akan mendapatkan penghasilan apapun.
Tanpa banyak bicara, Jesika meraih surat pemecatan dan menandatanganinya.
"Apa saya boleh mengambil gambarnya Nona?" tanya Jesika.
"Tentu saja!"
Jesika senyum licik, langsung mengambil gambar surat pemecatan itu. Alexa sangat bodoh karena memberinya kesempatan untuk menghancurkan imagenya sendiri.
Jesika berjanji, besok akan ada berita tentang Alexa. Berita yang akan membuat wanita itu malu untuk menampakkan dirinya di publik.
"Dia berpikir aku tidak bisa mendapatkan pekerjaan? Hah banyak perusahaan yang akan memperebutkan diriku," batin Jesika diam-diam melirik Alexa penuh dendam.
"Sebelum pergi, kau bisa mampir ke HRD untuk mengambil pesangonnya." Alexa tersenyum lebar menatap kepergian Jesika.
Dapat dia tebak sekarang hati wanita itu terbakar dan sebentar lagi akan ada pertengkaran antar pasangan di luar sana.
Alexa beranjak untuk menghampiri Ziko yang duduk anteng di sofa. Naik kepangkuan sang suami tanpa aba-aba lebih dulu.
"Sekarang kamu sudah aman Sayang. Tidak ada lagi yang bisa menggodamu dan merebut kamu dariku," ucap Alexa memainkan dasi Ziko dengan nakal.
"Kamu menyukainya kan?" lanjut Alexa.
"Te-tentu."
__ADS_1