
Alexa turun dari mobil setelah sampai di depan Villa sangat besar tapi terlihat angker. Mungkin karena sudah tidak lama dihuni oleh siapapun.
Langkah Alexa semakin cepat diikuti pria bertopi di belakangnya. Wanita itu membuka pintu Villa perlahan-lahan yang ternyata tidak dikunci.
Samar-samar Alexa mendengar suara teriakan seseorang dari lantai dua. Suaranya mengema sakin kerasnya, Alexa yakini itu adalah suara Serin.
"Pelan-pelan Nona, tangganya licin!" peringatan pria bertopi tersebut. Berdiri satu langkah di belakang Alexa hanya untuk memastikan istri bosnya baik-baik saja.
Langkah Alexa dan Pria bertopi itu berhenti ketika melihat pria lain berdiri sambil bersandar pada daun pintu. Alexa diam di tempatnya, berbeda dengan tangan kanan Sean yang langsung maju dan menarik Arnold dari depan pintu.
"Minggir!" ucap pria bertopi yang ternyata kakak dari Arnold. Sayangnya mereka bekerja di orang yang berbeda. Namun, meski begitu, keduanya tidak pernah membicarakan sesuatu atau bertukar cerita satu sama lain karena konsisten pada pekerjaan masing-masing.
"Tidak ada yang boleh masuk untuk menemuinya!" ucap Arnold memegang pergelangan tangan Alexa yang hendak memutar handel pintu.
Tangan Arnold langsung terlepas sebab tepisan keras Alexa juga tarikan pria bertopi tersebut.
"Ini bukan urusan kamu ataupun aku!" imbuh pria bertopi memojokkan tubuh Arnold ke dinding. "Seharusnya kau menjaga Nona gilamu itu agar tidak menyakiti orang yang telah menyelamatkan keluarga kita!" bisiknya dengan suara dingin membuat Arnold diam membuka tanpa bisa melawan kakaknya sendiri.
__ADS_1
Sementara Alexa telah berhasil masuk ke kamar Serin yang tampak sangat berantakan. Pandangan Alexa tertuju pada Serin yang duduk di sudut ruangan sambil memeluk lututnya.
Perasaan iba tiba-tiba Alexa rasakan melihat sepupu jauhnya seperti itu, tapi hanya berlangsung sebentar saat mengingat suaminya terbaring dirumah sakit karena ulah wanita gila di hadapannya.
"Kenapa? Kenapa kau tega melakukan itu pada suamiku, Serin!" bentak Alexa berjalan mendekati Serin.
Membuat wanita yang baru saja tenang karena suara-suara aneh di telinga sudah pergi, mendongak menatap Alexa. Serin bangun dari duduknya dan menghampiri Alexa. Tatapan wanita itu menyiratkan penyesalan yang membuatnya menderita.
"Le-lexa, maafkan aku karena telah ...." Ucapan Serin berhenti ketika suara-suara aneh kembali berkeliaran di sekitarnya.
Tatapan yang semula memancarkan penyesalan kini menatap penuh kebencian pada Alexa.
"Se-serin apa yang telah kau lakukan bodoh!" bentak Alexa. Susah payah Alexa memberontak hingga akhirnya terbebas dari cekikan Serin.
Kini posisinya berbalik, Alexalah yang mencekik leher Serin dan menahan tubuh wanita itu ke tembok.
"Beraninya kau mencelakai suamiku!" geram Alexa dengan tatapan penuh kebencian. Kekikan Alexa semakin kencang, membuat Serin kesusahan bernafas.
__ADS_1
"Apa kau sudah gila karena cinta hah? Harusnya kau saja yang mati, jangan ajak suamiku!" bentak Alexa dengan mata berkaca-kaca. Dia melepaskan cekikannya dan memberikan tamparan keras di kedua pipi milik Serin.
"Bahkan membunuhmu sekarang tidak akan bisa mengembalikan kondisi suamiku Serin. Kau adalah wanita tergila yang pernah aku kenal!" teriak Alexa.
Sementara Serin meluruhkan tubuhnya kelantai seraya menutup telinganya sambil mengelengkan kepala. Air mata wanita itu ikut mengalir mendengar raungan Alexa.
"Maafkan aku, aku mencintainya," lirih Serin.
"Lalu kenapa kau ingin membunuhnya hah!" bentak Alexa ikut berjongkok dan mencengram rahan Serin yang sudah tidak berdaya lagi.
Selain karena menyesal, dia belum makan apapun sejak pagi meski telah dibawakan makanan oleh Arnold secara diam-diam.
"Aku tidak berniat membunuhnya tapi membunuhmu bodoh. Kenapa kau datang ke sini? Kau ingin menyerahkan nyawamu padaku?"
Alexa senyum sinis, wanita itu membimbing kedua tangan Serin agar melingkar di lehernya. "Cekik aku sekarang juga!" bentak Alexa.
Namun, Serin mengelengkan kepalanya dan menjauhkan tangan dari Alexa. Air mata kembali mengalir di mata Serin karena menyesal telah membuat pria yang dia cintai terbaring di rumah sakit.
__ADS_1
Setelah melihat Sean celaka dengan mata kepalanya sendiri, saat itulah Serin sadar cintanya hanya sebuah obsesi karena mengingingkan kasih sayang dari seorang pria.