
"Eh mau kemana?" Alexa yang hendak menyentuh makanan harus terhenti sebab Eca langsung melompat dari pangkuannya.
Baru saja akan mengejar, Eca telah menarik taplak meja berbahan satin dengan kukunya. Hingga makanan yang baru saja disajikan langsung berhamburan di lantai marmer.
"Astaga Eca apa ini?" Kaget Alexa bukan kepalang. Seumur-umurnya baru kali ini dia melihat Eca mengacaukan sesuatu.
Ricard yang sejak tadi diam saja langsung mengendong Eca yang telah basah karena noda kuah. "Ck, nakal banget sih majikan satu ini," celetuk Ricard. "Bunda duduk di sini, biarkan pelayan membereskan semuanya!" ajak Ricard menarik bundanya agar duduk di meja lain.
Sementara Alexa yang masih terkejut masih saja terdiam hingga deringan ponsel membuyarkan lamunannya.
"Iya halo?"
"Jangan mencicipi apapun Nona, Ziko telah mencampurkan bubuk berbahaya kedalam makanannya."
"Hm, makasih atas informasinya Sean," balas Alexa meski informasi itu sedikit terlambat.
Alexa memutuskan sambungan telpon kemudian menghampiri para pelayan yang tengah membereskan kekacaun. Dia tersenyum, lagi-lagi Eca menyelamatkannya dari marabahaya.
"Ayo kita pergi!" ajak Alexa dengan wajah tenangnya. Bersikap seoalah-olah tidak terjadi sesuatu di restoran tersebut.
"Kalau saja bukan karena Eca makan malam ini tidak akan berantakan," gerutu Ziko melimpahkan kesalahan pada Eca.
__ADS_1
"Sayang, jangan marah-marah seperti itu. Kita bisa makan malam di tempat lain. Lagipula mood aku di restoran ini sudah tidak baik." Alexa mengelus pundak Ziko untuk menenangkan.
"Tidak semudah itu kau bisa melenyapkan keluargaku Ziko. Jangan panggil aku Alexa jika tidak bisa memutar balik keadaan sebanyak 180⁰," batin Alexa.
Wanita bermata indah itu beralih menatap kakak dan bundanya. "Kita makan malam di restoran lain saja Bunda, kak. Sepertinya Eca kurang nyaman di sini."
"Kamu benar Lexa, Eca biasanya tidak berbuat ulah seperti ini jika di ajak jalan-jalan," sahut Kania.
Tidak ada yang marah keculi Ziko tentang kekacauan yang telah diciptakan Eca. Karena kucing itu adalah kesayangan keluarga Jonshon. Kucing yang bisa dikatakan pembawa keberuntungan bagi keluarga Alexa.
"Ayo Sayang, kak Ricard sudah mengurus kerugian restoran," ajak Alexa mengamit lengan suaminya meninggalkan restoran tersebut.
Sementara yang di amit, perasaan sedang tidak baik-baik saja. Lebih tepatnya kesal sebab semua rencana yang dia susun lagi-lagi gagal.
***
"Aku sungguh lelah malam ini," gumam Alexa menghempaskan tubuhnya di atas ranjang setelah berganti baju.
"Sayang, maafin Eca ya?" lanjutnya.
"Hm," gumam Ziko duduk di pinggir ranjang.
__ADS_1
"Jangan cemberut seperti itu. Bunda dan kak Ricard tidak marah kok. Ini juga bukan salah kamu hm?" Alexa bangun hanya untuk mengelus rahang tegas Ziko yang ditumbuhi bulu tipis-tipis.
"Aku merasa malu sama mereka Lexa, harusnya makan malam berjalan lancar."
"Dan kau akan kehilangan orang tersayangmu," lanjut Ziko dalam hati.
"Tidak masalah Sayang."
"Itu malah bagus karena usahamu untuk menyingkirkan bunda dan kak Ricard tidak terjadi. Dadar pria tidak tahu diri. Ingin memiliki sesuatu yang bukan miliknya," lanjut Alexa dalam hati.
***
Sebelah tangan memegang sepotong roti dan sebelahnya lagi bermain ponsel, itulah yang tengah Alexa lakukan di meja makan karena sangat sibuk.
"Sayang, makanlah dulu!" perintah bunda Kania. "Main hpnya bisa sebentar!"
"Sedikit lagi bunda," sahut Alexa tanpa mengalihkan atesinya dari benda pipih yang tengah menampilkan isu-isu miring tentang Jonshon group tentang pemecatan paksa seorang karyawan.
Pagi ini Alexa sengaja tidak berangkat kerja cepat, sebab tidak ada yang penting di pagi hari. Dia akan berangkat jika waktu mendekati makan siang.
"Presdir Jonshon Group memecat sekretaris wakil presdir sebab cemburu tanpa alasan," gumam Alexa membaca artikel serupa yang lewat di berandanya tadi.
__ADS_1
"Bukannya itu perusahaan kita Nak? Ada apa sebenarnya?" tanya Kania penasaran.
"Entahlah Bunda, tapi beritanya ada di mana-mana. Awalnya cuma ada di instagram, tapi sekarang beredar sangat luas."