
Alexa terkejut bukan main saat tubuhnya dipeluk oleh sering cukup erat. Serin menangis dalam pelukannya dan mengumamkan kata maaf berulang kali, hal itu membuat ulu hati Alexa terasa nyeri.
Wanita itu ikut meneteskan air matanya mendengar rancauan tidak jelas dari Serin. Amarah yang sempat berada di ubun-ubun seakan sirna begitu saja.
"Maafkan aku Lexa, aku memang bodoh karena mencintai pria yang tidak pernah mencintaiku. Aku wanita gila penuh akan obsesi," lirih Serin masih memeluk Alexa dengan erat.
Sementara Alexa bergeming di tempatnya tanpa mengeluarkan kalimat apapun.
"Aku terlalu haus kasih sayang seorang pria, aku ingin dimanja seperti perempuan pada umunya. Maafkan aku Lexa." Tangisan Serin semakin pecah.
Penyesalan benar-benar menghampiri Serin setelah berhasil membuat pria yang dia cintai celaka. Ini semua karena obsesinya yang ingin memiliki pria yang bisa mencintai dan menyanyanginya tulus.
Semua yang Serin inginkan ada dalam diri Sean, itulah mengapa dia begitu obsesi.
Alexa melerai pelukannya setelah Serin mulai tenang, wanita itu menghapus air mata sepupunya dan tersenyum. Senyuman tulus untuk orang yang telah mencelakai suaminya.
Sejak dulu, hati Alexa sangatlah lembut dan penyayang, dia jahat hanya karena tuntutan dari orang-orang sekitarnya.
"Berhentilah menangis, aku memaafkan kesalahanmu. Kekurangan kasih sayang memang sering kali membuat seseorang salah dalam melangkah. Ini bukan salah kamu Serin, tapi salah orang tua kamu yang berpisah tanpa peduli apa yang kamu rasakan," imbuh Alexa penuh kelembutan.
"Maaf," lirih Serin. Wanita itu menatap Alexa. "Pergilah sebelum aku lepas kendali lagi, aku membenci suara-suara yang berada di sekitarku!" pinta Serin berusaha menahan diri.
__ADS_1
Alexa mengusap air matanya sambil menganggukkan kepala. "Kesalahan tetaplah keselahan, apa kau mau menyerahkan diri?" tanya Alexa.
Awalnya wanita itu datang menemui Serin karena ingin memberi pelajaran sebelum memasukkan kejeruji besi, tapi setelah melihat keadaan Serin yang sebenarnya, Alexa mengurungkan niatnya.
Serin menganggukkan kepala layaknya orang bodoh, wanita itu benar-benar telah putus asa. "Aku akan menyerahkan diri untuk menebus semua kesalahanku," lirih Serin.
"Terimakasih Serin, semoga suatu hari nanti kita bertemu sebagai sepupu yang akur tanpa dendam," cetus Alexa. Wanita itu bangkit dari jongkoknya karena merasa perutnya sedikit terhimpit.
Saat itulah Arnold dan kakanya juga memasuki kamar.
"Bawa Serin ke kantor polisi dan serahkan semua buktinya, jangan lupa ikut sertakan Ziko dalam hal ini," perintah Alexa dan meninggalkan ruangan yang sangat berantakam tersebut.
"Nona!" panggil Arnold berhasil menghentikan langkah Alexa. Wanita itu membalik tubuhnya menghadap Arnold.
"Kenapa?"
"Maaf karena saya tidak becus menjaga Nona Serin hingga mengakibatkan suami Nona kecelakaan. Tolong maafkan dia!" pinta Arnold tulus.
Alexa tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya. Wanita itu segera masuk ke mobil dan menunggu tangan kanan suaminya menyusul.
"Kau terlalu jauh mencari, Serin. kau terlalu obsesi sampai tidak menyadari ada seseorang yang tulus menjagamu," gumam Alexa yang tatapannya tertuju pada Arnold.
__ADS_1
Pria itu tengah membantu Serin berjalan masuk ke mobil.
"Kita langsung pulang Nona?" tanya tangan kanan Sean yang baru saja masuk ke mobil setelah mengurus Serin.
Alexa mengelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Bawa saya ke rumah penyekapan bertemu dengan Ziko!" pinta Alexa dan di jawab anggukan oleh pria bertopi tersebut.
Alexa menyandarkan tubunya dengan rileks dan menikmati perjalan dengan cahaya matahari yang mulai meredup setiap detiknya. Wanita itu memejamkan mata untuk mentralisir rasa pusing di kepalanya.
"Mari kita selesaikan hari ini agar bisa fokus mengurus Sean," lirih Alexa.
"Baik Nona."
"Kau mengenal pengawal Serin?" Alexa menolehkan kepalanya ke samping kemudi.
Pria bertopi itu mengangguk perlahan meski ada keraguan dalam dirinya. Takut bosnya mengira dia dalang dibalik kecelakaan ini, padahal dia tidak tahu apa-apa.
"Didikan orang tua kalian sangat hebat. Mereka orang tua yang patut di contoh. Membesarkan anak-anaknya menjadi pribadi yang jujur," puji Alexa yang sudah tahu kalau Arnold dan tangan kanan suaminya saudara. Dia mendengarnya tadi.
"Maksud Nona?"
"Tidak ada, fokuslah pada jalanan," sahut Alexa mengalihkan tatapannya keluar jendela.
__ADS_1